Monday, March 29, 2010

Budaya Paskah (Bagian 2): Kelinci Paskah

Jika entry sebelumnya telah membahas mengenai salah satu budaya Paskah, yaitu mengenai telur paskah, kali ini aku mencoba menggali dari berbagai sumber mengapa kelinci merupakan salah satu ikon populer di masa Paskah.

Jujur...aku sebagai pemeluk agama Nasrani merasa tidak setuju dengan banyak tampilnya ikon kelinci ataupun telur di masa Paskah. Walaupun untuk murid-murid Sekolah Minggu, adalah hal yang sangat seru mencari telur yang disebar di berbagai sudut halaman gereja. Karena bagiku pribadi, terutama setelah mengerti dan memaknai keindahan kematian dan kebangkitan Yesus....seharusnya hal itu yang dititikberatkan: cinta kasih Yesus pada manusia sehingga Dia rela memberikan nyawaNYA untuk tebus manusia. Dia yang tidak bersalah, dibuatnya menjadi bersalah.

Ok, kembali ke perihal kelinci paskah...kelinci dipakai sebagai salah satu ikon Paskah karena kelinci adalah simbol kesuburan dan kehidupan baru. Hal ini bisa dilihat dari mudahnya kelinci beranak pinak.

Di zaman kuno, jauh sebelum Zaman Pertengahan di Eropa, kelinci dan telur merupakan simbol kesuburan karena di awal musim semi burung-burung bertelur dan kelinci-kelinci melahirkan banyak anak. Simbol ini berkaitan dengan Eostre, dewi musim semi dan kesuburan dari kepercayaan kuno Jerman. Festival dewi ini diperingati pada hari di mana matahari berada pada titik vernal equinox, yaitu sekitar tanggal 21 Maret. Menurut suatu legenda terkenal, Eostre pernah menyelamatkan seekor burung yang sayapnya membeku saat musim dingin dengan cara menyihirnya menjadi kelinci. Karena dulu kelinci itu adalah seekor burung, sang kelinci pun masih bisa bertelur.

Menurut legenda, kelinci paskah membawa keranjang yang penuh berisi telur, permen, dan mainan yang bewarna-warni ke rumah anak-anak pada malam Paskah. Kelinci Paskah itu akan entah menaruh keranjang tersebut di suatu tempat atau menyembunyikannya di dalam rumah anak itu agar supaya sang anak keesokan paginya mencarinya. Kelinci Paskah memiliki kemiripan-kemiripan dengan Sinterklas yang membawa hadiah untuk anak-anak yang tidak nakal pada malam sebelum hari Paskah/Natal. Sumber legenda tersebut bervariasi, namun kelinci tersebut sudah dikenal sejak 1600; beberapa sumber menyebutkan legenda tersebut berasal dari mitos kesuburan, sementara yang lain menghubungkannya dengan peranan kelinci di dalam ikonografi Kristen.

Kelinci Paskah tidak pernah mempunyai makna religius dalam perayaan Paskah, meskipun dagingnya yang putih, kadang-kadang, dikatakan melambangkan kemurnian dan tanpa cela. Gereja tidak pernah memberikan pemberkatan istimewa bagi kelinci.

Kelinci pertama kali dipakai sebagai simbol Paskah di Alsace dan barat daya Jerman. Makanan yang terbentuk dari kue dan gula berbentuk kelinci pertama kali dibuat pada awal 1800-an. Kelinci Paskah kemudian diperkenalkan ke Amerika oleh para imigran Jerman yang mendarat di Pensylvania pada tahun 1700-an. Kedatangan Osterhase pada malam Paskah selalu dinantikan anak-anak, hampir sama seperti menanti kedatangan Sinterklas.

Sesuai tradisi, anak-anak membuat sarang kelinci yang berwarna-warni di pojok tersembunyi. Jika mereka berkelakuan baik, maka Osterhase akan menaruh telur di dalam sarang itu. Seiring waktu, sarang diganti menjadi keranjang anyam dan tempat tersembunyi diganti dengan serunya mencari tempat disembunyikannya keranjang anyam tersebut.

0 comments:

Post a Comment