Showing posts with label Culture. Show all posts
Showing posts with label Culture. Show all posts

Monday, July 25, 2011

Jember Fashion Carnaval X 2011



Tidak perlu pergi jauh-jauh ke Amerika atau Eropa atau biaya yang mahal untuk menyaksikan parade kostum. Cukup 6 jam perjalanan darat dari Surabaya, kita bisa menyaksikan parade fashion kelas dunia.


Jember Fashion Carnaval, inilah parade fashion yang menjadi agenda rutin kota Jember. 600 peserta fashion akan memperagakan kostum-kostum cantik berwarna-warni di sepanjang Jalan Sultan Agung - Jalan Gajah Mada layaknya catwalk yang terbentang sejauh 3,6 Km (diakui oleh MURI sebagai catwalk terpanjang se-Indonesia).JFC terparkarsa atas ide dari seorang Dynand Fariz (Pemilik Rumah mode Dynand Fariz) yang mengadakan Pekan Mode Dynand Fariz dengan berkeliling di kampung-kampung dan alun-alun kota Jember pada tahun 2002. Ide ini kemudian diadopsi menjadi JFC di tahun berikutnya dan secara rutin terus terselenggara di setiap tahunnya dengan mengangkat tema yang berbeda.


Yang istimewa dari penyelenggaraan JFC-X pada 24 Juli 2011 kali ini adalah ditampilkannya best defile (kostum) dari penyelenggaraan JFC - JFC sebelumnya ditambah JFC-X 2011 kali ini dimeriahkan pula untuk pertama kalinya oleh Korps TNI Yonif 151 Kostrad (mengenakan defile Royal Kingdom) dan parade kostum oleh murid-murid TK. Itu yang paling menarik minatku.


Pucuk dicinta ulampun tiba...
Sudah semenjak event ini diumumkan pada milis beberapa bulan yang lalu, aku berniat untuk ikut menyaksikan event yang telah terselenggara sejak tahun 2003 yang lalu. Aku kemudian mendaftarkan diri melalui website resmi JFC untuk dapat menjadi penonton parade. Namun dikarena beberapa faktor aku mengurungkan niatku untuk berangkat dan hanya membantu teman-teman milis dalam reservasi 4 kamar di Hotel Sulawesi Jember (Rp 250.000/room/night) sedari bulan Mei 2011 dan sewa elf untuk transportasi. Karena event JFC adalah event akbar yang sudah mendunia, sudah pasti seluruh hotel akan fully booked.


Pada 22 Juli 2011 malam, aku menjemput 5 orang teman milis asal Jakarta di bandara Juanda dan melepas mereka berangkat menuju Jember. Oleh teman-teman milis, keesokan harinya tag-ku diambil dengan harapan aku tetap ikut serta dalam acara istimewa ini.


Sore harinya keadaan berbalik 180 derajat dan memungkinkan aku untuk bertolak ke Jember. Setelah mengantongi ijin untuk berangkat, aku memesan seat di Travel Surya - Jalan Panjang Jiwo 46-48 Surabaya (031-8480947) seharga Rp 70.000,- Bertolak dari Surabaya pukul 22.30 wib dan tiba di Jember pukul 04.30 wib. Tidak bisa beristirahat lama karena bersama teman-teman milis, kami berencana untuk hunting foto persiapan karnaval yang dimulai pukul 6 pagi di alun-alun kota Jember.



JFC-X 2011 sendiri dimulai tepat tengah hari (12.00 - 17.00). Jalan-jalan yang terhubungan dengan alur catwalk ditutup mulai pukul 9 pagi dan di sepanjang Jalan Raya Sultan Agung dan Jalan Gajah Mada diberi pagar pembatas lengkap dengan nomor-nomor kode yang menunjukkan pembagian arda bagi para JFC-X 2011 hunter seperti aku.


Panas menyengat kulit mengantar peluh, namun tidak menyurutkan antusiasisme para pengunjung untuk menyaksikan parade kostum berwarna-warni yang diperagakan oleh para muda-mudi kota Jember. Sungguh membanggakan menyaksikan kreativitas anak negeri sendiri!

