Thursday, August 11, 2011

Foot Note: Wisata di Surabaya


Rasanya agak aneh sudah melanglang buana ke beberapa kota besar di Indonesia, tetapi tidak bercerita mengenai kampung halamanku sendiri. Ya, Surabaya...kota sejarah dengan simbol buaya dan ikan sura mempunyai beberapa sudut menarik untuk dikunjungi.

Kebun Binatang Surabaya
Terlepas dari segala polemik yang terjadi di dalam kepengurusannya dan nasib hewan yang berada di dalamnya (kelaparan dan hilangnya beberapa koleksi satwa), Kebun Binatang Surabaya merupakan salah satu ikon menarik untuk tamasya keluarga.

Terletak di Jalan Setail 1 Surabaya, diapit terminal Joyoboyo dan Hotel Oval. Dulunya lokasi KBS yang pertama di Kaliondo, pada tahun 1916, kemudian pada tanggal 28 September 1917 pindah di Jalan Groedo. Dan pada 1920 pindah ke daerah Darmo atas jasa OOST-JAVA STOOMTRAM MAATSCHAPPIJ atau Maskapai Kereta Api yang mengusahakan lokasi seluas 30.500 m2. Persis di depan gerbang Kebun Binatang Surabaya, terdapat patung yang menjadi ikon kota Pahlawan, yaitu Suro dan Boyo.

Didirikan berdasar SK Gubernur Jenderal Belanda tanggal 31 Agustus 1916 No. 40, dengan nama “Soerabaiasche Planten-en Dierentuin” (Kebun Botani dan Binatang Surabaya) atas jasa seorang jurnalis bernama H.F.K. Kommer yang memiliki hobi mengumpulkan binatang. Dari segi finansial H.F.K Kommer mendapat bantuan dari beberapa orang yang mempunyai modal cukup.


Untuk pertama kali pada bulan April 1918, KBS dibuka namun dengan membayar tanda masuk (karcis). Kemudian akibat biaya operasional yang tinggi, maka pada tanggal 21 Juli 1922 kebun botani / KBS mengalami krisis dan akan dibubarkan, tetapi beberapa dari anggotanya tidak setuju. Pada tahun 1922 dalam rapat pengurus diputuskan untuk membubarkan KBS, tetapi dicegah oleh pihak Kotamadya Surabaya pada waktu itu.


Pada tanggal 11 Mei 1923, rapat anggota di Simpang Restaurant memutuskan untuk mendirikan Perkumpulan Kebun Binatang yang baru, dan ditunjuk W.A. Hompes untuk tinggal didalam kebun dan mengurus segala aktivitas kebun (pimpinan). Bantuan yang besar untuk kelangsungan hidup pada waktu tahun 1927 adalah dari Walikota DIJKERMAN dan anggota dewan A.Van Genrep dapat membujuk DPR Kota Surabaya untuk meraih perhatian terhadap KBS, dengan SK DPR tanggal 3 Juli 1927 dibelilah tanah yang seluas 32.000 m3 sumbangan dari Maskapai Kereta Api (OJS). Tahun 1939 sampai sekarang luas KBS meningkat menjadi 15 hektar dan pada tahun 1940 selesailah pembuatan taman yang luasnya 85.000 m2.


Konon, Kebun Binatang Surabaya / KBS adalah kebun binatang tertua di Asia. Pada 1970 KBS menyandang gelar sebagai kebun binatang dengan koleksi satwa terlengkap se-Asia Tenggara. KBS juga pernah menyandang gelar sebagai kebun binatang terluas dan paling terkenal se-Asia Tenggara.


Cukup membayar tiket masuk sebesar Rp 10.000,- maka pengunjung dengan bebas melangkahkan kaki di area seluas 15 hektar ini. Selain dapat menyaksikan beraneka ragam fauna, pengunjung dapat juga berinteraksi dengan beberapa satwa yang sudah dilatih (kuda, unta, gajah). Kebun Binatang Surabaya buka mulai pukul 7 pagi hingga 5 sore.



Monkasel

Ini adalah salah satu museum unik yang ada di Surabaya. Jika umumnya museum berbentuk bangunan beratap, maka sesuai namanya Monumen Kapal Selam memakai bangkai kapal selam RI Pasopati 401 sebagai bangunan utamanya.

