Monday, January 16, 2012

Krisis Air: Buah Ketidakpedulian



Seperti biasa, setiap aku selesai makan siang di kantor, aku selalu mencuci perangkat makanku sendiri. Saat itulah aku bertemu dengan salah satu rekan kantor yang sedang mencuci perangkat makannya.

"Lho, mbak, kok kran airnya ga ditutup?" tanyaku.

"Biarin aja, toh ga ikut bayar air," sahutnya cuek sambil terus menyabuni perangkat makannya dengan seksama.

Tak terasa air kran mengalir terus tanpa henti selama 2 menit selagi dia menyabuni perangkat makannya dan 1 menit lagi untuk membilas perangkat makannya.

Memang perusahaan yang membayar tagihan air setiap bulannya, namun alangkah sayangnya jika berliter-liter air terbuang percuma di tengah krisis air bersih yang melanda. Ketidakpedulian terhadap dampak membuang berliter-liter air dengan alasan tidak ikut membayar tagihan adalah sangat egois.


Aku sebut krisis air karena jumlah penduduk di dunia ini bukan semakin berkurang namun cenderung bertambah. Diperkirakan jumlah penduduk dunia akan meningkat 3 kali lipat. Sedangkan ketersediaan air bersih layak minum terbatas.

Tahukah Anda bahwa walaupun bumi 2/3 bagiannya adalah air, namun hanya kurang dari 1% saja yang bisa dikonsumsi oleh manusia? Tahukah Anda seiring peningkatan populasi manusia, kebutuhan akan air bersih meningkat 6x lipat sedangkan sumber air tetap bahkan cenderung menipis? Artinya semakin hari, air akan semakin diperebutkan. Sedangkan air juga dibutuhkan untuk mengairi ladang dan sawah. Tanpa adanya air, sawah dan ladang akan kering dan kita akan digiring memasuki era kelaparan karena tidak adanya sumber pangan. Bisa jadi krisis air dunia terjadi sebelum krisis minyak mentah. Sudah siapkah Anda menghadapinya? Adalah sangat penting untuk menghemat penggunaan air!





Mungkin belum terbersit di bayangan kalau krisis air bisa saja terjadi di masa mendatang, tapi hal itu sudah mulai terjadi. Bisa dilihat di berita koran maupun TV pada saat musim kemarau, sawah dan ladang para petani di Indonesia kekeringan dan kehilangan sumber mata air. Hal itu tidak hanya terjadi di daerah kering NTT, Ambon, tapi bahkan terjadi di Pulau Jawa!

Untuk mencegah hal itu, ada beberapa hal sederhana yang bisa kita lakukan bersama, yaitu:


  1. Menanam pohon agar akarnya dapat mengikat air dalam tanah, namun jangan menanam banyak rumput karena rumput "haus" air

  2. Mandi selama 5 menit saja dan sebisa mungkin menghindari berendam dalam bathtub

  3. Menggunakan deterjen ramah lingkungan yang dapat menghemat penggunaan air untuk membilas pakaian

  4. Menggunakan mesin cuci yang menghemat pemakaian air

  5. Mematikan kran saat sedang mencuci piring atau menyikat gigi (nyalakan kran air pada saat akan menggunakan air saja), membiarkan kran menyala selama 1 menit berarti membuang 1 galon air

  6. Menampung air hujan untuk mencuci kendaraan / pakaian / perangkat makan atau memandikan hewan peliharaan atau membersihkan kamar mandi/mengepel

  7. Menampung air bekas mencuci buah/sayur dan air buangan AC untuk kemudian dipergunakan untuk menyiram tanaman

  8. Mengecek secara berkala dan membenahi saluran air yang bocor

  9. Menggunakan kloset dual flush

  10. Meletakkan botol air di tangki WC untuk mengurangi penggunaan air saat flushing. Dalam 1 hari, kita membuang air sebanyak 2.5 botol galon air bersih hanya untuk membilas toilet. Dengan menggunakan botol air, kita bisa menghemat antara 15-20 liter per hari.

  11. Membuat lubang Biopori: Cara pembuatannya sangat mudah, yaitu dengan membuat lubang berdiameter 10 cm. Lubangnya diisi dengan sampah organik. Saat hujan turun, lubang ini akan terisi air. Air tersebut akan meresap ke dalam tanah dan diikat sebagai sumber air tanah yang nantinya akan kita butuhkan sebagai suplai air bersih.

  12. Memasang talang air: Dengan media penyalur air hujan ini, air hujan disalurkan ke bidang yang lebih rendah, misalnya ke selokan atau/dan ke sumur resapan.

USE WATER WISELY - USE LESS, SAVE MORE

0 comments:

Post a Comment