Showing posts with label Travel. Show all posts
Showing posts with label Travel. Show all posts

Wednesday, November 21, 2012

Foot Note: Bori Parinding

Kalau di belahan dunia Eropa dikenal Stone Edge, ternyata di Indonesia juga mempunyai situs-situs megalithikum serupa. Salah satu situs megalithikum yang dapat dikunjungi terletak di Propinsi Sulawesi Selatan, tepatnya di Rante Pao. Yang terletak 328 KM dari ibu kota propinsi Makassar.

Bilamana mengendarai mobil atau bus dari Makassar, maka durasi perjalanan yang ditempuh adalah kurang lebih 8-10 jam. Perjalanan yang panjang dan berkelok-kelok sesuai dengan kontur tanah pegunungan. Apabila perjalanan dilakukan pada pagi-siang hari, kita dapat menikmati pemandangan Gunung Nona-Enrekang. Namun tidak dapat disangkal perjalanan di pagi-siang hari lebih lama jika dibandingkan dengan perjalanan di malam hari.

Ok, setelah agak melantur sedikit....aku ceritakan lagi tentang salah satu situs favoritku di Tana Toraja: Bori Parinding. Nah, situs ini letaknya di sisi kiri jalan menuju ke puncak (Batutumonga). Diapit oleh rumah-rumah penduduk lokal.

Situs Purbakala: Bori Parinding


Di situs Bori Parinding terdapat banyak sekali batu-batu berukuran raksasa yang lagi-lagi mengingatkan aku akan tokoh Obelix dalam komik Asterix. Menurut keterangan orang-orang lokal, batu-batu raksasa itu sebagai pertanda bilamana telah dilaksanakan upacara penguburan bagi kaum bangsawan.

Untuk memasuki situs ini tidaklah mahal, cukup membayar HTM sebesar Rp 5.000/orang.

Catatan:
  1. Karena lokasi Bori Parinding letaknya cukup jauh dari tengah kota Rante-Pao, ada baiknya membawa bekal minuman dan snack karena jarang ditemui penjaja minuman atau snack di kisaran situs Bori Parinding.
  2. Toilet di situs Bori Parinding kurang terawat kelayakannya dan selalu dalam posisi terkunci. Agar dapat menggunakan fasilitas toilet, bisa meminta bantuan kepada penduduk lokal yang berjaga di loket masuk. Jangan lupa membawa tissue basah / air mineral untuk membasuh.
  3. Waktu yang tepat untuk berkunjung ke situs purbakala Bori Parinding adalah pada saat pagi hari karena matahari tidak terlalu terik. Jika waktu berkunjung siang hari, kenakanlah topi, sun glasses, dan tabir surya.

Tuesday, November 20, 2012

Foot Note: Pondok Pelangi - Rante Pao


Untuk kesekian kalinya aku menginjakkan kaki di Tana Toraja. Kali ini bersama seorang teman kantor dengan persiapan yang cenderung mendadak dan apa adanya. Tapi kalau tidak begitu, perjalanan kami mungkin tidak akan seseru ini.


Kami berdua melangkah turun dari bus Litha. Penat menjalar di sekujur tubuh kami karena duduk manis semenjak pukul 21.30 hingga pukul 05.30 wita. Para tukang ojek dan bentor langsung menyambut kami, menawarkan jasa untuk mengantar kami ke penginapan ataupun sekedar menjadi guide berkeliling Tana Toraja. Namun karena sudah tahu letak Wisma Maria 1 yang kutuju tak jauh dari kantor pemasaran Bus Litha, aku menolak secara halus.


Rupanya tidak hanya kami yang merujuk ke Wisma Maria 1, ada sepasang muda mudi yang juga menuju ke sana namun tampaknya mereka belum tahu letak Wisma Maria, jadilah aku mengajak mereka berjalan kaki bersama ke Wisma Maria.


Begitu tiba di Wisma Maria, kami menjumpai papan "FULL" yang tergantung di pintu utama penginapan. Tidaklah mengherankan karena saat itu adalah long weekend, pastinya banyak yang ingin berkunjung ke Tana Toraja dan menginap di sana. Ugh, sebalnya Wisma Maria tidak menerima prior phone reservation karena kuota pengunjung yang hendak menginap di Wisma Maria cukup banyak dan Wisma Maria memberlakukan sistem "siapa cepat, dia dapat".

Jadilah akhirnya kami melangkahkan kaki kembali ke Wisma Monika yang terletak bersebrangan dengan Wisma Maria. Sayangnya, Wisma Monika ternyata juga sudah penuh. Pfft....jadi merasa tidak enak hati kepada para "follower" yang kelihatannya baru pertama kali mengunjungi Tana Toraja. Tidak mungkin aku mengajak mereka untuk menginap di Lutha 88 atau Hotel Indra atau Hotel berbintang lainnya karena jiwa kami adalah jiwa backpacker. Tiba-tiba saja, aku teringat hasil browsing penginapan murmer di Rante Pao. Nama Pondok Pelangi langsung terbersit di kepalaku.

Tampak Depan Pondok Pelangi - Rante Pao
Setelah memperoleh petunjuk arah dari pemilik Wisma Monika, kami melangkahkan kaki kembali ke Pondok Pelangi yang terletak di Jalan Pembangunan 11A Rante Pao (Telp. 0423-21167). Wah ternyata letaknya hanya berbeda 1 gang dari Wisma Maria, dekat sekali....tidak sampai 2 menit berjalan kaki, kami sudah tiba di Pondok Pelangi.


Sama seperti Wisma Maria, Pondok Pelangi juga merupakan rumah tinggal yang dimodifikasi menjadi penginapan bagi para backpacker seperti kami. Suasana depan Pondok masih lengang dan pintu utama penginapan masih terkunci, mungkin karena masih terlalu pagi untuk check in. Sedikit harap-harap cemas....semoga masih ada kamar tersedia bagi kami.

Ruang makan yang terletak di samping Pondok Pelangi

Kami melangkah masuk melalui ruang makan yang terletak di samping pondok. Dindingnya terbuat dari perpaduan balok kayu dan anyaman bambu. 2 buah meja panjang terletak di tengah ruangan dan sebuah sofa model L terletak di sudut ruangan. Di dalam ruangan itu terdapat sekeluarga yang hendak bertolak ke Makassar. Sekilas dari logat dan raut wajah khas mereka, aku menyimpulkan mereka berasal dari Indonesia Timur.


Mama Tiara, wanita setengah baya yang tampak ramah langsung menyambut kami. Tampaknya dia pengelola sekaligus pemilik penginapan. Aku bertanya apakah masih ada kamar kosong bagi kami. Kami beruntung karena sekeluarga yang tadi kutemui telah check out, kami bisa memperoleh kamar. Wanita itu bertanya durasi kami akan bermalam di sana. Aku menjawab bahwa aku tidak akan bermalam, hanya butuh kamar mandi sebelum dan sesudah berkeliling Tana Toraja karena pada malam harinya kami akan bertolak kembali ke Makassar. Sebenarnya tarif yang dikenakan untuk menginap adalah Rp 150.000/malam (3 beds), namun karena kami tidak menginap, wanita itu mematok harga Rp 125.000/malam. Hmmm selisih Rp 30.000 dibanding Wisma Maria pikirku, aku segera bernegosiasi. Disepakatilah harga Rp 100.000/malam bagi kami.

Kami dipersilahkan menunggu sejenak sembari ruangan dibersihkan dan dirapikan. Seteko teh manis hangat dan kudapan disajikan kepada kami sembari menanti kamar siap untuk kami tempati.

Setelah beberapa saat, akhirnya kami dipersilahkan memasuki kamar kami. Ruangan kami terletak di lorong dengan jendela di sisi kamar. 3 single bed, meja rias, nakas, dan jemuran handuk mengisi ruangan kamar kami yang dicat putih. Taman mini menghiasi pemandangan luar jendela kamar kami. Kamar mandi mungil berukuran 2 x 2 meter terletak di sudut ruangan kamar kami, kamar mandi bernuansa merah muda dengan bak mandi + kloset duduk (no hot water).

