Tuesday, November 20, 2012

Foot Note: Pondok Pelangi - Rante Pao


Untuk kesekian kalinya aku menginjakkan kaki di Tana Toraja. Kali ini bersama seorang teman kantor dengan persiapan yang cenderung mendadak dan apa adanya. Tapi kalau tidak begitu, perjalanan kami mungkin tidak akan seseru ini.


Kami berdua melangkah turun dari bus Litha. Penat menjalar di sekujur tubuh kami karena duduk manis semenjak pukul 21.30 hingga pukul 05.30 wita. Para tukang ojek dan bentor langsung menyambut kami, menawarkan jasa untuk mengantar kami ke penginapan ataupun sekedar menjadi guide berkeliling Tana Toraja. Namun karena sudah tahu letak Wisma Maria 1 yang kutuju tak jauh dari kantor pemasaran Bus Litha, aku menolak secara halus.


Rupanya tidak hanya kami yang merujuk ke Wisma Maria 1, ada sepasang muda mudi yang juga menuju ke sana namun tampaknya mereka belum tahu letak Wisma Maria, jadilah aku mengajak mereka berjalan kaki bersama ke Wisma Maria.


Begitu tiba di Wisma Maria, kami menjumpai papan "FULL" yang tergantung di pintu utama penginapan. Tidaklah mengherankan karena saat itu adalah long weekend, pastinya banyak yang ingin berkunjung ke Tana Toraja dan menginap di sana. Ugh, sebalnya Wisma Maria tidak menerima prior phone reservation karena kuota pengunjung yang hendak menginap di Wisma Maria cukup banyak dan Wisma Maria memberlakukan sistem "siapa cepat, dia dapat".

Jadilah akhirnya kami melangkahkan kaki kembali ke Wisma Monika yang terletak bersebrangan dengan Wisma Maria. Sayangnya, Wisma Monika ternyata juga sudah penuh. Pfft....jadi merasa tidak enak hati kepada para "follower" yang kelihatannya baru pertama kali mengunjungi Tana Toraja. Tidak mungkin aku mengajak mereka untuk menginap di Lutha 88 atau Hotel Indra atau Hotel berbintang lainnya karena jiwa kami adalah jiwa backpacker. Tiba-tiba saja, aku teringat hasil browsing penginapan murmer di Rante Pao. Nama Pondok Pelangi langsung terbersit di kepalaku.

Tampak Depan Pondok Pelangi - Rante Pao
Setelah memperoleh petunjuk arah dari pemilik Wisma Monika, kami melangkahkan kaki kembali ke Pondok Pelangi yang terletak di Jalan Pembangunan 11A Rante Pao (Telp. 0423-21167). Wah ternyata letaknya hanya berbeda 1 gang dari Wisma Maria, dekat sekali....tidak sampai 2 menit berjalan kaki, kami sudah tiba di Pondok Pelangi.


Sama seperti Wisma Maria, Pondok Pelangi juga merupakan rumah tinggal yang dimodifikasi menjadi penginapan bagi para backpacker seperti kami. Suasana depan Pondok masih lengang dan pintu utama penginapan masih terkunci, mungkin karena masih terlalu pagi untuk check in. Sedikit harap-harap cemas....semoga masih ada kamar tersedia bagi kami.

Ruang makan yang terletak di samping Pondok Pelangi

Kami melangkah masuk melalui ruang makan yang terletak di samping pondok. Dindingnya terbuat dari perpaduan balok kayu dan anyaman bambu. 2 buah meja panjang terletak di tengah ruangan dan sebuah sofa model L terletak di sudut ruangan. Di dalam ruangan itu terdapat sekeluarga yang hendak bertolak ke Makassar. Sekilas dari logat dan raut wajah khas mereka, aku menyimpulkan mereka berasal dari Indonesia Timur.


