Showing posts with label Inspirational. Show all posts
Showing posts with label Inspirational. Show all posts

Monday, June 20, 2016

Jadilah Barbie Bagi Dirimu Sendiri

Aku rasa tidak ada yang tidak mengenal boneka barbie, mainan andalan keluaran Matell yang benar-benar digandrungi hingga saat ini. Parasnya yang cantik, rambut pirangnya yang terurai panjang, tubuhnya yang sangat proporsional, dan penampilannya yang selalu modis. 

Kecantikan boneka barbie yang pertama kali diciptakan pada 1959 ini membuat banyak wanita iri dan berusaha untuk menjadi seperti barbie. Barbie menjadi trendsetter! Banyak wanita rela mengeluarkan uang yang tidak sedikit nominalnya hanya untuk menjadi sempurna seperti Barbie.

Valeria Lukynova dan Olga Oleynik adalah dua dari banyak wanita yang rela mempermak tubuhnya untuk memiliki penampilan seperti layaknya boneka Barbie. Tidak hanya menjalani serangkaian operasi plastik, bahkan Olga Oleynik rela memotong tulang rusuknya agar penampilannya menjadi benar-benar mirip Barbie.

Untukku pribadi, ada beberapa hikmah yang dapat aku ambil dari kisah hidup mereka...

1. Bersyukur dan Mencintai Diri Sendiri = Penting
Menurutku Tuhan adalah seniman yang sangat luar biasa. Tidak ada ciptaannya yang tidak memiliki keunikan. Bersyukur terhadap hasil ciptaan Tuhan adalah kata kunci yang sangat penting. Jika tidak, maka rasa bahagia tidak ada di dalam diri dan tidak akan berhenti membandingkan diri dengan yang lain. Rasa syukur itu mendorong tumbuhnya rasa cinta akan diri sendiri. Cinta akan diri sendiri di sini maksudnya bukan bersikap egois melainkan menjaga dan merawat ciptaan Tuhan, memaksimalkan hal-hal positif yang dimiliki.

2. No Pain No Gain
Obsesi untuk menjadi seperti Barbie, mengantar Valeria dan Olga untuk menjalani serangkaian operasi plastik dengan biaya yang tidak murah. Belum lagi perawatan setelah menjalani operasi plastik dan pernik-pernik yang harus dimiliki untuk menunjang penampilan menjadi Barbie. Intinya untuk meraih suatu ambisi, tentu ada pengorbanan atau harga yang harus dibayar.

3. Cantik = Bahagia?
Setiap orang memiliki tolak ukur masing-masing dalam mencapai kata bahagia. Ada yang mengatakan akan merasa bahagia bila memiliki nominal uang yang besar, ada yang bahagia bila memiliki suatu barang, atau memiliki penampilan yang sempurna, dll. Bagiku penampilan (dalam hal ini menjadi seorang yang cantik atau tampan sempurna) adalah sesuatu yang semu karena tidak akan bertahan seumur hidup.

4. Be your own Barbie
Jadilah Barbie bagi dirimu sendiri. Pereloklah budi pekertimu juga tutur katamu dan perkayalah wawasanmu, niscaya orang-orang di sekitarmu akan mencintaimu bahkan pada saat fisikmu sudah tidak lagi menarik.

Friday, August 5, 2011

Tangan Cicak

Tangan cicak....
Itu gelar yang aku sandang. Sekilas tidak tampak perbedaan apapun pada kedua tanganku, sama-sama memiliki 5 jari di setiap tangannya. Namun jika benar-benar diperhatikan, maka tangan kiriku lebih pendek dibanding tangan kananku dan jari-jari pada tangan kiriku lebih pendek seruas jika dibandingkan dengan jari-jari pada tangan kananku. Bentuknya yang mungil dan lucu itulah yang membuatku menyandang gelar tangan cicak.