Monumen Kapal Selam atau yang biasa disingkat Monkasel terletak di Jalan Pemuda, persis di tepi sungai Brantas dan di samping Surabaya Plaza. Dengan harga tiket yang hanya Rp 5.000/orang (anak berusia di bawah 3 tahun gratis), pengunjung diajak melihat dan mengalami langsung kehidupan di dalam kapal selam. Terdapat juga cinematografi kapal selam Indonesia.

Di sisi kanan Monkasel terdapat tempat duduk berpayung plus cafe untuk menikmati suasana santai di tepian Sungai Brantas.


Masjid Cheng Ho
Pertama kali aku menjejakkan kaki di masjid ini adalah 2 tahun yang lalu. Saat itu aku berada di lantai 5 gedung RS Adi Husada Undaan Wetan. Saat aku melongok keluar jendela, aku melihat bentuk bangunan yang unik. Rasa penasarankupun timbul sehingga aku kemudian memutuskan untuk berjalan menuju bangunan itu melalui pintu belakang rumah sakit.

Ternyata bangunan itu adalah sebuah masjid....Masjid Cheng Ho. Aku benar-benar kagum arsitektur bangunannya yang unik. Masjid ini didominasi warna merah, hijau, dan kuning. Ornamennya kental nuansa Tiongkok lama. Pintu masuknya menyerupai bentuk pagoda, terdapat juga relief naga dan patung singa dari lilin dengan lafaz Allah dalam huruf Arab di puncak pagoda. Di sisi kiri bangunan terdapat sebuah beduk sebagai pelengkap bangunan masjid.

Masjid Cheng Ho atau Masjid Muhammad Cheng Hoo Surabaya ialah bangunan masjid yang menyerupai kelenteng (rumah ibadah umat Tri Dharma). Gedung ini terletak di areal komplek gedung serba guna PITI (Pembina Imam Tauhid Islam) Jawa Timur Jalan Gading No.2 (Belakang Taman Makam Pahlawan Kusuma Bangsa) Surabaya. Dibangun untuk mengenang perjuangan dan dakwah Laksamana Cheng Hoo dan diresmikan pada 13 Oktober 2002.


Arsitektur Masjid Cheng Ho diilhami Masjid Niu Jie di Beijing yang dibangun pada tahun 996 Masehi. Gaya Niu Jie tampak pada bagian puncak, atau atap utama, dan mahkota masjid. Selebihnya, hasil perpaduan arsitektur Timur Tengah dan budaya lokal Jawa.


Masjid Muhammad Cheng Hoo ini mampu menampung sekitar 200 jama'ah. Masjid Muhammad Cheng Hoo berdiri diatas tanah seluas 21 x 11 meter persegi dengan luas bangunan utama 11 x 9 meter persegi. Masjid Muhammad Cheng Hoo juga memiliki delapan sisi dibagian atas bangunan utama. Ketiga ukuran atau angka itu ada maksudnya. Maknanya adalah angka 11 untuk ukuran Ka'bah saat baru dibangun, angka 9 melambangkan Wali Songo dan angka 8 melambangkan Pat Kwa (keberuntungan/ kejayaan dalam bahasa Tionghoa).


Tugu Pahlawan


Jujur hingga saat ini aku belum pernah menginjakkan kaki di Tugu Pahlawan, jadi belum bisa bercerita banyak soal monumen yang menjadi bukti sejarah perjuangan arek-arek Suroboyo hehehe

House of Sampoerna


Kompleks bangunan megah bergaya kolonial Belanda ini dibangun pada 1862. Awalnya didirikan sebagai panti asuhan putra yang dikelola oleh pemerintah Belanda, lalu dibeli pada 1932 oleh Liem Seeng Tee, pendiri Sampoerna. House of Sampoerna terbagi menjadi 3 bagian: bagian utama di tengah (rumah besar) yang digunakan sebagai museum dan pabrik dan 2 bangunan di kiri dan kanannya yang digunakan sebagai cafe dan gallery.


Di Museum pengunjung disuguhi historikal keluarga pendiri Sampoerna sampai melihat dari dekat fasilitas produksi rokok linting tangan dan berakhir dengan pengalaman tak terlupakan melinting rokok kretek dengan menggunakan alat tradisional.


Oh ya, House of Sampoerna juga menyediakan 1 unit Heritage Shuttle Bus yang dioperasikan secara gratis. Ada 2 rute pilihan, yaitu rute panjang (Jumat - Minggu, sekitar 2 jam perjalanan) dan rute pendek (Selasa - Kamis, sekitar sejam perjalanan). Untuk bisa berkeliling kota Surabaya sambil menyaksikan bangunan-bangunan tua bersejarah, silahkan memesan tiket di: 031-3539000 ext 41142.