Tampak dalam kamar di Pondok Pelangi - Rante Pao

Lumayan nyaman, bersih, dan homy...Lokasinyapun cukup strategis karena berdekatan dengan jalan utama yang bisa ditempuh dengan 2 menit berjalan kaki. Jika diperkenan memberi nilai dengan range 1 sampai 10, Pondok Pelangi kuberi nilai 7.

Thursday, August 23, 2012

Foot Note: Bali Sandat Inn 2


Sempat maju mundur untuk merealisasikan ngetrip ke Bali walaupun tiket promo Air Asia sudah ada di tangan sejak akhir tahun lalu. Sempat berpikiran untuk menghanguskan tiket yang sudah ada. Namun 2 minggu sebelum hari H, akhirnya sepakat nekad untuk berangkat. Benar-benar bonek karena sampai H-1 belum cari kamar hotel hahaha

Setelah browsing berbagai website, akhirnya pilihan jatuh ke Bali Sandat Inn 2 yang terletak di Poppies Lane 2 (Jalan Benesari - Kuta, Telp. 0361-762980). Awalnya aku sempat akan reservasi di Beneyasa Beach Inn 2 namun aku urungkan niatku karena referensi yang diberikan oleh beberapa orang yang pernah menginap di sana bernada negatif. Mungkin jika hanya aku saja yang pergi, aku tidak akan keberatan. Namun karena ada 2 orang krucil yang tentunya butuh kenyamanan, aku lebih memilih untuk menginap di Bali Sandat Inn 2.  

Inilah bagian dalam kamar Bali Sandat Inn 2

Bali Sandat Inn 2

View kolam renang Bali Sandat Inn 2 dari kamarku
Bali Sandat Inn 2 cukup bersih, tertata, dan nyaman. Letaknya hanya 5 menit dari Pantai Kuta. Semakin strategis karena di sekitarnya terdapat banyak sekali restoran/depot, ATM BCA/Danamon/Mandiri, travel agent, warnet, pub, Circle K (di depan hotel), and Alfamart (di samping kanan pintu masuk hotel).

Bangunan Bali Sandat Inn 2 terdiri dari 3 lantai. Tiap kamar dilengkapi dengan kamar mandi shower, nakas, meja rias, lemari 2 pintu, dan balkon yang mengarah ke kolam renang. Ada 3 pilihan kamar di Bali Sandat Inn 2, yaitu: kamar yang hanya dilengkapi dengan kipas, kamar yang dilengkapi dengan AC + Hot Water, dan kamar yang dilengkapi dengan AC + Hot Water + TV + Kulkas).

Karena high season, aku hanya dapat kamar dengan fasilitas kipas. Walau hanya kipas yang menempel pada langit-langit kamar, namun tidak terasa gerah karena langit-langit yang tinggi dan balkon berhias bunga bougenville merah muda yang mengarah ke kolam renang membawa kondisi sejuk ke dalam kamar. Hanya saja, penerangan sedikit redup karena watt lampu kecil namun cukup memadai.

Hanya perlu merogoh kocek 165 ribu rupiah/malam untuk kamar dengan fasilitas kipas dan dihuni oleh 2 orang. Sedangkan untuk kamar dengan fasilitas kipas yang dihuni oleh 3 orang dikenai biaya sewa Rp 220.000.  Harga tersebut sudah termasuk pajak dan American breakfast (toast  + omelet/scrambled egg + fresh fruits + coffee/tea). Jika menginginkan fasilitas lebih (AC, Hot Water, TV, dan Kulkas) tentunya harus merogoh kantong lebih dalam. Harga yang sangat bersahabat padahal saat itu bertepatan dengan libur Hari Raya Idul Fitri 1433H. Benar-benar hotel yang murmer di Bali!

Aku merekomendasikan penginapan ini untuk para backpacker dan budget traveler yang berlibur ke Bali.

Friday, July 20, 2012

Foot Note: Ekowisata Manggrove Wonorejo

Aku sangat mencintai alam juga berpetualang dan aku juga sangat percaya bahwa kecintaan pada alam harus ditanamkan sejak usia muda. Nah, berhubung anakku sedang libur kenaikan kelas, aku mengajak kedua anakku untuk mengunjungi spot ekowisata di Surabaya yang belum begitu populer. Yup, Ekowisata Manggrove Wonorejo (EMW) atau juga dikenal dengan nama Wisata Alam Manggrove (WAM). Walaupun kurang populer, ternyata Duta Besar Amerika pernah berkunjung ke tempat ini lho.

Ekowisata Manggrove Wonorejo adalah satu dari dua kawasan manggrove di Indonesia (kawasan lainnya adalah Balikpapan) yang dijadikan percontohan bagi proyek Mangrove Ecosystem Conservation and Sustainable Use (MECS) antara Kementerian Kehutanan (Kemenhut) dengan Japan International Cooperation Agency (JICA)

Petunjuk arah menuju Ekowisata Manggrove Wonorejo
Tidak terlalu sulit untuk mencapai lokasi EMW. Aku menjadikan kampus STIKOM Kedung Baruk (Bukan STIKOM Jemur) Surabaya sebagai patokan. Tinggal mengikuti jalan ke arah pangkalan taxi Orenz. Sepanjang perjalanan kami melewati IPH School, Hotel Teratai, Perumahan Graha Sampurno di sisi kanan jalan, sedangkan di sisi kiri adalah sungai. Ada beberapa petunjuk arah yang disponsori oleh salah satu developer perumahan yang memudahkan calon pengunjung yang belum pernah ke tempat itu.

Gerbang Masuk Ekowisata Manggrove Wonorejo
Gerbang EMW yang terletak di sisi kanan jalan, persis di seberang lokasi perumahan berkonsep regency. Gerbang itu terbuat dari batang-batang bambu yang diikat satu sama lain dan beratapkan alang-alang. Kami harus menyusuri jalan tak beraspal dan bergelombang. Terdapat beberapa kolam pancing di sepanjang perjalanan menuju loket masuk.


Akhirnya kami tiba juga di loket masuk tempat wisata. Jika mengharapkan sesuatu yang "wah" tentulah akan kecewa karena di kisaran loket masuk hanya terdapat tempat parkir, beberapa PK5, dan toilet yang terletak agak terpisah dari loket masuk dan warung-warung PK5.

Tiket masuk Ekowisata Manggrove Wonorejo
"Sempurna", pikirku. Anak-anakku akan tahu seperti apa hutan dan sungai. Mereka akan lebih cepat belajar mengenai ekosistem sungai jika dibandingkan belajar melalui buku. Akupun lalu membeli tiket masuk untuk kami bertiga (IDR 25.000 untuk pengunjung dewasa dan IDR 15.000 untuk pengunjung anak-anak). Sembari menunggu perahu penumpang yang akan kami naiki penuh, kami menikmati sajian mie instan dan membekali diri dengan air mineral untuk selama perjalanan. Berdasarkan informasi yang aku peroleh dari penjual tiket, durasi menyusuri sungai dan hutan bakau pergi-pulang adalah 1 jam.

Mesin diesel perahu penumpang menderu-deru, oleh petugas yang ada kami bertiga dipersilahkan naik ke atas perahu. Aku melihat kilatan semangat penuh keingintahuan di mata kedua anakku dan aku senang melihat hal itu. Petualangan kami pun dimulai...

Dermaga dan perahu kayu yang diperuntukkan bagi para pengunjung WAM

Menyusuri sungai dengan perahu
Perahu penumpang yang kami naiki melaju mulus membelah sungai. Di kanan kiri kami terbentang pepohonan bakau yang rimbun-rimbun. Tumbuhan bakau ini berfungsi untuk mencegah erosi sekaligus sebagai benteng alami terhadap air pasang. Fungsi lainnya adalah akar bakau yang lebat menangkap sisa bahan organik dan endapan dari daratan sehingga laut terjaga kebersihannya. Jika laut bersih, maka ekosistem laut (rumput laut dan terumbu karang akan terpelihara).

Tak jarang burung-burung putih berterbangan dan monyet ekor panjang bertengger di antara rerimbunan tanaman bakau. Sungguh pemandangan yang mengasyikkan. Para penumpang lain yang mayoritas adalah penggemar fotografi menjepretkan kamera mereka untuk mengabadikan pemandangan "tak lazim" di kota Surabaya.