Bobotku sewaktu dilahirkan hampir mencapai 4 Kg. Cukup jumbo untuk dilahirkan secara normal. Ceritanya nih, waktu prosesi dilahirkan bagaikan sumbat botol aku hanya keluar sebatas bahu saja. Sehingga untuk mengeluarkan aku, para suster harus menarikku keluar. Mungkin sewaktu proses penarikan itulah ada urat lengan kiriku yang terjepit sehingga pertumbuhannya lebih lambat jika dibandingkan dengan pertumbuhan tangan kananku yang normal.

Gelar tangan cicak membuatku minder untuk bersosialisasi. Aku malu selalu menjadi bahan ejekan atau gurauan di keluarga maupun teman-teman sekolah. Rasanya ingin ditelan bumi saja. Sempat protes ke Tuhan kenapa aku diciptakan cacat seperti ini. Aku tidak melihat bahwa masih banyak yang memiliki kondisi tubuh jauh lebih buruk dari aku. Aku begitu terfokus dengan kecacatanku. Aku tidak melihat karunia lain yang Tuhan berikan kepadaku.

Tapi itu dulu....sekarang aku justru bersyukur dengan ukuran jemari tangan kiriku yang lebih mungil. Aku mampu membuat prakarya secara mendetail walaupun ukurannya mini, aku mampu mengambil benda-benda yang terjatuh di tempat yang sempit, dll. Yang lebih membuatku bersyukur lebih lagi adalah anak-anakku lebih suka menggandeng tangan kiriku karena ukurannya pas dengan ukuran tangan mereka ^_^

Memang ciptaan Tuhan tidak ada yang buruk...apa yang disangkakan buruk pada awalnya, ternyata dirancangkan baik adanya oleh Tuhan. Kuncinya adalah mengucapkan syukur dan kesediaan diri untuk dipakai Tuhan dalam berkarya.

Wednesday, April 20, 2011

Another Life Target Achieved ^_^

Although it's expensive, a shelter is one of main human needs...in this case, my needs. My brother is going to marry his girlfriend and it's an unwritten rule in my family that a house goes to the son, not daughter. In the other hand, I think it's the right time for me to be independent.

Buying a house isn't as simple as I thought, there are things need to seriously considered c.q. budget, social facilities, building quality, distance from the office etc. I've been searching for a house in several years, I attended property exhibitions and searched in the newspaper ads as well as strolling but found none.

Then I found this small house (36/105). I like its nice, calm, and secure environment; free from flood; relatively close to markets, schools, etc...and the most important thing is affordable.




One big move for me because buying a house means big cost, since I need to provide myself a transportation as well. I have to sacrifice my hobby to travel. Well, not that bad because I still can travel inside Java island at least for a whole year or max for the next 2 years.

I remembered once on my 30th birthday I wrote in here that I would explore Tana Toraja in the next 2 years and buy a house in the next 5 years. Last year (early December 2010) I've explored Tana Toraja/Rante Pao, a year earlier and in March 2011 I decided to buy a house.

Thank you, Lord.....for You made my dreams/target came true earlier than I thought I would.

Thursday, March 18, 2010

Cak Son

Entah kenapa, dibandingkan beberapa tukang tambal ban yang aku kenal, aku sangat menyukai Cak Son. Usianya sudah berkisar 40 tahun lebih, rambut di kepalanya sudah mulai menipis, namun badannya masih tegap dan sigap. Jujur, aku memiliki insting yang lumayan kuat mengenai penilaian terhadap seseorang dan aku bersyukur karena instingku sering kali benar, sehingga aku terhindar dari berkenalan dengan orang-orang usil di dunia maya.
Dua hari yang lalu seperti biasa, aku singgah sejenak di tambal ban milik Cak Son. Aku suka singgah di sana untuk mereguk segarnya sebotol minuman dingin atau hanya sekedar untuk menyapa Cak Son beserta istri dan anaknya yang terkadang menemani. Saat itu, aku kembali meneguk sebotol minuman dingin di hari yang terik. Ahhhh....segar sekali rasanya! Segera setelah aku menghabiskan cairan minuman dingin itu, aku merogoh saku celana panjangku dan memberikan beberapa lembar uang seribuan yang sudah terlipat kepada Cak Son kemudian melaju menuju kantor.

