Tuesday, March 30, 2010

Budaya Paskah (Bagian 3 - habis): Domba dan Babi

ANAK DOMBA
Di antara simbol-simbol Paskah yang populer, anak domba adalah yang terpenting dalam perayaan agung ini karena melambangkan Kristus Yesus.

Anak Domba Paskah dengan bendera kemenangan dapat dilihat dalam lukisan-lukisan yang dipasang di rumah-rumah keluarga Eropa.

Doa paling kuno untuk pemberkatan anak domba ditemukan dalam buku ritual abad ketujuh biara Benediktin di Bobbio, Italia.

Menu utama santap malam Paus pada Hari Raya Paskah adalah anak domba panggang. Setelah abad kesepuluh, sebagai ganti anak domba utuh, disajikan potongan-potongan daging yang lebih kecil.

Tradisi kuno anak domba Paskah juga mengilhami umat Kristiani untuk menyajikan daging anak domba sebagai hidangan populer pada masa Paskah. Hingga sekarang, daging anak domba disajikan sebagai menu utama Minggu Paskah di berbagai daerah di Eropa timur. Tetapi, seringkali bentuk-bentuk anak domba kecil terbuat dari mentega, roti atau pun gula-gula menggantikan sajian daging anak domba, dan menjadi hidangan utama jamuan Paskah.

Di abad kuno adalah merupakan tanda keberuntungan jika orang menjumpai anak domba pada masa Paskah. Merupakan takhayul populer bahwa iblis, yang dapat mengambil wujud segala macam binatang, tidak pernah diperkenankan menampakkan diri dalam wujud anak domba karena simbol religiusnya.

BABI
Siapa sangka ternyata babi juga termasuk salah satu simbol Paskah? Daging babi selalu disajikan sebagai hidangan dalam jamuan Paskah tradisional. di berbagai wilayah di Eropa, daging babi panggang masih tetap merupakan jamuan utama tradisional dalam pesta pernikahan dan dalam perayaan-perayaan. Pada masa Paskah, ham asap, juga daging anak domba, menjadi santapan sebagian besar bangsa Eropa sejak masa silam, serta merupakan menu Paskah tradisional di berbagai wilayah.

Babi selalu melambangkan keberuntungan dan kemakmuran di kalangan orang-orang Indo-Eropa. Sisa-sisa pemakaian simbol kuno ini masih tetap hidup di jaman kita sekarang. Celengan anak-anak dalam bentuk babi misalnya, merupakan perwujudan dari tradisi kuno ini.

Monday, March 29, 2010

Budaya Paskah (Bagian 2): Kelinci Paskah

Jika entry sebelumnya telah membahas mengenai salah satu budaya Paskah, yaitu mengenai telur paskah, kali ini aku mencoba menggali dari berbagai sumber mengapa kelinci merupakan salah satu ikon populer di masa Paskah.

Jujur...aku sebagai pemeluk agama Nasrani merasa tidak setuju dengan banyak tampilnya ikon kelinci ataupun telur di masa Paskah. Walaupun untuk murid-murid Sekolah Minggu, adalah hal yang sangat seru mencari telur yang disebar di berbagai sudut halaman gereja. Karena bagiku pribadi, terutama setelah mengerti dan memaknai keindahan kematian dan kebangkitan Yesus....seharusnya hal itu yang dititikberatkan: cinta kasih Yesus pada manusia sehingga Dia rela memberikan nyawaNYA untuk tebus manusia. Dia yang tidak bersalah, dibuatnya menjadi bersalah.

Ok, kembali ke perihal kelinci paskah...kelinci dipakai sebagai salah satu ikon Paskah karena kelinci adalah simbol kesuburan dan kehidupan baru. Hal ini bisa dilihat dari mudahnya kelinci beranak pinak.

Di zaman kuno, jauh sebelum Zaman Pertengahan di Eropa, kelinci dan telur merupakan simbol kesuburan karena di awal musim semi burung-burung bertelur dan kelinci-kelinci melahirkan banyak anak. Simbol ini berkaitan dengan Eostre, dewi musim semi dan kesuburan dari kepercayaan kuno Jerman. Festival dewi ini diperingati pada hari di mana matahari berada pada titik vernal equinox, yaitu sekitar tanggal 21 Maret. Menurut suatu legenda terkenal, Eostre pernah menyelamatkan seekor burung yang sayapnya membeku saat musim dingin dengan cara menyihirnya menjadi kelinci. Karena dulu kelinci itu adalah seekor burung, sang kelinci pun masih bisa bertelur.