Pemandangan ekosistem hutan bakau
Aku benar-benar menikmati hembusan angin yang menerpa kulit wajahku dan pemandangan di kanan kiriku. Sepertinya aku tidak seorang diri karena kedua anakku dan para penumpang lainnya juga seperti aku. Bahkan kedua anakku nekad duduk di geladak perahu sehingga pandangan mereka tidak terhalang oleh apapun walaupun sebenarnya kami sudah duduk di bangku paling depan.

Jalan setapak yang terbuat dari anyaman bambu
Sungai yang kami susuri membawa kami ke arah laut, kondisi gelombang lebih terasa di bagian ini. Putri sulungku sempat mengeluh pusing karenanya. Untunglah tak lama kemudian perahu berbalik arah dan kemudian menepi. Kami dipersilahkan untuk menyusuri jalan setapak dari anyaman bambu yang membelah hutan bakau. Putri sulungku semangat sekali, jiwa petualangnya bangkit. Dia melontarkan begitu banyak pertanyaan mengenai tanaman bakau, sayangnya pengetahuanku mengenai tanaman bakau masih sangat terbatas.

Jalan setapak bercabang menjadi 2, masing-masing menuju gazebo yang berbeda. Untuk pertama kali kami berjalan menuju gazebo Pertamina. Gazebo Pertamina didirikan atas sumbangsih pertamina untuk penanaman 1000 pohon bakau. Gazebo ini bertingkat 3 dan dalam kondisi yang terawat. Dari sini kami bisa menikmati pemandangan laut dan hutan bakau.

Pembibitan tanaman bakau
Dari gazebo Pertamina, kami berjalan menuju gazebo Polwiltabes. Sebenarnya letak gazebo ini lebih dekat dari tempat perahu kami merapat. Sayangnya kondisi atap gazebo di sana banyak yang berlubang dan gazebo hanya dibangun 1 lantai saja. Namun dari tempat ini kami bisa melihat pembibitan tanaman bakau yang ditanam di batang-batang bambu.

Setelah kami rasa cukup berpetualang, kamipun kembali menuju tempat perahu kami ditambatkan. Anak-anakku berceloteh sepanjang perjalanan menuju dermaga. Mereka menceritakan pengalaman dan pengetahuan baru mereka sekaligus bertanya ini itu kepadaku. Aku senang karena itu artinya misiku berhasil.

Tips:
  1. Waktu berkunjung paling ok adalah pada saat pagi hari atau sore hari kala sinar matahari tidak terlalu terik. Bawalah topi dan kenakan baju yang nyaman.
  2. Bawalah kamera karena banyak view yang menari, jangan seperti aku yang hanya mengandalkan kamera HP hehehe (harap maklum jika hasil jepretan tidak maksimal).
  3. Jika ingin berlama-lama di gazebo, jangan lupa membawa bekal karena di sana tidak ada penjaja makanan atau minuman. Bawalah juga plastik untuk menampung sampah yang tersisa dari makanan dan minuman yang telah konsumsi serta buanglah sampah pada tempatnya! 
  4. Kondisi toilet kurang layak karena tidak menggunakan air PDAM. Untuk pengunjung yang ingin menggunakan fasilitas toilet, ada baiknya membeli air mineral kemasan untuk membasuh atau menggunakan tissue basah. Jangan lupa, buanglah botol kemasan atau tissue basah yang telah terpakai pada tempat sampah yang tersedia!

Monday, April 9, 2012

Foot Note: Tips Memilih Teman Jalan-Jalan

Sudah bukan rahasia lagi ada macam-macam teman di dalam kehidupan seseorang. Ada teman yang tepat untuk dibuat curhat karena bisa menyimpan rahasia dan tidak menggurui. Ada pula teman yang asyik untuk diajak bekerja sama karena bisa mendukung ide dan menyenangkan diajak tukar pikiran. Ada juga teman yang asyik untuk diajak jalan-jalan.



Nah, aku ingin berbagi tips memilih teman jalan yang asyik berdasarkan pengalamanku sebagai berikut:

Pilih teman yang sejiwa

Ini penting karena traveling bersama berarti menghabiskan beberapa hari bersama dengan orang yang sama. Traveling bisa menjadi tidak menyenangkan jika teman seperjalanan tidak memiliki ketertarikan yang sama dengan kita.

Aku tipe orang yang senang dengan jalan-jalan ke tempat-tempat natural, bersejarah, berbudaya, atau tempat yang cocok untuk berolah raga yang berhubungan dengan alam. Aku tidak begitu tertarik dengan kegiatan shopping dan clubbing. Jadi aku akan memilih teman seperjalanan yang memiliki ketertarikan yang sama denganku, bukan yang akan mengajakku pergi shopping di Singapura atau Hong Kong.

Aku termasuk juga orang yang gemar berbackpacker karena selain ekonomis, gaya traveling macam ini membuatku lebih mengenal suatu daerah dan budaya masyarakatnya secara langsung, naik transportasi khas suatu daerah, mecicipi menu special suatu daerah....aku suka kegiatan seperti itu. Aku senang bisa berinteraksi langsung dengan masyarakat asli. Aku senang mencari tahu mengenai suatu daerah yang aku kunjungi dengan caraku daripada menggunakan jasa guide. Berbeda dengan gaya traveling berkoper yang memang membeli kenyamanan dan fasilitas. Aku bisa jadi merasa tidak nyaman berpergian dengan yang enjoy dengan gaya traveling berkoper.

Atau contoh lain, aku yang menyukai olah raga ekstrem, tentunya aku akan mencari teman yang memiliki ketertarikan yang sama. Ga mungkin dong aku mengajak temanku yang takut ketinggian untuk bungee jumping.

Pilih teman yang enak diajak ngobrol

Nah ini juga penting karena pastilah tidak nyaman bepergian dengan seseorang yang cenderung pendiam atau hanya menjawab pendek-pendek. Tapi pasti ga enak juga punya teman seperjalanan yang cerewet tanpa peduli waktu, bisa-bisa kurang istirahat hanya untuk mendengarkan ceritanya.

Traveling adalah untuk bersenang-senang dan santai, jika salah memilih teman seperjalanan, bisa sangat tidak nyaman. Apalagi jika bepergian dengan durasi yang cukup panjang, bisa-bisa bukannya happy tapi bete.

Fleksibel

Bagian yang menyenangkan dari sebuah perjalanan adalah improvisasi, melakukan sesuatu berdasarkan mood atau hanya karena ingin bersenang-senang. Jadi, cari teman perjalanan yang fleksibel. Siapa pun yang terlalu kaku mengikuti jadwal atau melakukan segala sesuatu dengan cara tertentu, mungkin bisa membuat saraf Anda tegang selama perjalanan (kecuali jika Anda juga seperti dia).

Pilih teman yang selevel

Maksudnya selevel di sini adalah memiliki kemampuan finansial yang tidak terlalu berbeda atau seandainyapun memiliki tingkat finansial lebih baik, dia bersedia menyesuaikan. Jika teman seperjalanan berasal dari kalangan jetset dan cenderung borju, sedangkan Anda sendiri tidak demikian, maka akan susah bagi Anda untuk menyesuaikan. Bisa-bisa malah over budget.

Pernah aku traveling dengan orang yang secara finansial mapan, namun karena dia memiliki ketertarikan yang sama denganku, dia justru senang diajak makan di tempat-tempat makan tradisional, mencicipi menu tradisional bukan di tempat-tempat mewah.

Pilih teman yang sadar kondisi

Aku pernah jalan ke salah satu negara tetangga. Berdasarkan informasi yang aku kumpulkan, di tempat itu sangat terik dan transportasi umum tersedia secara berkala yang cukup lama. Jadi sangat disarankan untuk membawa topi dan mengenakan baju yang nyaman. Tentu saja aku menginformasikan hal itu pada teman seperjalananku. Tak dinyana teman seperjalananku malah tidak membawa topi, mengenakan high heel dan kaus ketat tanpa lengan. Akhirnya sudah bisa ditebak, dia merasa tidak nyaman dan sering mengeluh selama seperjalanan. Mendengar keluhan-keluhannya sungguh merusak moodku.