Sore hari selepas jam kantor, aku kembali ke area Cak Son biasa mangkal. Kali ini aku tidak singgah ke tempatnya, melainkan menemui seseorang. Aku menghabiskan waktu beberapa menit membahas suatu pekerjaan dan berakhir dengan pembicaraan yang tidak penting. Melihat itu, Cak Son langsung datang menghampiriku. Aku tersenyum menyambutnya. Tiba-tiba Cak Son menyodorkan beberapa lembar uang ribuan kepadaku.

"Uang apa ya, pak?" tanyaku pada Cak Son.
"Oh ini...uang mbak kebanyakan tadi pagi," sahutnya.
"Ah, masa sih?"
"Iya, mbak, bener...kan mbak tadi ngasi duit yang dah dilipat, eh...ga taunya di dalam lipatan itu ada duit 5 ribuannya, jadi kebanyakan bayarnya, mbak...nanti saya cepet kaya dong kalo gini hehehehe."

Aku terpana memandang Cak Son. Mungkin beberapa ribu rupiah bukan nilai yang besar, tapi kejujuran Cak Son membuatku semakin menyukainya. Bisa saja dia tidak mengaku mengenai kelebihan uang yang aku berikan padanya, aku toh tidak menyadari akan hal itu sebelumnya sampai akhirnya dia datang dan memberikanku uang kembalian.

Aku kagum pada Cak Son dan prinsip hidupnya. Walaupun pendapatannya sebagai tukang tambal ban terbatas, pantang baginya untuk berlaku tidak jujur demi mengeruk keuntungan lebih seperti yang dilakukan oleh beberapa tukang tambal ban lainnya (menyebar paku di jalan sehingga banyak yang mengalami ban bocor).

Cak Son pernah berkata padaku, kalau Tuhan akan pelihara dia beserta keluarganya dengan cara Tuhan sendiri...kalau dilihat dari penghasilannya, tidak mungkin dia bisa menyekolahkan anak-anaknya ke bangku sekolah tingkat tinggi, tapi hal itu mampu dilakukan.
"Semua ini dari Tuhan, mbak...saya ya cuman tukang tambal ban."

Terima kasih, Tuhan, Engkau mengijinkanku untuk belajar dan melihat kasih pemeliharaanMU.

Friday, January 22, 2010

Cheese!!!

Cheese!!!
And everybody's smiling...sparkling eyes and friendly faces. Would be even perfect if continued by embrace. Very nice.

Do you know how much your smile worth for someone else?
It might be mean the world for someone.
I have some stories about that, but this time I'd only share one...

That time I was overloaded. Everyone seemed has problem and I had to solve it for them. Even my boss was in really...I mean...really really bad mood. There's heavy cloud on his face and it affected everybody surround him, including me as his secretary. I became too tense and acted like a bomb which ready to blow up in a second. I lost my smile and sparkling eyes. Everyone here knows me as a cheerful person, so if I'm not smiling, there must be something serious happen.

I went home by public transportation with terrible headache, tense shoulders, and messy face. So not nice to see. Inside that vehicle there were some other people, but a mother with her kid attracted me the most. The mother looked so tired and had burden inside her mind. Her child was sleeping on her lap but then awaken and directly looked at her mother with her funny smile. Suddenly her mother's face brightened up, her burden also fatigue gone, and smiled back. Wow! What a great effect! Even I got affected, and I was not alone...there were some people smiling while watched them.

A genuine smile does effect others! Enlighten burden, throw away sorrow, warm one's heart. So, smile without any hesitation. It might brighten up someone's day.

Thursday, December 10, 2009

Stop Kekerasan Pada Anak!


Bertepatan dengan hari H.A.M. pada hari ini (1o Desember) sebuah stasiun TV menayangkan sebuah cuplikan berita mengenai kematian seorang bayi berusia 4 bulan dikarenakan dibanting oleh ayah kandungnya ke lantai dan dinding hanya karena dia tidak berhenti menangis. Sungguh hatiku sedih sekali menyaksikan berita itu. Mengingatkanku pada kisah legendari Ari Anggara. Apa karena seorang anak tidak bertindak sesuai yang diinginkan orang dewasa, membuat orang dewasa berhak "mendidik" dengan kekerasan yang berujung kematian? Perlu diingat bahwa seorang anak adalah titipan Tuhan, setiap orang tua bertanggung jawab penuh.