Menurut legenda, kelinci paskah membawa keranjang yang penuh berisi telur, permen, dan mainan yang bewarna-warni ke rumah anak-anak pada malam Paskah. Kelinci Paskah itu akan entah menaruh keranjang tersebut di suatu tempat atau menyembunyikannya di dalam rumah anak itu agar supaya sang anak keesokan paginya mencarinya. Kelinci Paskah memiliki kemiripan-kemiripan dengan Sinterklas yang membawa hadiah untuk anak-anak yang tidak nakal pada malam sebelum hari Paskah/Natal. Sumber legenda tersebut bervariasi, namun kelinci tersebut sudah dikenal sejak 1600; beberapa sumber menyebutkan legenda tersebut berasal dari mitos kesuburan, sementara yang lain menghubungkannya dengan peranan kelinci di dalam ikonografi Kristen.

Kelinci Paskah tidak pernah mempunyai makna religius dalam perayaan Paskah, meskipun dagingnya yang putih, kadang-kadang, dikatakan melambangkan kemurnian dan tanpa cela. Gereja tidak pernah memberikan pemberkatan istimewa bagi kelinci.

Kelinci pertama kali dipakai sebagai simbol Paskah di Alsace dan barat daya Jerman. Makanan yang terbentuk dari kue dan gula berbentuk kelinci pertama kali dibuat pada awal 1800-an. Kelinci Paskah kemudian diperkenalkan ke Amerika oleh para imigran Jerman yang mendarat di Pensylvania pada tahun 1700-an. Kedatangan Osterhase pada malam Paskah selalu dinantikan anak-anak, hampir sama seperti menanti kedatangan Sinterklas.

Sesuai tradisi, anak-anak membuat sarang kelinci yang berwarna-warni di pojok tersembunyi. Jika mereka berkelakuan baik, maka Osterhase akan menaruh telur di dalam sarang itu. Seiring waktu, sarang diganti menjadi keranjang anyam dan tempat tersembunyi diganti dengan serunya mencari tempat disembunyikannya keranjang anyam tersebut.

Budaya Paskah (Bagian 1): Telur Paskah

Beberapa hari lagi Jumat Agung dan Paskah menjelang.
Semakin terasa suasana kemenangan karena pada Jumat Agung Yesus menyerahkan nyawaNYA sebagai gantiku dan Paskah Yesus menang melawan maut, sehingga otomatis aku yang percaya padaNYA beroleh bagian dalam kehidupan kekal.
Yang menjadi pertanyaan di dalam kepalaku mengapa justru telur dan kelinci yang menjadi ikon Paskah?
Mengapa bukan salib? Mengapa bukan mahkota duri?
Aku mencoba searching di google dan ini adalah kesimpulan dari hasil googlingku.
Kali ini yang aku coba jabarkan adalah mengenai kebudayaan telur paskah.

Telur paskah berasal dari tradisi kesuburan kaum Indo-Eropa dalam menyambut musim semi. Orang Persia
saling menghadiahkan telur pada saat musim semi yang menandakan dimulainya tahun yang baru. Tradisi ini begitu melekat sehingga sulit dihapus karena memang Paskah biasanya jatuh pada awal musim semi.

Telur dipakai menjadi simbol musim semi karena telur adalah simbol kesuburan. Nama "Easter" sendiri diambil dari nama dewa musim semi - Eostre. Selain itu ada alasan yang sangat praktis menjadikan telur sebagai tanda istimewa Paskah, yaitu karena dulu telur merupakan salah satu makanan pantang selama Masa Prapaskah. Sehingga pada masa Paskah, jumlah telur yang ada sangat banyak.

Tradisi menyembunyikan telur-telur paskah dimulai di Inggris pada abad ke-18. Menurut legenda, hanya anak-anak yang berkelakuan baik yang akan mendapat telur warna-warni di atas jerami yang mereka taruh di dalam topi mereka bersama hadiah-hadiah lain. Kebiasaan ini berakar kuat di Jerman di mana telur-telur disebut Dingeier (telur-telur yang dihutang). Sehingga berkembanglah berbagai macam pantun di Perancis, Jerman, Austria dan Inggris, di mana anak-anak, bahkan hingga sekarang, menuntut telur-telur Paskah sebagai hadiah mereka.

Di beberapa daerah di Irlandia, anak-anak mengumpulkan telur-telur angsa dan bebek sepanjang Pekan Suci, untuk diberikan sebagai hadiah pada Minggu Paskah. Sebelumnya, pada Minggu Palma, mereka membuat sarang-sarang kecil dari batu, dan sepanjang Pekan Suci mereka mengumpulkan sebanyak mungkin telur, menyimpannya dalam sarang-sarang batu mereka yang tersembunyi. Pada Minggu Paskah, mereka memakan semuanya, membaginya dengan anak-anak lain yang masih terlalu kecil untuk mengumpulkan telur-telur mereka sendiri.