Wednesday, April 4, 2012

Foot Note: Mengenal Kerbau Toraja

Semula aku mengira hanya ada 2 macam kerbau jantan (kerbau betina tidak diminati) yang dikorbankan sewaktu upacara adat pemakaman di Toraja. Namun berdasarkan informasi yang aku kumpulkan, ternyata ada 5 macam kerbau yang harus ada dalam pelaksanaan upacara adat.


Ini dia Kerbau Saleko paling mahal di Rantepao, harganya ditaksir kisaran 300 juta rupiah


Kerbau Saleko


Atau kerbau bule. Ini dia kerbau yang paling mahal. Seekor kerbau Saleko bisa mencapai harga 300 juta rupiah. Gila, harga seekor kerbau bisa sepadan dengan harga mobil bahkan rumah. Semakin besar tubuh, tanduk, sehat kuku, mata, dll maka akan semakin mahal harga kerbau Saleko.


Dalam pelaksanaan upacara adat kaum bangsawan, paling tidak disembelih 3 ekor kerbau Saleko. Untuk kaum non bangsawan (walaupun secara ekonomi mapan), tidak diperkenankan untuk menyembelih kerbau Saleko.


Beruntung dalam perjalananku menuju Puncak Batutumonga, aku sempat melihat Kerbau Saleko yang konon paling mahal saat itu di Tana Toraja. Kerbau Saleko yang saat itu sedang asyik berendam dalam air ditaksir berharga 300 juta rupiah. Pada umumnya Kerbau Saleko dijual di kisaran harga 200 juta ke atas.


Kerbau Bonga


Kerbau yang hanya bagian kepalanya saja seperti kerbau Saleko, sedangkan bagian badannya berwarna kelabu atau hitam.


Kerbau Teken Langit


Kerbau yang memiliki tanduk silang (satu menghadap ke atas, satu menghadap ke bawah). Kerbau Teken Langit juga termasuk kerbau mahal karena sangat jarang keberadaannya. Jika dalam pelaksanaan upacara adat kerbau ini tidak dapat disediakan keluarga, maka bisa diganti dengan kerbau jenis lain.


Kerbau Balian


Kerbau yang dikebiri dengan tujuan memaksimalkan pertumbuhan tanduk dan tubuh kerbau.


Kerbau Kudu


Kerbau hitam biasa, harganya dibandingkan jenis kerbau yang lain adalah yang paling murah.

Monday, April 2, 2012

Foot Note: Serunya Terjebak Demo di Makassar

Foto oleh: Yusran Uccang / Antara



Bisa jadi inilah tripku ke Makassar yang paling seru. Terjebak kerumunan demonstrasi mahasiswa yang menolak usulan kenaikan harga BBM oleh pemerintah. Acara liburan yang menyenangkan ditutup dengan aksi menghindari demonstrasi mahasiswa.

Begini ceritanya...

Saat itu Senin, 26 Maret 2012 pagi akhirnya aku menginjakkan kaki di kota daeng Makassar setelah menempuh perjalanan yang cukup lama dari Tana Toraja. Badanku terasa luar biasa penat karena tidak bisa tidur selama perjalanan naik bus. Singgah di mess sejenak untuk membasuh diri dan sarapan sebungkus mie instant rasa soto.

Segera setelah sarapan, aku bersama teman seperjalananku kembali berkemas untuk bersiap-siap kembali ke kota pahlawan. Sebenarnya jadwal penerbanganku masih di kesorean harinya, namun karena di headline surat kabar lokal diinformasikan bahwa pada hari itu dan keesokan harinya akan terjadi demo mahasiswa secara besar-besaran, maka aku bersama teman seperjalananku sepakat untuk menghindari pusat kota Makassar. Sudah menjadi rahasia umum bahwa mahasiswa Makassar sangat aspiratif dalam mengaplikasikan demokrasi.

Jadilah kami mengunjungi Fort Rotterdam yang terletak di dekat Pantai Losari. Seijin penjaga loket, kami menitipkan barang bawaan kami di sana sehingga kami bisa puas mengililingi Fort Rotterdam yang luas itu. Setelah puas berkeliling dan narsis, kami melangkahkan kaki memasuki salah satu tempat hang out terkenal di Makassar: Kampoeng Popsa. Suer, dari luar aku mengira food court ini adalah sebuah bengkel!



Suasana Kampoeng Popsa Kala Pagi


Belum banyak counter yang buka kala itu karena memang kami bertandang di kala waktu masih menunjukkan pukul 9 pagi, bahkan cashier masih belum tiba. Jadilah kami memesan roti bakar keju, teh tarik, dan juice alpukat dengan sistem "makan sekarang, bayar nanti".

Kampoeng Popsa ternyata sangat menyenangkan untuk hang out. Di bagian belakang terdapat geladak yang sengaja diatur sedemikian rupa sehingga seakan menyatu dengan bibir pantai. Pemandangan yang ditampilkan adalah pelabuhan container di sisi kanan, Pulau Menjangan yang berpasir putih, dan Pulau Samalona yang hanya berupa titik hitam-putih di kejauhan. Pastilah akan jauh lebih menyenangkan hang out di Kampoeng Popsa kala malam hari. Penataan lampu pasti akan membuat tempat itu semakin cantik dan menyenangkan.



Telah jelang tengah hari kala aku meninggalkan Kampoeng Popsa. Matahari bersinar sangat terik menusuk kulit dan menyilaukan mata. Demonstrasi mahasiswa telah dimulai. Untunglah kami sudah di bagian pinggiran kota, tinggal mencari jalan alternatif menuju bandara.

Sejenak kami singgah di KFC untuk makan siang sambil mengumpulkan informasi jalur-jalur alternatif. Untunglah aku sudah sedikit hafal jalan-jalan utama kota Makassar sehingga tidak terlalu sulit untuk mengerti keterangan yang diberikan oleh orang-orang yang kutanyai. Berdasarkan informasi yang aku peroleh setelah bertanya kepada beberapa orang, jalur alternatif yang paling aman menuju bandara adalah melalui Pelabuhan Paotere. Namun akhirnya aku bersama teman seperjalananku memutuskan untuk menaiki bus Damri Bandara dari Jalan Ribura'ne.


Penjaga loket mengatakan bahwa bis tidak akan menempuh jalur rutin karena adanya demonstrasi mahasiswa, jadi bus akan menyisir pantai dan langsung masuk tol menuju bandara. Oh, baguslah pikirku, berarti sesuai arahan beberapa orang yang aku tanyai tadi. Perjalanan menuju tol bandara sangat lancar, hatiku riang gembira karena dapat menghindari demonstrasi mahasiswa. Namun kegembiraanku ternyata berumur pendek. Tol menuju bandara macet total! Bus yang aku naiki sama sekali tidak bisa berkutik. Rupanya demonstrasi melebar sampai ke tempat ini dan masih diperparah dengan adanya truk yang asnya patah. Hasilnya: terjebak selama berjam-jam di jalan tol!


Arrghhh menyebalkan sekali....terlebih karena aku tiba di bandara pada saat pesawat yang akan aku tumpangi sudah boarding. Jadilah akhirnya aku ketinggalan pesawat tanpa adanya kompensasi dari pihak maskapai penerbangan. Buntutnya aku harus membeli tiket baru dan menginap 1 malam lagi di Makassar.


Tips traveling kala terjadi demonstrasi:


  1. Kumpulkan sebanyak mungkin informasi mengenai titik-titik terjadinya demonstrasi dan jalur-jalur alternatif menuju tempat tujuan.

  2. Penguasaan area, walaupun minim akan sangat membantu.

  3. Memiliki kenalan orang lokal, apalagi yang bersedia mengantar ke tempat tujuan akan jauh lebih baik.

  4. Berangkatlah berjam-jam lebih awal, terutama jika harus mengejar sesuatu yang telah terjadwal (pesawat, kereta api, kapal, dll).