Theme Borneo





Theme Bali



Theme Punk



Theme India




Royal Kingdom - The best defile 2011


Aku tidak mengikuti prosesi acara hingga selesai. Kembali memesan 1 seat di Travel Surya - Jalan Diponegoro 4/38 Jember (0331-488391, 411092) untuk meluncur kembali ke Surabaya.

Thanks for the pictures to: Aya Koetjoe, Lolo Asinamura, Ninuk, and Priyo ^_^

Friday, May 27, 2011

Foot Note: Lintas Borneo Part 3 (Pasar Terapung Lok Baintan - Banjarmasin)

Arrrgghhh....akhirnya sampai juga di kota 1000 sungai - Banjarmasin! Kataku dalam hati sambil meregangkan tubuhku. Waktu telah menunjukkan pukul 20.00 Wita pada saat aku melintasi gerbang kota Banjarmasin yang megah. Badanku terasa sangat penat karena aktivitas bamboo rafting di Sungai Amandit pagi itu dan setelah itu harus menempuh jalan darat yang lumayan lama dari Loksado menuju Banjarmasin (5 jam perjalanan). Keadaan semakin diperburuk karena mobil Avansa yang kami sewa diisi 6 personil + 1 driver! Maklum kaum budget travelers ^_^


Setelah bersantap malam di Lontong Orari yang terkenal, aku bersama 4 orang temanku meluncur ke hotel yang telah direservasi seminggu sebelumnya. Namun sewaktu kami memasuki lobby, aroma rokok langsung menyeruak dan seorang gadis dengan dandanan menor plus berbaju minim dan ketat tampak menunggu di lobby...yach, bisa diambil kesimpulan sendirilah hotel macam apa itu. Kami kemudian memutuskan untuk mencari alternatif hotel lain yang berada di kawasan itu.


Untunglah kami menemukan Hotel Mira yang berlokasi di Jalan Letjen MT Haryono 41 RT 011 Banjarmasin, telepon (0511) 3363955. Hotel ini terletak tengah kota dan biaya inap yang relatif murah untuk semi backpacker traveler seperti aku, yaitu Rp 205.000/malam (deluxe twin sharing). Selain itu Mira Hotel letaknya berdekatan dengan Pantai Jodoh - dermaga tempat perahu-perahu klotok bersandar. Sebenarnya Pantai Jodoh bukanlah pantai melainkan tepian sungai, dinamai demikian karena pada saat senja hari banyak pasangan muda mudi yang duduk di tepian sungai. Untuk mencapai dermaga, hanya perlu berjalan kaki selama 10 menit melewati masjid terbesar di Banjarmasin di kala subuh.


Tujuan utama ke Banjarmasin tentu saja untuk mengunjungi Pasar Terapung Lok Baintan. Sebenarnya di Banjarmasin terdapat 2 pasar terapung, yaitu: Muara Kuin dan Lok Baintan. Aku sengaja memilih Lok Baintan karena ketradisionalannya yang masih kental, walaupun sebenarnya pasar terapung Muara Kuin lebih dekat.


Pasar Terapung Lok Baintan terletak di Desa Sungai Pinang (Lok Baintan), Kecamatan Sungai Tabuk, Kabupaten Banjar. Pasar ini mulai beroperasi sejak pukul 6 pagi hingga 8 pagi. Perjalanan menuju Lokbaintan dari Banjarmasin dengan perahu klotok memakan waktu kurang lebih 1 jam.



Aku memutuskan untuk berangkat dari penginapan pukul 5 pagi. Walaupun waktu masih subuh, tapi ternyata udara kota Banjarmasin sama sekali tidak sejuk seperti yang aku perkirakan sebelumnya, malah cenderung hangat....mungkin karena letaknya yang dekat garis khatulistiwa.