Mama Tiara, wanita setengah baya yang tampak ramah langsung menyambut kami. Tampaknya dia pengelola sekaligus pemilik penginapan. Aku bertanya apakah masih ada kamar kosong bagi kami. Kami beruntung karena sekeluarga yang tadi kutemui telah check out, kami bisa memperoleh kamar. Wanita itu bertanya durasi kami akan bermalam di sana. Aku menjawab bahwa aku tidak akan bermalam, hanya butuh kamar mandi sebelum dan sesudah berkeliling Tana Toraja karena pada malam harinya kami akan bertolak kembali ke Makassar. Sebenarnya tarif yang dikenakan untuk menginap adalah Rp 150.000/malam (3 beds), namun karena kami tidak menginap, wanita itu mematok harga Rp 125.000/malam. Hmmm selisih Rp 30.000 dibanding Wisma Maria pikirku, aku segera bernegosiasi. Disepakatilah harga Rp 100.000/malam bagi kami.

Kami dipersilahkan menunggu sejenak sembari ruangan dibersihkan dan dirapikan. Seteko teh manis hangat dan kudapan disajikan kepada kami sembari menanti kamar siap untuk kami tempati.

Setelah beberapa saat, akhirnya kami dipersilahkan memasuki kamar kami. Ruangan kami terletak di lorong dengan jendela di sisi kamar. 3 single bed, meja rias, nakas, dan jemuran handuk mengisi ruangan kamar kami yang dicat putih. Taman mini menghiasi pemandangan luar jendela kamar kami. Kamar mandi mungil berukuran 2 x 2 meter terletak di sudut ruangan kamar kami, kamar mandi bernuansa merah muda dengan bak mandi + kloset duduk (no hot water).

Tampak dalam kamar di Pondok Pelangi - Rante Pao

Lumayan nyaman, bersih, dan homy...Lokasinyapun cukup strategis karena berdekatan dengan jalan utama yang bisa ditempuh dengan 2 menit berjalan kaki. Jika diperkenan memberi nilai dengan range 1 sampai 10, Pondok Pelangi kuberi nilai 7.

Thursday, September 20, 2012

Kista: Pantangan dan Anjuran

Setelah mengetahui ada kista di salah satu indung telurku, aku jadi rajin mengumpulkan informasi mengenai pantangan dan anjuran bagi penderita kista. Informasi ini aku kumpulkan dari sesama penderita kista yang sudah menjalani operasi pengangkatan kista. Berikut hasil rangkumannya:

Pantangan

  1. Gorengan di pinggir jalan karena mayoritas penjaja gorengan tidak mengganti minyak goreng yang dipakai, bahkan ada beberapa oknum yang menambahkan sedotan/plastik agar gorengan yang mereka jajakan tetap renyah dan gurih dalam jangka waktu yang lama.
  2. Minuman bersoda, minuman yang terlalu dingin, dan minuman beralkohol.
  3. Beberapa jenis sayur: tauge, kangkung, sawi putih, dan cabai
  4. Beberapa jenis buah yang mengandung kadar gula tinggi: durian, nangka, kelengkeng, sawo, dan mangga
  5. Daging merah: sapi, kambing, kerbau, babi, dll
  6. Ayam broiller
  7. Segala jenis makanan yang diawetkan/dikalengkan (sosis, nugget, biskuit, ikan asin dan mie instan juga termasuk)
  8. Kedelai dan olahannya (tahu, tempe, susu kedelai, kecap)
  9. Junk food (bye-bye fried chicken dll)
  10. Segala sesuatu yang mengandung MSG atau vetsin
  11. Santan
  12. Seafood (udang, kerang, cumi, dan kepiting)
  13. Kuning telur dan jerohan
  14. Susu sapi 
  15. Makanan / minuman yang memiliki kadar gula yang tinggi
  16. Makanan yang dibakar, makanan yang diberi alas logam karena makanan tersebut memiliki zat karsinogen yang memicu kanker
  17. Asap rokok
  18. Stress karena bisa mempengaruhi produksi hormon