Sering kali hak anak-anak terabaikan oleh sikap superior orang-orang dewasa yang berada di sekitar mereka, dan percaya atau tidak, kekerasan pada anak-anak justru banyak dilakukan oleh orang-orang terdekat mereka. Pada saat seharusnya mereka menerima limpahan kasih sayang, justru mereka menerima pukulan, hujatan, makian, bahkan kekerasan seksual...oh Tuhanku...hanya karena orang tua mereka mengalami masalah, entah itu perceraian, pekerjaan, finansial, dll. Betapa berat beban yang mereka harus tanggung. Betapa terlukanya hati mereka.

Lalu ada kisah anak-anak yang berada di daerah konflik. Terpaksa memanggul senjata, terpaksa menepis ketakutan, terpaksa menahan tangis, terpaksa menjadi tegar. Bayang-bayang kengerian dan kematian selalu di depan mata.

Belum lagi kisah-kisah mayat bayi yang ditemukan di dalam kardus atau tas plastik. Kenapa anak yang harus menjadi korban untuk kesalahan yang dibuat oleh orang tua mereka? Aku sungguh tidak habis mengerti kadar keegoisan orang dewasa.

Ada tempat yang suka aku kunjungi. Di tempat itu ada banyak bayi-bayi yang berhasil di"selamat"kan. Bayi-bayi itu adalah bayi-bayi buangan, tidak diinginkan oleh orang tua mereka, kebanyakan adalah hasil hubungan gelap dan direncanakan untuk diaborsi. Aku suka merengkuh mereka dalam pelukanku, aku ingin mengatakan pada mereka, bahwa meskipun orang tua kandung mereka tidak menginginkan mereka, masih ada orang-orang yang mau menerima mereka dengan penuh kasih. Aku mengasihi mereka dan aku ingin mereka merasakan kalau aku menerima dan mengasihi mereka. Tanganku mungkin tidak cukup panjang untuk merengkuh mereka semua, tapi aku melakukan apa yang aku mampu dengan keterbatasanku.

Anak-anak begitu polos, lugu, dan tidak bersalah. Berilah cinta, bukan kekerasan, apalagi kematian. Mereka SANGAT berhak untuk menikmati dan menjalani hidup yang Tuhan beri. Biarlah dunia kanak-kanak mereka berisi keceriaan dan kebahagiaan, bukan ketakutan dan tangisan.

Wednesday, December 9, 2009

Hari Anti Korupsi 9 Desember

9 Desember...semenjak tahun 2003 PBB menetapkan hari ini diperingati sebagai Hari Anti Korupsi. Tahun ini peringatan hari Anti Korupsi di Indonesia diramekan dengan berbagai macam demo yang serentak dilaksanakan di berbagai daerah di Indonesia. Sebut saja Jakarta, yang dipusatkan di Bundaran HI...lalu Surabaya yang dipusatkan di Gedung Grahadi dan dipimpin langsung oleh Cak Karwo (Gubernur Jatim).

Setiap stasiun TV sejak pagi tadi sudah menayangkan liputan dan wawancara khusus yang berhubungan dengan Hari Anti Korupsi. Seakan-akan semua sedang berlomba-lomba untuk memberikan opini dan liputan istimewa, apalagi akhir-akhir ini kasus korupsi Bank Centuri sedang menjadi hot news...kalau aku boleh pinjam istilah dari salah satu anggota keluargaku...kasus Bibit-Candra-Anggodo-Antasari adalah sinetron paling seru yang pernah ditayangkan hehehehe ^_^