Menikmati sunrise di atas atap perahu kelotok



Melalui referensi seorang teman milis yang menempuh studi di Banjarmasin, aku menyewa perahu klotok Pak Imus seharga Rp 175.000,- untuk rute Banjarmasin - Lok Baintan PP. Tarif pada umumnya adalah Rp 200.000 - Rp 250.000, namun karena teman milisku sering memakai jasa pak Imus, kami mendapatkan harga khusus. Lumayanlah bisa dipakai untuk menikmati sepiring soto banjar yang terkenal itu. Pak Imus bisa dikontak di nomor 0852-49418171.

Untuk orang yang terbiasa dengan kehidupan masyarakat perkotaan dengan gedung-gedung pencakar langit yang menjulang, pemandangan selama menyusuri sungai sangat memukauku. Kondisi pada saat aku berangkat masih gelap gulita, di tengah perjalanan matahari mulai menyingsing memberi warna kuning kemerahan di langit. Kilaunya sangat cantik terpantul di air sungai. Pemandangan yang sangat sayang untuk tidak diabadikan dengan kamera. Sunrise yang sempurna!

Pemandangan lain yang tak luput dari pandangan adalah sekelompok besar burung terbang kemali ke sarang mereka, langit seperti dipenuhi titik-titik yang berbentuk segitiga dan kebiasaan warga pesisir sungai menjalani aktivitas pagi mereka. Jujur, sampai malu sendiri melihat mereka mandi di atas panggung rumah kayu mereka dengan hanya berbalut kain atau pakaian dalam saja, padahal yang dilihat cuek-cuek saja. Bahkan tak jarang yang melambaikan tangan tanda ucapan selamat datang.


Suasana di Pasar Terapung Lok Baintan




Di Lok Baintan transaksi barter masih sah, lho, tapi seandainya memang tidak ada barang untuk dipertukarkan, bisa juga bertransaksi dengan menggunakan uang.


Mie Merah disajikan dengan Saos Sambal


Kue Getuk


Menikmati sarapan kue tradisional di atas kapal klotok merupakan pengalaman yang mengasyikkan. Semilir angin pagi yang menyejukkan plus ayunan badan perahu karena aliran air merupakan kombinasi yang langka. Sungguh, Indonesia itu unik dan cantik!

Tuesday, March 30, 2010

Budaya Paskah (Bagian 3 - habis): Domba dan Babi

ANAK DOMBA
Di antara simbol-simbol Paskah yang populer, anak domba adalah yang terpenting dalam perayaan agung ini karena melambangkan Kristus Yesus.

Anak Domba Paskah dengan bendera kemenangan dapat dilihat dalam lukisan-lukisan yang dipasang di rumah-rumah keluarga Eropa.

Doa paling kuno untuk pemberkatan anak domba ditemukan dalam buku ritual abad ketujuh biara Benediktin di Bobbio, Italia.

Menu utama santap malam Paus pada Hari Raya Paskah adalah anak domba panggang. Setelah abad kesepuluh, sebagai ganti anak domba utuh, disajikan potongan-potongan daging yang lebih kecil.

Tradisi kuno anak domba Paskah juga mengilhami umat Kristiani untuk menyajikan daging anak domba sebagai hidangan populer pada masa Paskah. Hingga sekarang, daging anak domba disajikan sebagai menu utama Minggu Paskah di berbagai daerah di Eropa timur. Tetapi, seringkali bentuk-bentuk anak domba kecil terbuat dari mentega, roti atau pun gula-gula menggantikan sajian daging anak domba, dan menjadi hidangan utama jamuan Paskah.

Di abad kuno adalah merupakan tanda keberuntungan jika orang menjumpai anak domba pada masa Paskah. Merupakan takhayul populer bahwa iblis, yang dapat mengambil wujud segala macam binatang, tidak pernah diperkenankan menampakkan diri dalam wujud anak domba karena simbol religiusnya.

