Wednesday, January 18, 2012

Resolusi 2012: Mengurangi Asupan Gula

Sama seperti tahun-tahun sebelumnya, setiap menginjak tahun yang baru aku selalu menetapkan target pada diri sendiri untuk perbaikan diri maupun menata masa depan sekaligus menikmati hidup.

Jika di tahun sebelumnya Tuhan mengijinkanku untuk membeli rumah dan kendaraan baru, juga traveling maka tahun ini aku menetapkan target:
1. Menata keuangan untuk jaminan masa tuaku
2. Perbaikan mutu kesehatan dengan mengurangi asupan gula

Aku tidak akan membahas point pertama, kali ini aku akan menitikberatkan pada point kedua. Aku sangat menyukai segala sesuatu yang manis; entah itu es krim, kue, biskuit, permen, coklat, puding dll. Saking kecanduannya dengan rasa manis, aku tidak pernah lupa membawa permen atau coklat bahkan kue brownies setiap aku bepergian. Rela membawa beban berat, asalkan aku bisa menjamin diriku sendiri untuk me"mamakbiak" yang manis-manis. Intinya aku sangat kecanduan dengan gula. Aku tidak peduli dengan ancaman diabetes dan penyakit-penyakit turunannya.Tapi itu dulu, sekarang aku memutuskan untuk mengurangi asupan gula ke dalam tubuhku. Aku mengambil resolusi ini karena tidak ingin terkena penyakit Diabetes dengan segala komplikasinya.


Adapun langkah yang kutempuh untuk mengurangi asupan gula dalam tubuhku adalah:



  1. Mengurangi mengkonsumsi minuman ringan. Jika biasanya aku minum minuman ringan tiap hari, aku menggantinya dengan minum air putih (ini yang paling berat karena aku kecanduan salah satu merk minuman ringan)

  2. Mengganti permen dan biskuit manis dengan buah

  3. Tidak melewati lorong di supermarket yang menyajikan biskuit, permen, dan coklat

  4. Mengurangi makan karbohidrat

Kelihatannya sepele, namun sebenarnya bukan hal yang mudah untuk dilakukan. Aku harus lakukan untuk kebaikan diriku sendiri. Wish me luck!

Monday, January 16, 2012

Krisis Air: Buah Ketidakpedulian



Seperti biasa, setiap aku selesai makan siang di kantor, aku selalu mencuci perangkat makanku sendiri. Saat itulah aku bertemu dengan salah satu rekan kantor yang sedang mencuci perangkat makannya.

"Lho, mbak, kok kran airnya ga ditutup?" tanyaku.

"Biarin aja, toh ga ikut bayar air," sahutnya cuek sambil terus menyabuni perangkat makannya dengan seksama.

Tak terasa air kran mengalir terus tanpa henti selama 2 menit selagi dia menyabuni perangkat makannya dan 1 menit lagi untuk membilas perangkat makannya.

Memang perusahaan yang membayar tagihan air setiap bulannya, namun alangkah sayangnya jika berliter-liter air terbuang percuma di tengah krisis air bersih yang melanda. Ketidakpedulian terhadap dampak membuang berliter-liter air dengan alasan tidak ikut membayar tagihan adalah sangat egois.


Aku sebut krisis air karena jumlah penduduk di dunia ini bukan semakin berkurang namun cenderung bertambah. Diperkirakan jumlah penduduk dunia akan meningkat 3 kali lipat. Sedangkan ketersediaan air bersih layak minum terbatas.

Tahukah Anda bahwa walaupun bumi 2/3 bagiannya adalah air, namun hanya kurang dari 1% saja yang bisa dikonsumsi oleh manusia? Tahukah Anda seiring peningkatan populasi manusia, kebutuhan akan air bersih meningkat 6x lipat sedangkan sumber air tetap bahkan cenderung menipis? Artinya semakin hari, air akan semakin diperebutkan. Sedangkan air juga dibutuhkan untuk mengairi ladang dan sawah. Tanpa adanya air, sawah dan ladang akan kering dan kita akan digiring memasuki era kelaparan karena tidak adanya sumber pangan. Bisa jadi krisis air dunia terjadi sebelum krisis minyak mentah. Sudah siapkah Anda menghadapinya? Adalah sangat penting untuk menghemat penggunaan air!