Anjuran 
  1. Gunakan minyak kelapa atau minyak zaitun untuk menggoreng. Ingat untuk hanya mempergunakan minyak goreng 1x saja (sekali pakai, langsung buang. Jangan dipergunakan untuk menggoreng jenis makanan lainnya)
  2. Boleh mengkonsumsi daging ayam kampung, telur ayam kampung, ikan air tawar, dan ikan laut
  3. Boleh mengkonsumsi susu low-fat atau susu non-fat
  4. Boleh mengkonsumsi home-made cake, roti, pudding, salad buah/sayur
  5. Perbanyak minum air putih
  6. Konsumsi juice buah: belimbing, tomat, jambu biji, apel, jeruk, pepaya
  7. Perbanyak konsumsi sayuran: wortel, bit, kubis, pare, brokoli, bawang putih, buncis, leunca, sambung nyawa, bawang putih, dan sayuran hijau lainnya
  8. Akan lebih baik jika mengkonsumsi beras merah
  9. Cukup istirahat

Thursday, August 23, 2012

Foot Note: Bali Sandat Inn 2


Sempat maju mundur untuk merealisasikan ngetrip ke Bali walaupun tiket promo Air Asia sudah ada di tangan sejak akhir tahun lalu. Sempat berpikiran untuk menghanguskan tiket yang sudah ada. Namun 2 minggu sebelum hari H, akhirnya sepakat nekad untuk berangkat. Benar-benar bonek karena sampai H-1 belum cari kamar hotel hahaha

Setelah browsing berbagai website, akhirnya pilihan jatuh ke Bali Sandat Inn 2 yang terletak di Poppies Lane 2 (Jalan Benesari - Kuta, Telp. 0361-762980). Awalnya aku sempat akan reservasi di Beneyasa Beach Inn 2 namun aku urungkan niatku karena referensi yang diberikan oleh beberapa orang yang pernah menginap di sana bernada negatif. Mungkin jika hanya aku saja yang pergi, aku tidak akan keberatan. Namun karena ada 2 orang krucil yang tentunya butuh kenyamanan, aku lebih memilih untuk menginap di Bali Sandat Inn 2.  

Inilah bagian dalam kamar Bali Sandat Inn 2

Bali Sandat Inn 2

View kolam renang Bali Sandat Inn 2 dari kamarku
Bali Sandat Inn 2 cukup bersih, tertata, dan nyaman. Letaknya hanya 5 menit dari Pantai Kuta. Semakin strategis karena di sekitarnya terdapat banyak sekali restoran/depot, ATM BCA/Danamon/Mandiri, travel agent, warnet, pub, Circle K (di depan hotel), and Alfamart (di samping kanan pintu masuk hotel).

Bangunan Bali Sandat Inn 2 terdiri dari 3 lantai. Tiap kamar dilengkapi dengan kamar mandi shower, nakas, meja rias, lemari 2 pintu, dan balkon yang mengarah ke kolam renang. Ada 3 pilihan kamar di Bali Sandat Inn 2, yaitu: kamar yang hanya dilengkapi dengan kipas, kamar yang dilengkapi dengan AC + Hot Water, dan kamar yang dilengkapi dengan AC + Hot Water + TV + Kulkas).

Karena high season, aku hanya dapat kamar dengan fasilitas kipas. Walau hanya kipas yang menempel pada langit-langit kamar, namun tidak terasa gerah karena langit-langit yang tinggi dan balkon berhias bunga bougenville merah muda yang mengarah ke kolam renang membawa kondisi sejuk ke dalam kamar. Hanya saja, penerangan sedikit redup karena watt lampu kecil namun cukup memadai.

Hanya perlu merogoh kocek 165 ribu rupiah/malam untuk kamar dengan fasilitas kipas dan dihuni oleh 2 orang. Sedangkan untuk kamar dengan fasilitas kipas yang dihuni oleh 3 orang dikenai biaya sewa Rp 220.000.  Harga tersebut sudah termasuk pajak dan American breakfast (toast  + omelet/scrambled egg + fresh fruits + coffee/tea). Jika menginginkan fasilitas lebih (AC, Hot Water, TV, dan Kulkas) tentunya harus merogoh kantong lebih dalam. Harga yang sangat bersahabat padahal saat itu bertepatan dengan libur Hari Raya Idul Fitri 1433H. Benar-benar hotel yang murmer di Bali!