Masjid Sunan Ampel



Masjid yang merupakan salah satu obyek wisata religi di Surabaya ini dibangun oleh salah satu Wali Songo, yaitu Sunan Ampel pada tahun 1421 (makam Sunan Ampel terdapat di dalam komplek masjid ini). Masjid ini terletak berdekatan dengan Kampung Arab, sehingga tidak mengherankan jika di sekitar masjid banyak dijumpai penduduk keturunan Arab yang bermata pencaharian sebagai pedagang pernak-pernik religi maupun buah kurma.


Di masa jelang bulan puasa maupun Lebaran, Masjid Ampel ramai dikunjungi oleh para wisatawan maupun para peziarah dari Surabaya maupun luar Surabaya.


Jembatan Suramadu




Salah satu icon yang menjadi kebanggaan kota Surabaya. Jembatan ini diresmikan oleh Presiden Megawati Soekarnoputri pada 20 Agustus 2003. Jembatan sepanjang 5.438 meter yang menghubungkan Surabaya dengan Bangkalan ini merupakan jembatan terpanjang di Indonesia untuk saat ini. Secara pribadi, aku lebih suka view Jembatan Suramadu di kala malam.


Pantai Kenjeran



Jika foto dapat menipu, maka ungkapan ini sangat tepat untuk Pantai Kenjeran. Mohon maaf sebelumnya...walaupun ini adalah tempat wisata yang dibanggakan, bahkan merupakan tempat wisata bagiku sekeluarga sewaktu aku masih kanak-kanak....tapi aku tidak merekomendasikan Pantai Kenjeran kepada teman maupun sanak keluarga yang berkunjung ke Surabaya. Aku malu dengan tingkat polusi sampah dan ketidakterawatan Pantai Kenjeran. Sangat jauh jika harus dibandingkan dengan pengelolaan Pantai Ancol-Jakarta atau Pantai Losari-Makassar.


Setiap pertengahan September, Kya-Kya Kenjeran menjadi ajang Festival Bulan Purnama. Dalam festival yang berlangsung selama sebulan ini, Kya-Kya Kenjeran tampil semarak dengan ribuan lampion. Tahun ini, Festival Bulan Purnama sepertinya akan lebih meriah menyusul dibangunnya Kya-Kya baru di sisi timur pantai.


Belakangan didirikan pula tempat ibadah umat Tri Dharma (Buddha, Kong Fu Tsu, dan Tao) yang megah. Letaknya di dalam kompleks Pantai Ria Kenjeran. Yang mencolok dari bangunan ini adalah patung Dewi Kwan Im Pou Sat setinggi 20 meter beserta pendampingnya: dua anak kecil dan dua pasang dewa. Di bawahnya, meliuk sepasang naga raksasa memperebutkan sebuah bola mustika.


Selain patung Dewi Kwan Im, ada pula patung Buddha atau Dewa Empat Muka (Four Faced Buddha Monument) setinggi sembilan meter (36 meter termasuk kubahnya). Monumen yang diresmikan pada 9 Nopember 2004 ini masuk Museum Rekor Indonesia (MURI) sebagai patung Buddha terbesar dan tertinggi di Indonesia. Bangunan ini menempati lahan seluas 225 meter persegi diapit empat ekor gajah putih di empat penjuru mata angin.


Kenjeran Park juga menyediakan fasilitas futsal indoor dengan kapasitas lebih dari dua lapangan. Bagi yang suka perang-perangan, tersedia wahana blast. Hanya dengan membayar Rp 30 ribu, Anda bisa berperan sebagai pasukan counter terorist. Masih di objek ini, tersedia arena bagi Anda yang gemar kebut-kebutan.

3 comments:

Sutaaraito said...

I never explore Surabaya, I should do it... LOL

sapro flasher said...

kapan rek iso neng suroboyo??

Don Deka said...

Halo mas,
informasinya menarik sekali...
btw mas itu nomor ext untuk shuttle busnya salah, ketika saya berkunjung kesana ternyata nomor extnya 24142.
Untuk namanya bukan Heritage Shuttle Bus melainkan Surabaya Heritage Track (SHT)

Terima Kasih

Post a Comment