Friday, December 10, 2010

Pationg

Biasanya aku paling moody kalau sudah menyangkut makanan. Bukan apa-apa sih, semua karena lambungku yang sensitif. Jadi aku benar-benar menjaga apa saja yang boleh masuk ke dalam perutku.

Sewaktu di Tana Toraja, aku tergoda untuk mencoba menu khas daerah sana, yaitu Pationg. Pationg ini ada bermacam-macam jenisnya. Ada yang berisi daging kerbau, ikan bandeng, atau babi. Cara memasak pationg tergolong unik. Sayur singkong + daging dimasak dalam bumbung bambu. Hasilnya bumbu masakan benar-benar meresap dan daging menjadi sangat lembut.

Pertama kali melihat Pationg, jujur aku merasa agak jijik untuk menyantapnya. Penampilannya sungguh tidak meyakinkan, tapi sudah kepalang tanggung memesan pationg ikan bandeng dan babi. Ternyata lezat sekali, terlebih karena menyantapnya dengan tangan (tanpa sendok dan garpu). Mantap sekali bersantap siang di situ karena depotnya memiliki view sawah terasiring dan sungai. Angin pegunungan membelai wajah kami yang gerah setelah menjelajah separuh Tana Toraja bagian selatan.

Teman seperjalananku memesan sate babi. Ternyata sate babinya ukuran jumbo (1 tusuk sate sebanding dengan 10 tusuk sate ayam di Surabaya). Benar-benar porsi jumbo...sepadan dengan energi yang kami keluarkan untuk menjelajah dan melawan hawa dingin di Tana Toraja.

0 comments:

Post a Comment