Mungkin belum terbersit di bayangan kalau krisis air bisa saja terjadi di masa mendatang, tapi hal itu sudah mulai terjadi. Bisa dilihat di berita koran maupun TV pada saat musim kemarau, sawah dan ladang para petani di Indonesia kekeringan dan kehilangan sumber mata air. Hal itu tidak hanya terjadi di daerah kering NTT, Ambon, tapi bahkan terjadi di Pulau Jawa!

Untuk mencegah hal itu, ada beberapa hal sederhana yang bisa kita lakukan bersama, yaitu:


  1. Menanam pohon agar akarnya dapat mengikat air dalam tanah, namun jangan menanam banyak rumput karena rumput "haus" air

  2. Mandi selama 5 menit saja dan sebisa mungkin menghindari berendam dalam bathtub

  3. Menggunakan deterjen ramah lingkungan yang dapat menghemat penggunaan air untuk membilas pakaian

  4. Menggunakan mesin cuci yang menghemat pemakaian air

  5. Mematikan kran saat sedang mencuci piring atau menyikat gigi (nyalakan kran air pada saat akan menggunakan air saja), membiarkan kran menyala selama 1 menit berarti membuang 1 galon air

  6. Menampung air hujan untuk mencuci kendaraan / pakaian / perangkat makan atau memandikan hewan peliharaan atau membersihkan kamar mandi/mengepel

  7. Menampung air bekas mencuci buah/sayur dan air buangan AC untuk kemudian dipergunakan untuk menyiram tanaman

  8. Mengecek secara berkala dan membenahi saluran air yang bocor

  9. Menggunakan kloset dual flush

  10. Meletakkan botol air di tangki WC untuk mengurangi penggunaan air saat flushing. Dalam 1 hari, kita membuang air sebanyak 2.5 botol galon air bersih hanya untuk membilas toilet. Dengan menggunakan botol air, kita bisa menghemat antara 15-20 liter per hari.

  11. Membuat lubang Biopori: Cara pembuatannya sangat mudah, yaitu dengan membuat lubang berdiameter 10 cm. Lubangnya diisi dengan sampah organik. Saat hujan turun, lubang ini akan terisi air. Air tersebut akan meresap ke dalam tanah dan diikat sebagai sumber air tanah yang nantinya akan kita butuhkan sebagai suplai air bersih.

  12. Memasang talang air: Dengan media penyalur air hujan ini, air hujan disalurkan ke bidang yang lebih rendah, misalnya ke selokan atau/dan ke sumur resapan.

USE WATER WISELY - USE LESS, SAVE MORE

Tuesday, December 20, 2011

BOS WANITA.....siapa takut?




Bertahun-tahun aku terbiasa dengan lingkungan kerja patrialisme, aku menjadi sangat terbiasa tunduk di bawah kepemimpinan dan kebijakan bos laki-laki sehingga pada saat aku harus mutasi dengan atasan wanita, langsung saja aku diperhadapkan dengan mitos bahwa "bos wanita lebih sukar dijinakkan dan banyak maunya".

Dasarnya aku sangat menyukai tantangan, tentu saja aku menganggap mitos itu angin lalu. Malah aku jadikan motivasi untuk bekerja lebih baik lagi.

Benar saja, setelah menjalaninya cukup lama, aku menjadi lebih paham bahwa baik atasan laki-laki maupun wanita memiliki karakteristik kepemimpinan yang berbeda-beda.

Dibandingkan atasan laki-laki yang biasanya cenderung melihat segala sesuatunya berdasarkan sudut pandang yang luas/global, atasan wanita biasanya lebih teliti dalam mengerjakan segala sesuatunya sehingga tentu saja dia akan lebih cerewet dari A-Z untuk mencapai standardisasinya itu. Namun, setelah kita menguasai atau paling tidak tahu standard kerja yang diharapkan olehnya, maka dijamin atasan tidak lagi cerewet.

Ditambah lagi atasan wanita ternyata mampu mengerjakan beberapa hal sekaligus (multitasking). Semisal hal ini bisa dilihat dari kemampuannya memimpin perusahaan sekaligus menjalankan organisasi yang diikutinya dengan baik, dan mengelola rumah tangganya dengan baik.