Emh...aku mempunyai pemikiran sendiri dalam mengisi Hari Anti Korupsi dan seyogyanya tidak hanya dilakukan pada hari ini saja sehingga menjadi suatu habit. Pertama, mengucap syukur untuk setiap sen yang Anda hasilkan dari pekerjaan Anda. Kedua, mencukupkan diri dengan setiap sen yang Anda hasilkan. Memang setiap menengadahkan kepala akan melihat dunia yang gemerlapan yang memprovokasi untuk direngkuh, tapi tentu saja itu tidak akan berkesudahan. Pada dasarnya manusia tidak pernah puas, maka belajarlah mencukupkan diri. Rem hasrat untuk memiliki lebih dan lebih. Adalah tidak salah menjadi seseorang yang berambisi untuk memiliki keuangan yang berlimpah, tapi bilamana ambisi itu kemudian diraih dengan menghalalkan segala cara, maka itu adalah salah.

Korupsi tidak melulu soal harta. Waktu adalah sesuatu yang sering dikorupsi. Budaya jam karet di Indonesia sudah mengakar kokoh. Adalah hal biasa bila pelaksanaan suatu acara terpaksa diundur karena jumlah peserta yang hadir belum mencukupi. Hal yang sangat aku sayangkan. Aku bersyukur karena orang tuaku sangat disiplin mendidik anak-anak mereka untuk selalu tepat waktu. Lebih baik menunggu daripada membiarkan orang lain menunggu.

Selamat Hari Anti Korupsi!

Thursday, December 3, 2009

Diam Tak Selamanya Emas



Selama ini aku selalu menganggap sikap diam adalah emas dan aku selama ini selalu bangga dengan sikap diamku. Aku tidak terlalu suka berkoar-koar dan mungkin itu yang menyebabkan beberapa orang mempercayakan rahasia mereka kepadaku karena mereka yakin aku tidak akan membocorkan rahasia mereka.

Sebagai seseorang yang berprofesi sebagai sekretaris, aku juga harus menutup rapat mulutku. Menjaga agar rahasia perusahaan tidak sampai diketahui oleh pihak luar, selain ada juga rahasia-rahasia yang hanya boleh diketahui oleh pihak-pihak tertentu dalam perusahaan. Aku semakin terlatih menutup mulutku. Bicara seperlunya dan selalu pada intinya, tanpa basa-basi.

Karena sudah terlatih menutup mulut, aku jadi terbiasa menutup mulutku. Aku menganggap jika suatu hal bukanlah hal yang penting untuk disampaikan, maka aku tidak perlu mengkomunikasikan hal itu dan jikalau aku sedang ada masalah di kantor atau beban pekerjaan dalam pikiran, aku juga berusaha untuk menyelesaikannya sendiri. Dari sinilah titik kesalahanku. Orang-orang terdekatku mulai merasa jengah dengan sikap diamku. Mereka merasa kalau aku tidak mempercayai mereka dan mulai berpikiran bahwa keberadaan mereka tidak berarti bagiku, walaupun aku tidak ada maksud begitu. Bahkan tidak pernah aku berpikiran demikian.

Pada suatu saat mereka mengatakan apa yang mereka pikirkan dan rasakan tentang sikap diamku. Mereka berkata bahwa mereka tidak meminta aku untuk membuka rahasia, mereka hanya meminta supaya aku berbagi rasa dan pikiran mengenai kegiatan keseharianku. Hal-hal yang sepele, misalnya menu makan siangku, film yang sedang ingin aku tonton, dll. Hal ini membuatku tersadar bahwa di dalam realita, sebuah relasi justru dibangun berdasarkan komunikasi, bahkan untuk hal-hal sepele sekalipun. Ternyata diam tidak selamanya emas. Dalam hal tertentu, justru diam akan menimbulkan kecurigaan dan pada akhirnya menghancurkan relasi yang sudah terbina dengan baik.

Friday, November 20, 2009

Kissing the Frog

Mungkin sebagian besar dari kita pernah mendengar dongeng tentang Pangeran Katak. Di dalam cerita itu, sang pangeran mendapat sebuah kutukan menjadi seekor katak. Kutukan itu baru akan berakhir dan ia akan kembali menjelma menjadi seorang pangeran bilamana si katak mendapat ciuman dari seorang puteri.