Wednesday, March 28, 2012

Foot Note: Bus Damri Bandara di Makassar


Rupanya tidak banyak yang tahu mengenai transportasi bus bandara di Makassar. Padahal keberadaan jenis transportasi ini sangat ekonomis dan efisien bagi yang hendak ke Bandara Sultan Hasanuddin ataupun bagi yang hendak ke kota Makassar dari bandara.

Hal ini terbukti pada saat aku bersama teman seperjalananku sempat beradu argumen dengan kepala cabang kantor Makassar tentang keberadaan Bus Damri Bandara. Beliau menyatakan tidak ada Bus Damri Bandara di Makassar, sedangkan aku kukuh bertahan pada pendapatku karena aku pernah memotret counter Damri di Bandara Sultan Hasanuddin beberapa waktu yang lalu. Lalu dibuktikan juga pada saat akan menuju bandara, beberapa orang yang kami tanyai mengenai bus bandara, mereka rata-rata tidak mengetahuinya.

Aku merasa sangat terbantu dengan adanya fasilitas bus bandara ini. Bandingkan saja, jika naik taxi menuju Makassar, maka paling tidak membutuhkan biaya 100 ribu rupiah (harga tersebut masih belum ditambah tarif gerbang tol yang harus dilewati menuju kota Makassar. Sedangkan jika naik bus bandara hanya perlu mengeluarkan uang 15 ribu saja (jarak jauh maupun dekat tarif sama). Tinggal duduk manis menikmati pemandangan kota Makassar di dalam bus ber-AC. Benar-benar murah!

Tiket Bus Damri Bandara



Semakin merasa beruntung dengan adanya bus bandara ini sewaktu bertolak ke bandara pada saat di Makassar terjadi demo besar-besaran menolak kenaikan harga BBM pada 26 Maret 2012 yang lalu. Demonstrasi mahasiswa saat itu membuat kemacetan yang luar biasa di tol, mereka bahkan menutup akses menuju bandara. Kami terjebak di tol selama 3 jam! Huah, ga terbayang deh seandainya saat itu aku bersama teman seperjalananku naik taxi menuju bandara....bisa-bisa ratusan ribu melayang hanya untuk membayar transportasi menuju bandara.

Adapun rute yang dilalui adalah sebagai berikut:

Bandara - Pusat Kota: Bandara Internasional Sultan Hasanuddin - Jalan Perintis Kemerdekaan - Jalan Urip Sumoharjo - Jalan Gunung Bawakaraeng - Jalan Kartini - Jalan Kajalalido - Jalan Arif Rate - jalan Sultan Hasanuddin - Jalan Patimura (Pasar Baru) - Jalan Ujung Pandang - Jalan Ribura'ne


Loket Bus Damri Bandara Pusat Kota Makassar yang terletak di Jalan Ribura'ne (seberang RRI Makassar)


Pusat Kota - Bandara: Jalan Ribura'ne - Jalan Ahmad Yani - Jalan Kajolalido - Jalan Arif Rate - Jalan Sultan Hasanudin - Jalan Pattimura (Pasar Baru) - Jalan Ujung Pandang - Jalan Nusantara - Toll Ir. Sutami - Bandara Internasioanl Sultan Hasanuddin

Bila ingin menanyakan jadwal keberangkatan bis bandara, dapat menghubungi nomor-nomor berikut: 0821-92178703 / 0411-510155 (counter di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin) atau 0821-92178704 (counter di Jalan Ribura'ne - seberang RRI).

Oh ya, ada satu informasi yang terlewatkan, yaitu mengenai jam operasional bus bandara. Dari pusat kota Makassar menuju bandara mulai beroperasi sejak pukul 05.00 - 20.00 WITA (calon penumpang berkumpul di halte bus Jalan Ribura'ne - seberang kantor siaran RRI), sedangkan waktu operasional dari bandara menuju pusat kota Makassar beroperasi sejak pukul 08.30 - 24.00 WITA.

Jadi kesimpulan secara garis besar adalah aku sangat puas dengan pelayanan bus Damri Bandara Makassar ^_^

Tuesday, March 27, 2012

Foot Note: Tana Toraja / Rante Pao (lagi)

Walau sebelumnya aku sempat mengunjungi Tana Toraja pada Desember 2010 yang lalu, tempat ini seakan mengundangku kembali mengunjunginya karena belumlah genap aku menjelajah Tana Toraja. Yang lalu aku hanya sempat menjelajah Tana Toraja bagian selatan. Kali ini aku bertekad untuk menjelajah bagian selatan dan utara.

Bersama teman seperjalananku yang sangat menyenangkan, kami bertolak dari Makassar menuju Tana Toraja dengan PO Litha dari Terminal Panaikang. Seharusnya kami berangkat dari Kantor Perwakilannya (sebutan orang Makassar untuk Depo Bus) yang terletak di Jalan Urip Sumoharjo Makassar (Telp. 0411-442263), namun karena kami 12 menit terlambat dari jadwal keberangkatan pukul 10 pagi, kami harus mengendarai ojek ke Terminal Bus Panaikang Pelataran 5.

Wah seru sekali naik ojek saat itu....benar-benar kesetanan ngebutnya hahaha....sampai tidak sempat menikmati pemandangan sekeliling. Aku hanya tahu melewati Monumen Ayam, lalu pasar tradisional yang entah apa namanya, lalu perempatan lampu lalu lintas, kemudian belok ke kiri. Aku sempat berpikiran buruk sewaktu melewati tempat itu karena jalan itu begitu sepi dan hanya ada container sampah di sisi kiri jalan. Oh tidak....sudah ketinggalan bis, masih diculik oleh tukang ojek. Untunglah ternyata itu hanyalah jalan masuk lain menuju terminal bus Panaikang.

Terminal Panaikang


Suasana terminal bus Panaikang tidaklah seramai yang ada di benakku. Mungkin itu dikarenakan terminal ini hanya semacam terminal transit bagi bus-bus yang bertolak dari Makassar ke arah utara guna mengambil para calon penumpang di sana. Terdapat banyak sekali para penjaja buah dalam kemasan plastik ataupun keranjang nilon. Mereka bolak-balik naik ke atas bus menawarkan apel, anggur, maupun langsep sebelum kemudian bus melaju ke arah Tana Toraja.


Hujan mengguyur bumi celebes beberapa saat setelah bus meninggalkan terminal Panaikang. Melihat hujan turun aku tersenyum dalam hati karena teringat perkataan sahabatku yang mengatakan bahwa jika traveling denganku selalu terbebas dari hujan walau saat musim penghujan, mungkin aku ada turunan pawang hujan hahaha.


Bus Litha melaju sejauh 324 km menuju Rante Pao. Keistimewaan naik bus ke Tana Toraja adalah para penumpang diturunkan persis di pintu masuk hotel atau alamat yang dituju, jadi tidak perlu takut akan tersesat.


3 hari sebelum berangkat, aku telah memesan kamar di Wisma Maria 1 yang terletak di Jalan Ratulangi Rantepao (Telp. 0423-21165). Wisma Maria 1 adalah rujukan utama para backpacker. Oleh karena itu, mereka hanya menerima reservasi 1-3 hari sebelumnya. Sebenarnya ada beberapa pilihan kamar di Wisma Maria 1, namun karena ingin memanjakan diri, aku memilih tipe kamar yang lengkap dengan air panas dan siaran TV kabel. Untuk fasilitas seperti itu, aku harus merogoh kocek Rp 118.000/malam. Murah sekali ya? Sedangkan untuk tipe kamar tanpa air panas dan TV hanya perlu menyiapkan anggaran sebesar Rp 88.000 - Rp 98.000,-



Kondisi kamar Wisma Maria I


Kami turun di depan Wisma Maria 1 tepat pukul 7 malam. Hal pertama yang aku tanyakan di front office adalah sarana transportasi yang bisa aku sewa selama berada di Tana Toraja. Ada beberapa pilihan sarana transportasi, yaitu sepeda gunung (Rp 50.000/hari), sepeda motor (Rp 60.000/hari excld. BBM), atau mobil (Rp 300.000/hari).