BABI
Siapa sangka ternyata babi juga termasuk salah satu simbol Paskah? Daging babi selalu disajikan sebagai hidangan dalam jamuan Paskah tradisional. di berbagai wilayah di Eropa, daging babi panggang masih tetap merupakan jamuan utama tradisional dalam pesta pernikahan dan dalam perayaan-perayaan. Pada masa Paskah, ham asap, juga daging anak domba, menjadi santapan sebagian besar bangsa Eropa sejak masa silam, serta merupakan menu Paskah tradisional di berbagai wilayah.

Babi selalu melambangkan keberuntungan dan kemakmuran di kalangan orang-orang Indo-Eropa. Sisa-sisa pemakaian simbol kuno ini masih tetap hidup di jaman kita sekarang. Celengan anak-anak dalam bentuk babi misalnya, merupakan perwujudan dari tradisi kuno ini.

Monday, March 29, 2010

Budaya Paskah (Bagian 2): Kelinci Paskah

Jika entry sebelumnya telah membahas mengenai salah satu budaya Paskah, yaitu mengenai telur paskah, kali ini aku mencoba menggali dari berbagai sumber mengapa kelinci merupakan salah satu ikon populer di masa Paskah.

Jujur...aku sebagai pemeluk agama Nasrani merasa tidak setuju dengan banyak tampilnya ikon kelinci ataupun telur di masa Paskah. Walaupun untuk murid-murid Sekolah Minggu, adalah hal yang sangat seru mencari telur yang disebar di berbagai sudut halaman gereja. Karena bagiku pribadi, terutama setelah mengerti dan memaknai keindahan kematian dan kebangkitan Yesus....seharusnya hal itu yang dititikberatkan: cinta kasih Yesus pada manusia sehingga Dia rela memberikan nyawaNYA untuk tebus manusia. Dia yang tidak bersalah, dibuatnya menjadi bersalah.

Ok, kembali ke perihal kelinci paskah...kelinci dipakai sebagai salah satu ikon Paskah karena kelinci adalah simbol kesuburan dan kehidupan baru. Hal ini bisa dilihat dari mudahnya kelinci beranak pinak.

Di zaman kuno, jauh sebelum Zaman Pertengahan di Eropa, kelinci dan telur merupakan simbol kesuburan karena di awal musim semi burung-burung bertelur dan kelinci-kelinci melahirkan banyak anak. Simbol ini berkaitan dengan Eostre, dewi musim semi dan kesuburan dari kepercayaan kuno Jerman. Festival dewi ini diperingati pada hari di mana matahari berada pada titik vernal equinox, yaitu sekitar tanggal 21 Maret. Menurut suatu legenda terkenal, Eostre pernah menyelamatkan seekor burung yang sayapnya membeku saat musim dingin dengan cara menyihirnya menjadi kelinci. Karena dulu kelinci itu adalah seekor burung, sang kelinci pun masih bisa bertelur.

Menurut legenda, kelinci paskah membawa keranjang yang penuh berisi telur, permen, dan mainan yang bewarna-warni ke rumah anak-anak pada malam Paskah. Kelinci Paskah itu akan entah menaruh keranjang tersebut di suatu tempat atau menyembunyikannya di dalam rumah anak itu agar supaya sang anak keesokan paginya mencarinya. Kelinci Paskah memiliki kemiripan-kemiripan dengan Sinterklas yang membawa hadiah untuk anak-anak yang tidak nakal pada malam sebelum hari Paskah/Natal. Sumber legenda tersebut bervariasi, namun kelinci tersebut sudah dikenal sejak 1600; beberapa sumber menyebutkan legenda tersebut berasal dari mitos kesuburan, sementara yang lain menghubungkannya dengan peranan kelinci di dalam ikonografi Kristen.

Kelinci Paskah tidak pernah mempunyai makna religius dalam perayaan Paskah, meskipun dagingnya yang putih, kadang-kadang, dikatakan melambangkan kemurnian dan tanpa cela. Gereja tidak pernah memberikan pemberkatan istimewa bagi kelinci.