Pernah mencium katak?
Aku belum...membayangkannya saja sudah membuatku begidik, aku membayangkan permukaan yang dingin dan berlendir. Tapi kali ini aku ingin mengajak para pembaca blog-ku untuk mencium katak, bukan secara harafiah tentunya hehehe...

Begini...umpamakan kamu dikelilingi oleh orang-orang yang jiwa/hatinya terluka. Bisa jadi orang itu adalah orang yang merasa rendah diri, orang yang terus menerus menyalahkan dirinya atas sesuatu, atau bisa juga orang yang merasa tersisih/keberadaannya tidak diinginkan oleh lingkungan sekitarnya. Bayangkan seseorang itu sebagai "katak".

Sebenarnya rasa rendah diri, tersisih, tertolak, atau merasa bersalah adalah suatu frame atau gambaran yang salah yang diciptakan oleh orang-orang yang berada di kehidupan "si katak".
Seseorang yang rendah diri biasanya berawal dari hinaan demi hinaan yang dia terima, yang kemudian terpatri dalam hatinya, dan parahnya lagi dia mempercayai hinaan itu. Misalnya, si A terus menerus dihina bodoh, akhirnya dia percaya kalau dia itu bodoh. Padahal seharusnya dia mendapatkan motivasi untuk belajar dan keluar dari "zona kebodohannya".

Sebuah pribadi adalah layaknya sebuah benih tanaman. Jika benih mendapat asupan zat gizi yang baik dari tanah, mendapat hangatnya sinar matahari, maka benih tersebut akan tumbuh dan pada saatnya mekar. Tapi jika benih itu berada di dalam tanah yang terlapisi salju, maka dia tidak dapat berkembang. Sama seperti itu, jika suatu pribadi berada di dalam suatu kondisi yang membuat dia merasa tertekan, maka pribadi itu tidak akan berkembang.

Peranmu adalah sebagai "sang puteri yang mencium katak sehingga katak menjelma menjadi sang pangeran". Menerima dan memberi kasihmu kepada orang-orang itu sehingga mereka dapat keluar dari zona mereka dan merespon kasih yang mereka terima. Bukan pekerjaan yang mudah memang, tapi bukan berarti tidak bisa dilakukan. Gbu :)

Thursday, November 19, 2009

Aku Bangga Sebagai Perempuan


Jadi perempuan ribet...

Apalagi kalau berperan ganda: Istri, ibu, & wanita karier

Harus cerdas, berani, tangguh, dan cekatan

Tapi pada saat yang sama tampil cantik

Harus lembut dan penuh kasih

Harus menjadi panutan

Harus bisa membagi perhatian dan waktu

Harus hormat, tunduk, dan patuh

Walau menjadi tulang punggung

Harus bisa jadi penyemangat

Semua dilakukan sekaligus

Hebat!

Aku bangga diciptakan sebagai seorang perempuan :D

Wednesday, November 18, 2009

Perfecto!


Akhir-akhir ini aku mendapat tawaran bertubi-tubi untuk beberapa jenis produk pemutih kulit sekaligus. Mulai dari yang berbentuk lotion, masker, garam mandi, sabun mandi, sampai suplemen pemutih kulit. Seakan-akan para sales dan produsen produk tersebut sudah mengadakan perjanjian untuk barengan menawarkan produk pemutih kulit kepadaku. Tawaran yang menarik memang. Ada yang berani menjamin dalam 1 bulan dapat memutihkan kulit menjadi 5 tingkat lebih terang dari kulitku sekarang.

Hmmm....

Aku berpikir apa ada yang salah dengan warna kulitku? Kulitku tidak hitam, tapi juga tidak putih. Banyak orang mengatakan aku seperti orang India, tak jarang juga orang mengatakan aku seperti latina. I'm trully Indonesia and I'm proud of it. Berbeda dengan sebagian besar wanita Indonesia yang menginginkan dan menyukai kulit berwarna putih, aku sangat menyukai warna kulitku. Menurutku sangat eksotis...narsis.com deh. Aku tidak ingin mengubah warna kulitku. Orang-orang di belahan dunia barat berlomba-lomba untuk bisa memiliki warna kulit seperti kulitku, mengapa aku harus mengubahnya?