Karena aku pergi berdua, maka aku dan teman seperjalananku sepakat untuk menyewa mobil. Dengan sigap dan ramah sang reception mereferensikan Bapak Ucok - pria asli Toraja yang bernama Batak (HP 0852-43087705). Sebenarnya harga Rp 300.000 adalah harga untuk mengitari salah satu wilayah Toraja saja, namun karena aku sudah mengetahui spot-spot mana yang ingin aku kunjungi, akhirnya kami beroleh kata sepakat.

Setelah mandi, aku dan temanku berjalan kaki menuju Kantor Perwakilan Litha yang terletak tak jauh dari Wisma Maria 1 untuk membeli tiket kembali ke Makassar keesokan malamnya. Kali itu kami memilih bus suspensi yang harga tiketnya hanya selisih Rp 10.000 dari tiket bus AC biasa.



American Breakfast ala Wisma Maria I


Keesokan paginya tepat hari Minggu. Kami sengaja bangun pagi-pagi supaya kami sempat beribadah sebelum kami menjelajahi Tana Toraja. Persis di depan wisma, terdapat gereja kharismatik namun jam ibadah baru dimulai pukul 8 pagi, sedangkan kami sudah deal untuk dijemput di wisma pukul 08.30. Sayup-sayup kami mendengar lagu puji-pujian tanda sebuah kebaktian sedang berlangsung. Kamipun mengikuti sumber suara dan menemukan Gereja GPIB Tabernakel yang terletak bersebrangan dengan Gereja Katolik. Syukurlah kami bisa mengikuti ibadah yang dimulai pukul 6 pagi. Selesai ibadah tepat pukul 8 pagi, kami berjalan kaki kembali menuju hotel untuk menikmati American Breakfast (telur mata sapi + roti panggang + mentega + selai + kopi / teh). Tepat setelah kami sarapan, Pak Ucok tiba dan perjalanan kamipun dimulai.

Kete'kesu






Ada yang berbeda di Kete'kesu kali ini karena sedang dilaksanakan persiapan salah satu bangsawan. Bambu-bambu terbaik dipilih untuk membangun tongkonan tempat menyimpan mayat. Karena yang meninggal adalah seorang janda, maka pesta adat dilaksanakan dengan lebih meriah. Hal ini dikarenakan ibu diagungkan di bumi Toraja. Jadi semisal pada saat sang suami meninggal, pihak keluarga menyembelih 10 ekor kerbau, maka pada saat sang istri meninggal, pihak keluarga menyembelih 2-3 kali lipat dibanding saat pemakaman sang suami. Untuk memasuki kawasan wisata Kete'kesu pengunjungi dikenai tiket masuk sebesar Rp 5.000/orang.

Lemo


Berbeda dengan di Kete'kesu, makam suku Toraja di sini ditempatkan di dalam lubang yang dibuat di dinding batu. Tak ada perubahan jika dibandingkan dengan kunjunganku sebelumnya. Tempat ini masih tetap memukauku. Untuk memasuki lokasi wisata Lemo, dikenakan tiket masuk sebesar Rp 10.000/orang.


Kambira



Makam khusus bagi para bayi yang belum tumbuh giginya. Mayat-mayat bayi ditanam di dalam lubang yang dibuat pada batang pohon. Untuk memasuki kawasan Baby Grave Kambira dikenai tiket masuk sebesar Rp 5.000/orang.


Sebenarnya setelah dari Kambira, Pak Ucok menawarkan kami untuk mengunjungi Swaya (makam raja-raja) karena lokasinya yang tidak terlalu jauh, namun bagiku pribadi yang sebelumnya sempat mengunjungi Swaya, tempat itu kurang menarik untuk dikunjungi karena lahannya yang sempit dan layout makam yang hampir sama seperti di Lemo (makam di tebing batu).


Londa


Nah, inilah tempat yang tepat untuk melihat kerbau bule, atau yang lebih dikenal dengan sebutan Saleko. Jika tidak terdapat pawang / pemberi makan kerbau Saleko, jangan berdiri terlalu dekat dengan kerbau Saleko karena kerbau Saleko cenderung agresif pada orang-orang yang tidak dikenalnya.
Makam suku Toraja di tempat ini ditempatkan di dalam gua. Ada 2 mulut gua di tempat ini, namun sebenarnya kedua gua ini saling berhubungan satu sama lain. Hanya sayangnya seiring pertumbuhan stalaktit dan stalakmit, jalan penghubung antara kedua gua ini hanya bisa dilewati dengan posisi merayap. Ogah merayap, aku lebih memilih memasuki masing-masing gua dari tiap mulut gua.


Makam gua Londa menjadi saksi bisu kisah kasih tak sampai. Dua buah tengkorak "Romeo dan Juliet" tergeletak di salah satu ruang gua. Konon kedua insan itu saling mencintai namun tidak mendapat restu keluarga karena masih ada pertalian darah (saudara sepupu). Merekapun akhirnya memilih untuk mengakhiri hidup mereka dengan gantung diri. Pada akhirnya mereka disatukan di dalam 1 peti di upacara pemakamannya.


Selain makam di dalam gua, terdapat juga makam di dinding gunung batu. Makam itu khusus untuk para kaum bangsawan, sedangkan makam gua tadi diperuntukkan bagi masyarakat biasa.


Untuk memasuki kawasan Londa dikenai tiket masuk sebesar Rp 5.000/orang ditambah biaya sewa lampu halogen sebesar Rp 25.000 dan jasa guide (suka rela).

Bori Parinding



Tempat ini mengingatkanku akan salah satu komik favoritku: Asterix. Mudah ditebak memang karena di tempat ini terdapat batu-batuan menhir raksasa yang ditata membentuk lingkaran-lingkaran kecil. Hanya keluarga bangsawan yang diperkenankan untuk melangsungkan tradisi ini. Untuk mastk ke lokasi wisata Bori Parinding dikenakan tiket masuk sebesar Rp 5.000/orang.


Sama seperti di Kete'kesu, saat itu di Bori Parinding sedang dilaksakan persiapan pelaksanaan pemakaman bagi seorang janda bangsawan yang rencananya akan diadakan pada Mei mendatang.


Batutumonga



Sesuai namanya, di Batutumonga terdapat banyak sekali batu raksasa. Batutumonga sendiri berarti batu raksasa yang menengadah ke langit. Walaupun baru pertama kalinya berkunjung ke tempat ini, tempat ini langsung menjadi tempat favoritku. Layak disebut negeri di atas awan karena memang di sinilah puncak Tana Toraja. Dari sini aku dapat melihat Rantepao dari kejauhan, hamparan terasiring sawah, dan pegunungan yang membiru.


Tempat ini sungguh-sungguh mempesonaku. Sangat cantik! Walaupun jalan menuju puncak Batutumonga berliku dengan pohon kopi di sisi kanan kiri jalan dan bergelombang serta sempit, hal itu sangat sepadan dengan kecantikan alam yang disajikan. Berbeda dengan tempat-tempat wisata di Tana Toraja lainnya, di sini tidak dikenakan biaya sepeserpun untuk menikmati kecantikan alam Tana Toraja.


Adalah sudah menjadi tradisi suku Toraja jika meninggal harus dimakamkan di bawah langit, di atas tanah (tidak boleh dikubur). Oleh karenanya makam-makam di sini dibuat di bukit batu, goa, pohon, bahkan batu. Maka karena di Batutumonga banyak dijumpai batu berukuran raksasa, jika terdapat suku Toraja yang meninggal di daerah ini, maka ia akan dimakamkan di dalam batu raksasa (liang), namun ada juga makam yang sengaja dibangun di atas batu (petane).

Thursday, August 11, 2011

Foot Note: Wisata di Surabaya


Rasanya agak aneh sudah melanglang buana ke beberapa kota besar di Indonesia, tetapi tidak bercerita mengenai kampung halamanku sendiri. Ya, Surabaya...kota sejarah dengan simbol buaya dan ikan sura mempunyai beberapa sudut menarik untuk dikunjungi.

Kebun Binatang Surabaya
Terlepas dari segala polemik yang terjadi di dalam kepengurusannya dan nasib hewan yang berada di dalamnya (kelaparan dan hilangnya beberapa koleksi satwa), Kebun Binatang Surabaya merupakan salah satu ikon menarik untuk tamasya keluarga.