Orang-orang dewasa juga memberikan telur-telur sebagai hadiah di Irlandia. Jumlah telur yang akan dihadiahkan ditentukan menurut peribahasa kuno di kalangan rakyat Irlandia: Satu telur untuk pria sejati; dua telur untuk pria terhormat; tiga telur untuk yang miskin; empat telur untuk yang termiskin/pengemis

Pada abad pertengahan, Raja Edward I dari Inggris (1307) memerintahkan agar 450 butir telur direbus menjelang Paskah, diberi warna atau dibungkus dengan daun keemasan kemudian dibagi-bagikan kepada seluruh anggota keluarga kerajaan pada Hari Raya Paskah.

Di kebanyakan negara, telur-telur diberi warna polos dengan pewarna dari tumbuh-tumbuhan. Di kalangan orang Kasdim, Suriah dan Yunani, umat Eastern Ortodhox Church saling menghadiahkan telur-telur berwarna merah yang menyimbolkan darah Kristus. Di daerah-daerah di Jerman dan Austria, hanya telur-telur berwarna hijau saja yang dipergunakan pada Hari Kamis Putih, tetapi telur-telur yang berwarna-warni dipergunakan selama perayaan Paskah. Orang-orang Slavia membuat pola-pola istimewa dengan emas dan perak.

Tradisi telur Paskah berkembang di antara bangsa-bangsa Eropa Utara dan di Asia. Tetapi, di Eropa Selatan dan juga di Amerika Selatan, tradisi telur Paskah tidak pernah menjadi populer.

Membagi-bagikan telur pada Perayaan Paskah akhirnya dapat diterima oleh gereja karena telur memberikan makna religius: adanya kehidupan, di mana Yesus memberikan hidup baru melalui kebangkitanNYA.

Wednesday, March 24, 2010

Depot Gudeg Bu Toegijo

Maaf para pembaca blogku karena akhir-akhir ini selera makanku lagi menggila, jadinya entry blogku sebulan ini kebanyakan mengenai makanan....

Emh, tempat makan yang kali ini akan aku referensikan adalah Depot Gudeg Bu Toegijo. Sebenarnya Gudeg merupakan makanan khas Yogyakarta, tapi berhubung aku berdomisili di Surabaya dan Gudeg adalah salah satu menu favoritku, aku jadi hunting di beberapa depot atau warung tenda kaki lima yang menjajakan menu Gudeg. Nah, salah satu penjaja gudeg versi paling oke di lidahku di Surabaya selain Gudeg Ibu Har (Jalan Sulung Surabaya) adalah Depot Gudeg Bu Toegijo.

Adalah Sutaaraito yang pertama kali mengenalkan aku pada Depot Gudeg Bu Toegijo. Dia mengatakan kalau dia sendiri tahu mengenai depot ini dari bosnya yang mengambil kuliah S2 di Unair. Nah, bosnya sendiri tahu dari teman kuliahnya. Jadi sangat jelas di sini, kalau Depot Gudeg Bu Toegijo dikenal melalui berita mulut ke mulut.

Bu Toegijo sudah memulai usahanya sejak 1970. Dia menjadikan teras dan ruang tamu rumahnya yang terletak di kawasan Kertajaya VI A / 46 Surabaya menjadi tempat usaha. Depot Gudeg Bu Toegijo buka mulai Senin - Sabtu (pukul 6 pagi - 6 sore), sedangkan pada hari Minggu buka mulai pukul 6 pagi sampai 1 siang.

Menu favoritku setiap berkunjung ke Depot Gudeg Ibu Toegijo adalah nasi gudeg + cecek + kare / opor ayam + tahu bacem berukuran raksasa (uenak pol)...mantap sekali rasanya, apalagi ditemani segelas jumbo es teh manis beraroma melati atau es jeruk manis yang mengalir segar di tenggorokan...hmmmm, bisa ga peduli deh mertua lewat hahahaha ^_^

Selain menu Nasi Gudeg, Depot Gudeg Bu Toegijo juga menyediakan Nasi Rawon, Nasi Campur, dan Lontong Cap Go Meh yang tak kalah lezatnya. Harga bervariatif sesuai dengan menu tambahan yang dipilih.

Pada awal bulan ini, aku beberapa kali memesan menu Gudeg dari Depot Gudeg Bu Toegijo untuk keperluan training sales seluruh cabang perusahaan. Aku sangat senang karena tidak ada keluhan apapun dari para peserta training mengenai menu yang disajikan, padahal biasanya cabang Makassar dan Medan paling cerewet mengenai menu makanan, begitu juga para jajaran Direksi. Itu artinya menu yang disajikan sesuai dengan lidah seluruh jajaran Direksi perusahaan dan para peserta training.

Seiring perjalanan waktu, saat ini Depot Gudeg Bu Toegijo telah memiliki 3 cabang yang menyebar di Raya Ngagel, Food Court GOCI, dan Pujasera Pring Ijo di Jalan Jemur Sari.