Sebut saja Michael Jackson yang warna kulitnya berubah menjadi putih (terlepas dari pengakuannya mengidap Vitiligo atau memang disengaja), aku lebih suka sewaktu dia masih berkulit gelap. Dia manis sekali dengan senyumnya. Begitu dia menjalani operasi plastik untuk hidung, tulang pipi, dan dagunya-yang dia anggap bisa membuatnya tampil lebih menarik...emh...menurutku dia justru tampak lebih mengerikan.

Aku bersyukur dengan apa yang ada padaku. Menurutku ini sudah yang paling pas denganku. Belum tentu kalau kulitku putih, aku memiliki nilai kepuasan yang sama seperti sekarang. Aku yakin dan percaya bahwa Tuhan adalah artis yang agung dan luar biasa, karya-karyaNya selalu unik dan menarik. Penilaian cantik, tampan, jelek adalah cap yang diberikan oleh manusia...tapi sesungguhnya masing-masing ciptaan adalah baik adanya, sempurna di mata Sang Artis Agung. Perfecto!

Thursday, November 12, 2009

Wanita Tangguh

Jujur, aku kurang menyukai kegiatan menjenguk orang sakit serius atau parah, entah itu di kediamannya terlebih lagi di rumah sakit karena aku sering merasa sedih melihat semangat mereka yang memudar seiring dengan penyakit yang mereka derita. Penyakit mengalahkan mental sehingga kondisi semakin memburuk.

Tapi Inong sungguh berbeda. Dia adalah salah satu wanita yang aku kagumi karena ketangguhannya. Dia sudah menjanda sejak anak-anaknya masih berumur 9, 5, dan 4 tahun. Inong harus membesarkan ketiga anaknya seorang diri. Suaminya meninggal karena serangan jantung tepat pada tahun baru.

Wanita paruh baya ini divonis kanker paru stadium 4 pada Agustus 2008 dan dokter memprediksikan hidupnya tidak akan lebih dari 3 minggu lagi. Hasil foto menunjukkan paru-paru kirinya sudah berwarna putih, artinya dipenuhi sel kanker dan sel itu mulai menggerogoti paru-paru bagian kanan bawah. Padahal sebelumnya dia rutin mengontrol kesehatannya, terlebih setelah dia beberapa kali mengalami kesulitan untuk bernafas. Diagnosa dokter pada saat itu adalah Inong menderita sakit jantung.

Begitu mendengar bahwa Inong menderita kanker paru, anak Inong yang berdomisili di Jakarta mengajaknya untuk berobat di sana. Maka Inong mulai menjalani proses kemoterapi dan radioterapi. Rambutnya menjadi rontok...gundul dan kulitnya mengalami iritasi. Belum lagi rasa sakit yang diderita Inong setiap menjalani kemoterapi. Inong bercerita padaku bahwa kemoterapi membuatnya merasa nyeri yang amat sangat dan mual. Belum lagi berbagai macam suntikan dan selang oksigen juga infus yang terpasang di tubuhnya. Hatiku miris setiap melihat foto-foto yang ditunjukkan oleh anaknya.

Satu hal yang selalu ditunjukkan Inong walaupun rasa sakit mendera tubuhnya: dia tidak patah semangat. Inong selalu berkata: hidup mati bukan di tangan dokter, tapi di tangan Tuhan. Jika Tuhan masih memberikannya nafas, pantang baginya untuk jadi patah arang. Dia harus tetap berkarya, menghargai setiap hari baru yang diberi Tuhan walaupun mungkin terbatas oleh tenaga. Dia juga selalu berpesan agar selalu menyerahkan diri sepenuhnya kepada Tuhan karena Dia yang memegang hidup.
Oleh rumah sakit tempat Inong dirawat, dia dijadikan motivator bagi pasien lain.