Kelinci pertama kali dipakai sebagai simbol Paskah di Alsace dan barat daya Jerman. Makanan yang terbentuk dari kue dan gula berbentuk kelinci pertama kali dibuat pada awal 1800-an. Kelinci Paskah kemudian diperkenalkan ke Amerika oleh para imigran Jerman yang mendarat di Pensylvania pada tahun 1700-an. Kedatangan Osterhase pada malam Paskah selalu dinantikan anak-anak, hampir sama seperti menanti kedatangan Sinterklas.

Sesuai tradisi, anak-anak membuat sarang kelinci yang berwarna-warni di pojok tersembunyi. Jika mereka berkelakuan baik, maka Osterhase akan menaruh telur di dalam sarang itu. Seiring waktu, sarang diganti menjadi keranjang anyam dan tempat tersembunyi diganti dengan serunya mencari tempat disembunyikannya keranjang anyam tersebut.

Budaya Paskah (Bagian 1): Telur Paskah

Beberapa hari lagi Jumat Agung dan Paskah menjelang.
Semakin terasa suasana kemenangan karena pada Jumat Agung Yesus menyerahkan nyawaNYA sebagai gantiku dan Paskah Yesus menang melawan maut, sehingga otomatis aku yang percaya padaNYA beroleh bagian dalam kehidupan kekal.
Yang menjadi pertanyaan di dalam kepalaku mengapa justru telur dan kelinci yang menjadi ikon Paskah?
Mengapa bukan salib? Mengapa bukan mahkota duri?
Aku mencoba searching di google dan ini adalah kesimpulan dari hasil googlingku.
Kali ini yang aku coba jabarkan adalah mengenai kebudayaan telur paskah.

Telur paskah berasal dari tradisi kesuburan kaum Indo-Eropa dalam menyambut musim semi. Orang Persia
saling menghadiahkan telur pada saat musim semi yang menandakan dimulainya tahun yang baru. Tradisi ini begitu melekat sehingga sulit dihapus karena memang Paskah biasanya jatuh pada awal musim semi.

Telur dipakai menjadi simbol musim semi karena telur adalah simbol kesuburan. Nama "Easter" sendiri diambil dari nama dewa musim semi - Eostre. Selain itu ada alasan yang sangat praktis menjadikan telur sebagai tanda istimewa Paskah, yaitu karena dulu telur merupakan salah satu makanan pantang selama Masa Prapaskah. Sehingga pada masa Paskah, jumlah telur yang ada sangat banyak.

Tradisi menyembunyikan telur-telur paskah dimulai di Inggris pada abad ke-18. Menurut legenda, hanya anak-anak yang berkelakuan baik yang akan mendapat telur warna-warni di atas jerami yang mereka taruh di dalam topi mereka bersama hadiah-hadiah lain. Kebiasaan ini berakar kuat di Jerman di mana telur-telur disebut Dingeier (telur-telur yang dihutang). Sehingga berkembanglah berbagai macam pantun di Perancis, Jerman, Austria dan Inggris, di mana anak-anak, bahkan hingga sekarang, menuntut telur-telur Paskah sebagai hadiah mereka.

Di beberapa daerah di Irlandia, anak-anak mengumpulkan telur-telur angsa dan bebek sepanjang Pekan Suci, untuk diberikan sebagai hadiah pada Minggu Paskah. Sebelumnya, pada Minggu Palma, mereka membuat sarang-sarang kecil dari batu, dan sepanjang Pekan Suci mereka mengumpulkan sebanyak mungkin telur, menyimpannya dalam sarang-sarang batu mereka yang tersembunyi. Pada Minggu Paskah, mereka memakan semuanya, membaginya dengan anak-anak lain yang masih terlalu kecil untuk mengumpulkan telur-telur mereka sendiri.

Orang-orang dewasa juga memberikan telur-telur sebagai hadiah di Irlandia. Jumlah telur yang akan dihadiahkan ditentukan menurut peribahasa kuno di kalangan rakyat Irlandia: Satu telur untuk pria sejati; dua telur untuk pria terhormat; tiga telur untuk yang miskin; empat telur untuk yang termiskin/pengemis

Pada abad pertengahan, Raja Edward I dari Inggris (1307) memerintahkan agar 450 butir telur direbus menjelang Paskah, diberi warna atau dibungkus dengan daun keemasan kemudian dibagi-bagikan kepada seluruh anggota keluarga kerajaan pada Hari Raya Paskah.