Terletak di Jalan Setail 1 Surabaya, diapit terminal Joyoboyo dan Hotel Oval. Dulunya lokasi KBS yang pertama di Kaliondo, pada tahun 1916, kemudian pada tanggal 28 September 1917 pindah di Jalan Groedo. Dan pada 1920 pindah ke daerah Darmo atas jasa OOST-JAVA STOOMTRAM MAATSCHAPPIJ atau Maskapai Kereta Api yang mengusahakan lokasi seluas 30.500 m2. Persis di depan gerbang Kebun Binatang Surabaya, terdapat patung yang menjadi ikon kota Pahlawan, yaitu Suro dan Boyo.

Didirikan berdasar SK Gubernur Jenderal Belanda tanggal 31 Agustus 1916 No. 40, dengan nama “Soerabaiasche Planten-en Dierentuin” (Kebun Botani dan Binatang Surabaya) atas jasa seorang jurnalis bernama H.F.K. Kommer yang memiliki hobi mengumpulkan binatang. Dari segi finansial H.F.K Kommer mendapat bantuan dari beberapa orang yang mempunyai modal cukup.


Untuk pertama kali pada bulan April 1918, KBS dibuka namun dengan membayar tanda masuk (karcis). Kemudian akibat biaya operasional yang tinggi, maka pada tanggal 21 Juli 1922 kebun botani / KBS mengalami krisis dan akan dibubarkan, tetapi beberapa dari anggotanya tidak setuju. Pada tahun 1922 dalam rapat pengurus diputuskan untuk membubarkan KBS, tetapi dicegah oleh pihak Kotamadya Surabaya pada waktu itu.


Pada tanggal 11 Mei 1923, rapat anggota di Simpang Restaurant memutuskan untuk mendirikan Perkumpulan Kebun Binatang yang baru, dan ditunjuk W.A. Hompes untuk tinggal didalam kebun dan mengurus segala aktivitas kebun (pimpinan). Bantuan yang besar untuk kelangsungan hidup pada waktu tahun 1927 adalah dari Walikota DIJKERMAN dan anggota dewan A.Van Genrep dapat membujuk DPR Kota Surabaya untuk meraih perhatian terhadap KBS, dengan SK DPR tanggal 3 Juli 1927 dibelilah tanah yang seluas 32.000 m3 sumbangan dari Maskapai Kereta Api (OJS). Tahun 1939 sampai sekarang luas KBS meningkat menjadi 15 hektar dan pada tahun 1940 selesailah pembuatan taman yang luasnya 85.000 m2.


Konon, Kebun Binatang Surabaya / KBS adalah kebun binatang tertua di Asia. Pada 1970 KBS menyandang gelar sebagai kebun binatang dengan koleksi satwa terlengkap se-Asia Tenggara. KBS juga pernah menyandang gelar sebagai kebun binatang terluas dan paling terkenal se-Asia Tenggara.


Cukup membayar tiket masuk sebesar Rp 10.000,- maka pengunjung dengan bebas melangkahkan kaki di area seluas 15 hektar ini. Selain dapat menyaksikan beraneka ragam fauna, pengunjung dapat juga berinteraksi dengan beberapa satwa yang sudah dilatih (kuda, unta, gajah). Kebun Binatang Surabaya buka mulai pukul 7 pagi hingga 5 sore.



Monkasel

Ini adalah salah satu museum unik yang ada di Surabaya. Jika umumnya museum berbentuk bangunan beratap, maka sesuai namanya Monumen Kapal Selam memakai bangkai kapal selam RI Pasopati 401 sebagai bangunan utamanya.

Monumen Kapal Selam atau yang biasa disingkat Monkasel terletak di Jalan Pemuda, persis di tepi sungai Brantas dan di samping Surabaya Plaza. Dengan harga tiket yang hanya Rp 5.000/orang (anak berusia di bawah 3 tahun gratis), pengunjung diajak melihat dan mengalami langsung kehidupan di dalam kapal selam. Terdapat juga cinematografi kapal selam Indonesia.

Di sisi kanan Monkasel terdapat tempat duduk berpayung plus cafe untuk menikmati suasana santai di tepian Sungai Brantas.


Masjid Cheng Ho
Pertama kali aku menjejakkan kaki di masjid ini adalah 2 tahun yang lalu. Saat itu aku berada di lantai 5 gedung RS Adi Husada Undaan Wetan. Saat aku melongok keluar jendela, aku melihat bentuk bangunan yang unik. Rasa penasarankupun timbul sehingga aku kemudian memutuskan untuk berjalan menuju bangunan itu melalui pintu belakang rumah sakit.

Ternyata bangunan itu adalah sebuah masjid....Masjid Cheng Ho. Aku benar-benar kagum arsitektur bangunannya yang unik. Masjid ini didominasi warna merah, hijau, dan kuning. Ornamennya kental nuansa Tiongkok lama. Pintu masuknya menyerupai bentuk pagoda, terdapat juga relief naga dan patung singa dari lilin dengan lafaz Allah dalam huruf Arab di puncak pagoda. Di sisi kiri bangunan terdapat sebuah beduk sebagai pelengkap bangunan masjid.

Masjid Cheng Ho atau Masjid Muhammad Cheng Hoo Surabaya ialah bangunan masjid yang menyerupai kelenteng (rumah ibadah umat Tri Dharma). Gedung ini terletak di areal komplek gedung serba guna PITI (Pembina Imam Tauhid Islam) Jawa Timur Jalan Gading No.2 (Belakang Taman Makam Pahlawan Kusuma Bangsa) Surabaya. Dibangun untuk mengenang perjuangan dan dakwah Laksamana Cheng Hoo dan diresmikan pada 13 Oktober 2002.


Arsitektur Masjid Cheng Ho diilhami Masjid Niu Jie di Beijing yang dibangun pada tahun 996 Masehi. Gaya Niu Jie tampak pada bagian puncak, atau atap utama, dan mahkota masjid. Selebihnya, hasil perpaduan arsitektur Timur Tengah dan budaya lokal Jawa.


Masjid Muhammad Cheng Hoo ini mampu menampung sekitar 200 jama'ah. Masjid Muhammad Cheng Hoo berdiri diatas tanah seluas 21 x 11 meter persegi dengan luas bangunan utama 11 x 9 meter persegi. Masjid Muhammad Cheng Hoo juga memiliki delapan sisi dibagian atas bangunan utama. Ketiga ukuran atau angka itu ada maksudnya. Maknanya adalah angka 11 untuk ukuran Ka'bah saat baru dibangun, angka 9 melambangkan Wali Songo dan angka 8 melambangkan Pat Kwa (keberuntungan/ kejayaan dalam bahasa Tionghoa).


Tugu Pahlawan


Jujur hingga saat ini aku belum pernah menginjakkan kaki di Tugu Pahlawan, jadi belum bisa bercerita banyak soal monumen yang menjadi bukti sejarah perjuangan arek-arek Suroboyo hehehe

House of Sampoerna


Kompleks bangunan megah bergaya kolonial Belanda ini dibangun pada 1862. Awalnya didirikan sebagai panti asuhan putra yang dikelola oleh pemerintah Belanda, lalu dibeli pada 1932 oleh Liem Seeng Tee, pendiri Sampoerna. House of Sampoerna terbagi menjadi 3 bagian: bagian utama di tengah (rumah besar) yang digunakan sebagai museum dan pabrik dan 2 bangunan di kiri dan kanannya yang digunakan sebagai cafe dan gallery.


Di Museum pengunjung disuguhi historikal keluarga pendiri Sampoerna sampai melihat dari dekat fasilitas produksi rokok linting tangan dan berakhir dengan pengalaman tak terlupakan melinting rokok kretek dengan menggunakan alat tradisional.


Oh ya, House of Sampoerna juga menyediakan 1 unit Heritage Shuttle Bus yang dioperasikan secara gratis. Ada 2 rute pilihan, yaitu rute panjang (Jumat - Minggu, sekitar 2 jam perjalanan) dan rute pendek (Selasa - Kamis, sekitar sejam perjalanan). Untuk bisa berkeliling kota Surabaya sambil menyaksikan bangunan-bangunan tua bersejarah, silahkan memesan tiket di: 031-3539000 ext 41142.