Sekarang, November 2009...Inong masih hidup dan berkarya. Tuhan memberikan Inong perpanjangan hidup, bahkan memberikan kesempatan baginya untuk menantikan kelahiran cucunya yang ke-7 :)

Pay It Forward


Kebaikan yang kamu perbuat akan selalu kembali kepadamu...ini adalah suatu quote yang benar adanya.

Pada suatu hari aku naik bemo menuju kantor. Bemo itu melaju lambat, udara di dalam bemo semakin terasa panas karena tidak ada angin yang berhembus. Salah satu kebiasaanku bila berada di dalam kendaraan umum, entah itu bis, bemo, KA, atau pesawat sekalipun adalah memperhatikan orang-orang yang berada di sekitarku.

Waktu itu ada seorang gadis duduk di berhadapan denganku. Dia terlihat bingung. Sesekali dia menoleh ke kanan dan kiri, sambil tangannya memilin-milin kertas yang ada di genggaman tangannya. Entah kertas apa itu, aku tidak bisa melihat dengan jelas. Orang-orang lain hanya cuek saja. Ada yang menatap keluar jendela kendaraan, ada yang menghisap rokok, ada yang pura-pura menunduk, dan sebagainya.

Akhirnya pandangan kami bertemu. Masih terlihat bingung dan ragu, tapi akhirnya dia bertanya padaku,"Mbak, ada pecahan 20rban 2 lembar dan 10rban 1 lembar? Tolong tukar, mbak."

Oh, jadi itu yang membuatnya bingung...dia hendak membayar bemo tapi uang yang dia punya 50rban. Pasti kena damprat, tuh, dari supir bemo. Lha, setiap penumpang hanya harus membayar Rp 3.000,-

Aku ingat di dompetku tidak ada uang pecahan yang dia minta.

"Aku ga ada, mbak. Ga sampai segitu yang ada di dompet. Gini aja, mbak aku bayari saja."

"Wah, jangan. Aku pake uang ini aja," katanya sambil menunjukkan uang yang ada di genggamannya.

"Gapapa, mbak. Entar mbak malah dimarahi ama supir bemo karena dianggap ga niat mbayar."

Singkat cerita, bemo itu melintas di depan kantorku dan aku meminta supir untuk menepikan kendaraan.

"Pak, ini sekalian sama mbak yang baju biru itu," kataku pada supir bemo.

"Terima kasih, mbak." kata gadis itu dari dalam bemo.

Hari demi hari berlalu. Aku sudah kembali dalam rutinitas keseharianku.

Kira-kira seminggu setelah kejadian itu, aku kembali berdiri di pinggir jalan menanti bemo menuju kantor. Kendaraan berlalu lalang melintas di depanku. Bemo yang aku tunggu tidak kunjung lewat. Aku bolak-balik melirik jam tanganku. Aku tidak suka datang terlambat, kecuali ada sesuatu yang lebih penting untuk aku kerjakan. Tiba-tiba seorang gadis berkendara sepeda motor berhenti di depanku. Aku sadar gadis itu tadi sudah melintas di depanku tapi lalu memutar haluan dan berhenti di depanku.

"Ayo, mbak, bareng saya," ajak gadis itu.

Siapa orang ini tanyaku dalam hati? Apa dia ga salah kenal orang?

"Ayo, mbak, dulu kan mbak sudah tolong aku."

"Tolong apa ya?"

"Itu lho, mbak...mbak sudah tolong bayarkan bemo."

Oh, ya ampun...aku sudah lupa kejadian itu. Aku bahkan sudah tidak ingat wajah gadis itu. Tapi ternyata gadis itu masih ingat. Dan akhirnya dia mengantarku ke kantor. Bonus untukku: mendapat seorang teman baru :D

Kadang kita tidak sadar bahwa perbuatan kita kepada orang lain meninggalkan bekas yang mendalam bagi orang itu. Kehidupan selalu berputar, ada saatnya kita jadi penolong dan ada saatnya kita yang membutuhkan pertolongan. Lakukan yang terbaik, who knows it will return to you someday.