Tidak dapat dipungkiri bahwa atasan wanita lebih mudah didekati secara emosional, sehingga untuk proses pengajuan ijin keperluan keluarga jauh lebih mudah jika dibandingkan dengan atasan laki-laki. Hal ini terjadi karena metode komunikasi yang diterapkan adalah cenderung bersifat kekeluargaan. Kedekatan emosional ini bisa menjadi kekuatan sekaligus kelemahan atasan wanita. Dikatakan kekuatan jika bawahan dalam taraf tertentu menjalin persahabatan yang cukup akrab dengan atasan wanita, dikatakan kelemahan karena adakalanya perkara di luar kantor bisa terbawa ke ruang kerja atau sebaliknya. Berbeda dengan atasan laki-laki yang cenderung bisa membedakan antara sikap personal dan profesional.

Soal moody? Hmmm......dulu aku berpikir atasan wanita cenderung lebih moody dibanding atasan laki-laki dengan alasan wanita memiliki siklus bulanan yang membuatnya menjadi lebih sensitif. Ternyata itu tidak 100% benar karena mood swing sebenarnya tak hanya dialami wanita, tapi juga pria, apalagi jika tekanan kerja sedang tinggi. Jika ia terlihat sedang uring-uringan, tunda dulu membicarakan masalah sampai mood-nya cerah.

Jadi sejauh ini, aku menikmati bisa bekerja sama dengan atasan wanita. Benar-benar membawa suasana baru yang memacuku untuk bekerja lebih dan lebih baik lagi.

Monday, December 19, 2011

Iklas Menolong = Menyenangkan

Letih. Capek. Penat. Panas menjalar mulai tulang punggung hingga betisku. Jarum jam tanganku telah menunjukkan pukul 7 malam. Satu jam lagi genap 12 jam aku bekerja. Godaan untuk naik taksi pulang ke rumah begitu kuat, toh jalanan sudah tidak terlalu padat. Tapi entah mengapa, akhirnya aku memutuskan untuk naik angkot yang notabene harus oper berkali-kali.

Setelah menempuh perjalanan 10 menit, aku turun dari angkot. Berjalan untuk menuju titik biasanya angkot berikutnya ngetem. Nah, dalam perjalanan menuju titik ngetem angkot, aku beroleh pelajaran hidup.




Begini ceritanya...

Aku melangkahkan kakiku cepat-cepat dan lebar-lebar...kelihatannya sebentar lagi hujan akan turun. Bergegas menyusuri bahu jalan. Sekilas aku melihat seorang kakek dan cucunya duduk di atas sepeda mini. Pemandangan yang biasa. Aku segera berjalan melewati mereka.
Tiba-tiba sang kakek memanggilku lirih.

"Mbak, tolong."

Aku menoleh ke belakang, ke arah mereka. Penuh tatapan tanda tanya dan melangkah ragu mendekati mereka.

"Mbak, tolong," ulang kakek itu lagi.

"Ada apa, pak?"

"Saya punya baju..."katanya memulai percakapan sambil tangannya meraih bungkusan plastik berisi baju hem putih bergaris. Bukan baju baru, namun tampaknya itu baju yang sangat berharga baginya karena tangannya tampak bergetar meraih baju itu dan tatapannya berat. Sepertinya itu baju kesayangannya.

"Saya punya baju, mbak beli ya supaya saya bisa beli beras."

Aku terpaku. Bergantian aku tatap kakek dan cucu itu. Raut wajah mereka tergar menghadapi perjuangan hidup, pantang untuk meminta-minta selama masih bisa berjuang.

"Berapa Bapak butuh untuk beli beras?"

"25 ribu saja."

Haruskah aku membeli baju itu? Untuk apa aku membelinya? Aku jelas tidak membutuhkannya. Namun ada sesuatu dalam hatiku yang mendorongku untuk meraih uang yang ada di dompetku, walaupun saat ini bukan tanggal muda.

"Ini, pak....Bapak simpan saja bajunya untuk Bapak dan gunakan uang ini untuk membeli beras."

Kakek itu menatapku bingung dan setengah tidak percaya.

"Bapak ambil uang ini dan tetap simpan baju Bapak," ulangku.

Aku lalu melangkah berlalu. Perasaan bahagia membuncah di dadaku, menghilangkan seluruh penat dan capekku.

"Terima kasih, mbak," teriak sang kakek setelah aku beberapa langkah darinya. Aku berbalik tersenyum. Melihatnya membekap baju itu. Sang kakek dan cucu tersenyum dari atas sepeda kebo. Aku balas tersenyum seraya melambaikan tangan dan melangkah berlalu.

Terima kasih, Tuhan, Engkau izinkan aku untuk menjadi saluran berkatmu. Terima kasih, Tuhan......sungguh menolong itu menyenangkan.