Aku merekomendasikan penginapan ini untuk para backpacker dan budget traveler yang berlibur ke Bali.

Friday, July 20, 2012

Foot Note: Ekowisata Manggrove Wonorejo

Aku sangat mencintai alam juga berpetualang dan aku juga sangat percaya bahwa kecintaan pada alam harus ditanamkan sejak usia muda. Nah, berhubung anakku sedang libur kenaikan kelas, aku mengajak kedua anakku untuk mengunjungi spot ekowisata di Surabaya yang belum begitu populer. Yup, Ekowisata Manggrove Wonorejo (EMW) atau juga dikenal dengan nama Wisata Alam Manggrove (WAM). Walaupun kurang populer, ternyata Duta Besar Amerika pernah berkunjung ke tempat ini lho.

Ekowisata Manggrove Wonorejo adalah satu dari dua kawasan manggrove di Indonesia (kawasan lainnya adalah Balikpapan) yang dijadikan percontohan bagi proyek Mangrove Ecosystem Conservation and Sustainable Use (MECS) antara Kementerian Kehutanan (Kemenhut) dengan Japan International Cooperation Agency (JICA)

Petunjuk arah menuju Ekowisata Manggrove Wonorejo
Tidak terlalu sulit untuk mencapai lokasi EMW. Aku menjadikan kampus STIKOM Kedung Baruk (Bukan STIKOM Jemur) Surabaya sebagai patokan. Tinggal mengikuti jalan ke arah pangkalan taxi Orenz. Sepanjang perjalanan kami melewati IPH School, Hotel Teratai, Perumahan Graha Sampurno di sisi kanan jalan, sedangkan di sisi kiri adalah sungai. Ada beberapa petunjuk arah yang disponsori oleh salah satu developer perumahan yang memudahkan calon pengunjung yang belum pernah ke tempat itu.

Gerbang Masuk Ekowisata Manggrove Wonorejo
Gerbang EMW yang terletak di sisi kanan jalan, persis di seberang lokasi perumahan berkonsep regency. Gerbang itu terbuat dari batang-batang bambu yang diikat satu sama lain dan beratapkan alang-alang. Kami harus menyusuri jalan tak beraspal dan bergelombang. Terdapat beberapa kolam pancing di sepanjang perjalanan menuju loket masuk.


Akhirnya kami tiba juga di loket masuk tempat wisata. Jika mengharapkan sesuatu yang "wah" tentulah akan kecewa karena di kisaran loket masuk hanya terdapat tempat parkir, beberapa PK5, dan toilet yang terletak agak terpisah dari loket masuk dan warung-warung PK5.

Tiket masuk Ekowisata Manggrove Wonorejo
"Sempurna", pikirku. Anak-anakku akan tahu seperti apa hutan dan sungai. Mereka akan lebih cepat belajar mengenai ekosistem sungai jika dibandingkan belajar melalui buku. Akupun lalu membeli tiket masuk untuk kami bertiga (IDR 25.000 untuk pengunjung dewasa dan IDR 15.000 untuk pengunjung anak-anak). Sembari menunggu perahu penumpang yang akan kami naiki penuh, kami menikmati sajian mie instan dan membekali diri dengan air mineral untuk selama perjalanan. Berdasarkan informasi yang aku peroleh dari penjual tiket, durasi menyusuri sungai dan hutan bakau pergi-pulang adalah 1 jam.

Mesin diesel perahu penumpang menderu-deru, oleh petugas yang ada kami bertiga dipersilahkan naik ke atas perahu. Aku melihat kilatan semangat penuh keingintahuan di mata kedua anakku dan aku senang melihat hal itu. Petualangan kami pun dimulai...

Dermaga dan perahu kayu yang diperuntukkan bagi para pengunjung WAM

Menyusuri sungai dengan perahu
Perahu penumpang yang kami naiki melaju mulus membelah sungai. Di kanan kiri kami terbentang pepohonan bakau yang rimbun-rimbun. Tumbuhan bakau ini berfungsi untuk mencegah erosi sekaligus sebagai benteng alami terhadap air pasang. Fungsi lainnya adalah akar bakau yang lebat menangkap sisa bahan organik dan endapan dari daratan sehingga laut terjaga kebersihannya. Jika laut bersih, maka ekosistem laut (rumput laut dan terumbu karang akan terpelihara).