Masjid Sunan Ampel



Masjid yang merupakan salah satu obyek wisata religi di Surabaya ini dibangun oleh salah satu Wali Songo, yaitu Sunan Ampel pada tahun 1421 (makam Sunan Ampel terdapat di dalam komplek masjid ini). Masjid ini terletak berdekatan dengan Kampung Arab, sehingga tidak mengherankan jika di sekitar masjid banyak dijumpai penduduk keturunan Arab yang bermata pencaharian sebagai pedagang pernak-pernik religi maupun buah kurma.


Di masa jelang bulan puasa maupun Lebaran, Masjid Ampel ramai dikunjungi oleh para wisatawan maupun para peziarah dari Surabaya maupun luar Surabaya.


Jembatan Suramadu




Salah satu icon yang menjadi kebanggaan kota Surabaya. Jembatan ini diresmikan oleh Presiden Megawati Soekarnoputri pada 20 Agustus 2003. Jembatan sepanjang 5.438 meter yang menghubungkan Surabaya dengan Bangkalan ini merupakan jembatan terpanjang di Indonesia untuk saat ini. Secara pribadi, aku lebih suka view Jembatan Suramadu di kala malam.


Pantai Kenjeran



Jika foto dapat menipu, maka ungkapan ini sangat tepat untuk Pantai Kenjeran. Mohon maaf sebelumnya...walaupun ini adalah tempat wisata yang dibanggakan, bahkan merupakan tempat wisata bagiku sekeluarga sewaktu aku masih kanak-kanak....tapi aku tidak merekomendasikan Pantai Kenjeran kepada teman maupun sanak keluarga yang berkunjung ke Surabaya. Aku malu dengan tingkat polusi sampah dan ketidakterawatan Pantai Kenjeran. Sangat jauh jika harus dibandingkan dengan pengelolaan Pantai Ancol-Jakarta atau Pantai Losari-Makassar.


Setiap pertengahan September, Kya-Kya Kenjeran menjadi ajang Festival Bulan Purnama. Dalam festival yang berlangsung selama sebulan ini, Kya-Kya Kenjeran tampil semarak dengan ribuan lampion. Tahun ini, Festival Bulan Purnama sepertinya akan lebih meriah menyusul dibangunnya Kya-Kya baru di sisi timur pantai.


Belakangan didirikan pula tempat ibadah umat Tri Dharma (Buddha, Kong Fu Tsu, dan Tao) yang megah. Letaknya di dalam kompleks Pantai Ria Kenjeran. Yang mencolok dari bangunan ini adalah patung Dewi Kwan Im Pou Sat setinggi 20 meter beserta pendampingnya: dua anak kecil dan dua pasang dewa. Di bawahnya, meliuk sepasang naga raksasa memperebutkan sebuah bola mustika.


Selain patung Dewi Kwan Im, ada pula patung Buddha atau Dewa Empat Muka (Four Faced Buddha Monument) setinggi sembilan meter (36 meter termasuk kubahnya). Monumen yang diresmikan pada 9 Nopember 2004 ini masuk Museum Rekor Indonesia (MURI) sebagai patung Buddha terbesar dan tertinggi di Indonesia. Bangunan ini menempati lahan seluas 225 meter persegi diapit empat ekor gajah putih di empat penjuru mata angin.


Kenjeran Park juga menyediakan fasilitas futsal indoor dengan kapasitas lebih dari dua lapangan. Bagi yang suka perang-perangan, tersedia wahana blast. Hanya dengan membayar Rp 30 ribu, Anda bisa berperan sebagai pasukan counter terorist. Masih di objek ini, tersedia arena bagi Anda yang gemar kebut-kebutan.

Monday, July 25, 2011

Jember Fashion Carnaval X 2011



Tidak perlu pergi jauh-jauh ke Amerika atau Eropa atau biaya yang mahal untuk menyaksikan parade kostum. Cukup 6 jam perjalanan darat dari Surabaya, kita bisa menyaksikan parade fashion kelas dunia.


Jember Fashion Carnaval, inilah parade fashion yang menjadi agenda rutin kota Jember. 600 peserta fashion akan memperagakan kostum-kostum cantik berwarna-warni di sepanjang Jalan Sultan Agung - Jalan Gajah Mada layaknya catwalk yang terbentang sejauh 3,6 Km (diakui oleh MURI sebagai catwalk terpanjang se-Indonesia).JFC terparkarsa atas ide dari seorang Dynand Fariz (Pemilik Rumah mode Dynand Fariz) yang mengadakan Pekan Mode Dynand Fariz dengan berkeliling di kampung-kampung dan alun-alun kota Jember pada tahun 2002. Ide ini kemudian diadopsi menjadi JFC di tahun berikutnya dan secara rutin terus terselenggara di setiap tahunnya dengan mengangkat tema yang berbeda.


Yang istimewa dari penyelenggaraan JFC-X pada 24 Juli 2011 kali ini adalah ditampilkannya best defile (kostum) dari penyelenggaraan JFC - JFC sebelumnya ditambah JFC-X 2011 kali ini dimeriahkan pula untuk pertama kalinya oleh Korps TNI Yonif 151 Kostrad (mengenakan defile Royal Kingdom) dan parade kostum oleh murid-murid TK. Itu yang paling menarik minatku.


Pucuk dicinta ulampun tiba...
Sudah semenjak event ini diumumkan pada milis beberapa bulan yang lalu, aku berniat untuk ikut menyaksikan event yang telah terselenggara sejak tahun 2003 yang lalu. Aku kemudian mendaftarkan diri melalui website resmi JFC untuk dapat menjadi penonton parade. Namun dikarena beberapa faktor aku mengurungkan niatku untuk berangkat dan hanya membantu teman-teman milis dalam reservasi 4 kamar di Hotel Sulawesi Jember (Rp 250.000/room/night) sedari bulan Mei 2011 dan sewa elf untuk transportasi. Karena event JFC adalah event akbar yang sudah mendunia, sudah pasti seluruh hotel akan fully booked.


Pada 22 Juli 2011 malam, aku menjemput 5 orang teman milis asal Jakarta di bandara Juanda dan melepas mereka berangkat menuju Jember. Oleh teman-teman milis, keesokan harinya tag-ku diambil dengan harapan aku tetap ikut serta dalam acara istimewa ini.


Sore harinya keadaan berbalik 180 derajat dan memungkinkan aku untuk bertolak ke Jember. Setelah mengantongi ijin untuk berangkat, aku memesan seat di Travel Surya - Jalan Panjang Jiwo 46-48 Surabaya (031-8480947) seharga Rp 70.000,- Bertolak dari Surabaya pukul 22.30 wib dan tiba di Jember pukul 04.30 wib. Tidak bisa beristirahat lama karena bersama teman-teman milis, kami berencana untuk hunting foto persiapan karnaval yang dimulai pukul 6 pagi di alun-alun kota Jember.



JFC-X 2011 sendiri dimulai tepat tengah hari (12.00 - 17.00). Jalan-jalan yang terhubungan dengan alur catwalk ditutup mulai pukul 9 pagi dan di sepanjang Jalan Raya Sultan Agung dan Jalan Gajah Mada diberi pagar pembatas lengkap dengan nomor-nomor kode yang menunjukkan pembagian arda bagi para JFC-X 2011 hunter seperti aku.


Panas menyengat kulit mengantar peluh, namun tidak menyurutkan antusiasisme para pengunjung untuk menyaksikan parade kostum berwarna-warni yang diperagakan oleh para muda-mudi kota Jember. Sungguh membanggakan menyaksikan kreativitas anak negeri sendiri!

Theme Borneo





Theme Bali



Theme Punk



Theme India




Royal Kingdom - The best defile 2011


Aku tidak mengikuti prosesi acara hingga selesai. Kembali memesan 1 seat di Travel Surya - Jalan Diponegoro 4/38 Jember (0331-488391, 411092) untuk meluncur kembali ke Surabaya.

Thanks for the pictures to: Aya Koetjoe, Lolo Asinamura, Ninuk, and Priyo ^_^