Di kebanyakan negara, telur-telur diberi warna polos dengan pewarna dari tumbuh-tumbuhan. Di kalangan orang Kasdim, Suriah dan Yunani, umat Eastern Ortodhox Church saling menghadiahkan telur-telur berwarna merah yang menyimbolkan darah Kristus. Di daerah-daerah di Jerman dan Austria, hanya telur-telur berwarna hijau saja yang dipergunakan pada Hari Kamis Putih, tetapi telur-telur yang berwarna-warni dipergunakan selama perayaan Paskah. Orang-orang Slavia membuat pola-pola istimewa dengan emas dan perak.

Tradisi telur Paskah berkembang di antara bangsa-bangsa Eropa Utara dan di Asia. Tetapi, di Eropa Selatan dan juga di Amerika Selatan, tradisi telur Paskah tidak pernah menjadi populer.

Membagi-bagikan telur pada Perayaan Paskah akhirnya dapat diterima oleh gereja karena telur memberikan makna religius: adanya kehidupan, di mana Yesus memberikan hidup baru melalui kebangkitanNYA.

Wednesday, December 23, 2009

Budaya Mulut Sampah

"Yo'opo kabare, rek?"
"J****k, dah lama yo awak dewe ga pethuk..."
"Iyo, ngg****i, awakmu bedho yo saiki."

Sudah bisa ditebak kalau percakapan di atas adalah percakapan antara 2 orang yang berasal dari Surabaya dan sekitarnya (Malang, Gresik, dan Sidoarjo). Di kota-kota inilah, ungkapan makian menjadi ciri khas yang begitu membumi di kalangan usia remaja sampai dengan usia dewasa, tak peduli itu laki-laki atau wanita. Ungkapan makian itu merupakan ekspresi kedekatan / keakraban di antara orang-orang yang terlibat dalam suatu percakapan.

Sebagai orang yang lahir dan besar di kota pahlawan, aku sudah sangat biasa mendengar caci maki atau oleh arek Suroboyo sendiri disebut "misoh". Memang bagi orang yang tidak biasa mendengarkan hal itu, terkesan sekali kalau orang-orang Surabaya adalah orang-orang yang sangat kasar. Apalagi kalau yang mendengarkan itu adalah orang dari Jawa Tengah yang terkenal halus tutur kata dan penyampaiannya. Bisa jadi orang yang tidak biasa mendengar atau mengerti budaya kosakata kebun binatang di kota bonek Bajoel Ijo, menjadi sakit hati. Padahal kata-kata itu terucap begitu saja tanpa maksud untuk menghina atau menyakiti perasaan orang lain. Rasanya ada yang kurang kalau dalam suatu percakapan informal antar teman tanpa dibumbui kata makian.

Pernah suatu ketika aku pergi ke Jakarta dan sedikit tersesat. Putar-putar di jalan-jalan tikus ibukota untuk menemukan lokasi yang saya tuju. Senang sekali rasanya sewaktu saya mendengar kata makian di sana. Begitu familiar. Jadi lebih PD untuk bertanya-tanya mengenai arah yang harus saya tempuh dan merekapun juga lebih terbuka dalam menyampaikan informasi. Senang rasanya bertemu orang yang berasal dari daerah yang sama, serasa di rumah sendiri hehehehe

Tapi tentu saja ungkapan makian juga dipakai untuk mengungkapkan kemarahan. Untuk membedakannya cukup gampang, lihat saja ekspresi si pengucap. Arek Suroboyo sangat ekspresif kok dalam mengungkapkan emosi hehehehe pasti langsung kelihatan kok bedanya antara makian yang diucapkan karena amarah dan makian yang diucapkan dalam konteks keakraban. Contoh hidupnya, lihat saja aku!