Tak jarang burung-burung putih berterbangan dan monyet ekor panjang bertengger di antara rerimbunan tanaman bakau. Sungguh pemandangan yang mengasyikkan. Para penumpang lain yang mayoritas adalah penggemar fotografi menjepretkan kamera mereka untuk mengabadikan pemandangan "tak lazim" di kota Surabaya.

Pemandangan ekosistem hutan bakau
Aku benar-benar menikmati hembusan angin yang menerpa kulit wajahku dan pemandangan di kanan kiriku. Sepertinya aku tidak seorang diri karena kedua anakku dan para penumpang lainnya juga seperti aku. Bahkan kedua anakku nekad duduk di geladak perahu sehingga pandangan mereka tidak terhalang oleh apapun walaupun sebenarnya kami sudah duduk di bangku paling depan.

Jalan setapak yang terbuat dari anyaman bambu
Sungai yang kami susuri membawa kami ke arah laut, kondisi gelombang lebih terasa di bagian ini. Putri sulungku sempat mengeluh pusing karenanya. Untunglah tak lama kemudian perahu berbalik arah dan kemudian menepi. Kami dipersilahkan untuk menyusuri jalan setapak dari anyaman bambu yang membelah hutan bakau. Putri sulungku semangat sekali, jiwa petualangnya bangkit. Dia melontarkan begitu banyak pertanyaan mengenai tanaman bakau, sayangnya pengetahuanku mengenai tanaman bakau masih sangat terbatas.

Jalan setapak bercabang menjadi 2, masing-masing menuju gazebo yang berbeda. Untuk pertama kali kami berjalan menuju gazebo Pertamina. Gazebo Pertamina didirikan atas sumbangsih pertamina untuk penanaman 1000 pohon bakau. Gazebo ini bertingkat 3 dan dalam kondisi yang terawat. Dari sini kami bisa menikmati pemandangan laut dan hutan bakau.

Pembibitan tanaman bakau
Dari gazebo Pertamina, kami berjalan menuju gazebo Polwiltabes. Sebenarnya letak gazebo ini lebih dekat dari tempat perahu kami merapat. Sayangnya kondisi atap gazebo di sana banyak yang berlubang dan gazebo hanya dibangun 1 lantai saja. Namun dari tempat ini kami bisa melihat pembibitan tanaman bakau yang ditanam di batang-batang bambu.

Setelah kami rasa cukup berpetualang, kamipun kembali menuju tempat perahu kami ditambatkan. Anak-anakku berceloteh sepanjang perjalanan menuju dermaga. Mereka menceritakan pengalaman dan pengetahuan baru mereka sekaligus bertanya ini itu kepadaku. Aku senang karena itu artinya misiku berhasil.

Tips:
  1. Waktu berkunjung paling ok adalah pada saat pagi hari atau sore hari kala sinar matahari tidak terlalu terik. Bawalah topi dan kenakan baju yang nyaman.
  2. Bawalah kamera karena banyak view yang menari, jangan seperti aku yang hanya mengandalkan kamera HP hehehe (harap maklum jika hasil jepretan tidak maksimal).
  3. Jika ingin berlama-lama di gazebo, jangan lupa membawa bekal karena di sana tidak ada penjaja makanan atau minuman. Bawalah juga plastik untuk menampung sampah yang tersisa dari makanan dan minuman yang telah konsumsi serta buanglah sampah pada tempatnya! 
  4. Kondisi toilet kurang layak karena tidak menggunakan air PDAM. Untuk pengunjung yang ingin menggunakan fasilitas toilet, ada baiknya membeli air mineral kemasan untuk membasuh atau menggunakan tissue basah. Jangan lupa, buanglah botol kemasan atau tissue basah yang telah terpakai pada tempat sampah yang tersedia!