Showing posts with label Kuliner. Show all posts
Showing posts with label Kuliner. Show all posts

Friday, February 24, 2012

Tips Memilih Ikan Asin


Tidak peduli orang lain menganggap lauk yang satu ini sebagai lauk orang kere, namun bagiku ikan asin adalah menu yang sangat nikmat dan layak untuk disantap. Apalagi jika menyantapnya dengan nasi yang masih hangat dan ditemani sambal (yiay....akhirnya aku mulai bisa makan pedas). Suer, bisa lahap banget makanku!

Ada banyak variasi olahan ikan asin...ada yang dibumbu balado, ada menjadikannya sebagai campuran nasi goreng, ada juga yang menjadikannya campuran dalam tumisan tumis tauge dll. Itu semakin menambah kenikmatan untuk menikmati menu favoritku. Hmm...nulis begini saja sambil membayangkan hasil olahan ikan asin sudah mampu membangkitkan selera makanku.

Tapi eits.....ternyata sekarang banyak suplier yang nakal dalam memproduksi ikan asin. Ada oknum yang mengolahnya dengan formalin, ada pula yang mencampurnya dengan tawas supaya ikan asin terlihat putih bersih, ada pula yang membuatnya dari ikan yang tidak segar. Jadi ketelitian pada saat memilih dan membeli ikan asin sangat diperlukan. Jangan sampai tubuh kita dimasuki zat kimia berbahaya yang bisa merusak kesehatan kita.

Jadi bagaimana cara memilih ikan asin yang bermutu baik, berikut tipsnya:


  • Saat memilih, tekanlah daging ikan. Jika masih kenyal dan tidak lembek atau rusak berarti ikan masih bagus. Jika mudah hancur, bisa jadi terbuat dari ikan yang tidak segar.

  • Aromanya juga segar atau tidak busuk. Sedangkan yang dibuat dari ikan kurang segar akan beraroma busuk.

  • Hindari memilih ikan asin yang warnanya putih, kaku karena biasanya diberi bahan pemutih. Usahakan membeli ikan dengan warna yang wajar, walau kadangkala berwarna hitam atau coklat, malah ikan seperti itu yang lebih baik dan bebas dari zat berbahaya.

  • Waspadai ikan yang tidak dihinggapi lalat karena kemungkinan mengandung zat pemutih.

  • Ikan yang mengandung zat hidrogen peroksida dan tawas, biasanya tidak gampang patah dan agak keras, oleh karena itu jika kita membeli ikan coba dipatahkan, jika agak susah maka mengandung zat tersebut.

  • Cuci ikan sebelum digoreng.

Wednesday, May 18, 2011

Icip - Icip Kuliner Khas Borneo



Ketupat Kandangan


Ini adalah menu khas pertama yang aku icipi di bumi Borneo. Menu yang hanya dapat ditemui di Kabupaten Kandangan (Kalimantan Selatan) ini berupa ketupat yang disajikan dengan kuah santan yang terasa manis di lidah....hampir mendekati rasa kuah opor ayam. Sebagai pelengkap, ketupat kandangan disajikan dengan pilihan ikan haruan / ikan gabus atau telur ayam rebus yang diberi kuah santan.


Lontong Orari


Umumnya bentuk lontong adalah seperti tabung yang dibungkus dengan lembaran daun pisang, namun di sini lontong dibentuk seperti segitiga pipih. 1 porsi Lontong Orari = 2 buah lontong + opor nangka muda + 1 butir telur rebus + 1 ekor ikan haruan goreng bumbu habang. Benar-benar porsi jumbo! Mantap nih untuk yang ingin menaikkan berat badan seperti aku.


Soto Banjar




Nah kalau yang ini sudah familiar di Surabaya. Hanya saja yang berbeda adalah suasana tempat menyantap Soto Banjar. Soto Banjar kali itu aku santap di atas rumah makan apung di Sungai Martapura sepulang perjalananku dari Pasar Terapung Lokbaintan. Selain menu Soto Banjar, di tempat itu juga menyajikan Sate ayam yang luar biasa enaknya! Menurutku pribadi, malah lebih enak satenya dibanding Soto Banjar yang adalah menu utama di tempat itu.

Saturday, April 9, 2011

NEVER OFFER ME THESE!!!!

There are several menus that I won't consume. I would rather eat plain rice or not eating if served menus are as follow:






FROG MEAT/SWIKEE

Although according to my director and colleagues frog meat is simly delicious. I don't think the same. Once I was on duty to Central Java, on the way to Semarang we stepped by to RM Swikee Purwodadi. OMG, it was nightmare! Watching them eating frog meat soup really ruin my appetite. Yacks!!!

CATFISH

Pecel lele is becoming wellknown lately, it's because this menu is easy to make, available every where, and cheap. But really I can't imagine myslef eating this kind of fish. So disgusting! It shaped like a snake.

EEL

If catfish disgust me, so it is! One of my friends really loves to eat eel. Cross my finger, I don't want to eat this!

DOG MEAT

So called RW (Rintek Wu'uk = Minahasa) or B1 (Biang = Batak). Because I'm a dog lover, I even ever had 11 dogs, I don't want to eat dog meat!

DUCK MEAT

My reason for not eating duck meat is riddicilous. Well...eversince I was a little girl I loved to watch and to read Donald Duck. His high temprament and his bad luck never fail to make me laugh. I don't want to eat duck meat because I don't want to add bad luck to duck family......hahahaha silly, right? But it is true.

RABBIT & PIGEON MEAT

They're just too cute to be eaten!

SHELLS

I don't know the reason yet...but I just can't help it.

OFFAL (TOUNGE, HEART, BRAIN, COLON, LIVER, HEART, ETC)

No...no...no...!!!


And...others, especially uncommon menu like grasshoper, bat, snake, horse, etc.

Am I picky? Oh yes! Please offer me common and ordinary menu which is not spicy.

Friday, December 10, 2010

Pationg

Biasanya aku paling moody kalau sudah menyangkut makanan. Bukan apa-apa sih, semua karena lambungku yang sensitif. Jadi aku benar-benar menjaga apa saja yang boleh masuk ke dalam perutku.

Sewaktu di Tana Toraja, aku tergoda untuk mencoba menu khas daerah sana, yaitu Pationg. Pationg ini ada bermacam-macam jenisnya. Ada yang berisi daging kerbau, ikan bandeng, atau babi. Cara memasak pationg tergolong unik. Sayur singkong + daging dimasak dalam bumbung bambu. Hasilnya bumbu masakan benar-benar meresap dan daging menjadi sangat lembut.

Pertama kali melihat Pationg, jujur aku merasa agak jijik untuk menyantapnya. Penampilannya sungguh tidak meyakinkan, tapi sudah kepalang tanggung memesan pationg ikan bandeng dan babi. Ternyata lezat sekali, terlebih karena menyantapnya dengan tangan (tanpa sendok dan garpu). Mantap sekali bersantap siang di situ karena depotnya memiliki view sawah terasiring dan sungai. Angin pegunungan membelai wajah kami yang gerah setelah menjelajah separuh Tana Toraja bagian selatan.

Teman seperjalananku memesan sate babi. Ternyata sate babinya ukuran jumbo (1 tusuk sate sebanding dengan 10 tusuk sate ayam di Surabaya). Benar-benar porsi jumbo...sepadan dengan energi yang kami keluarkan untuk menjelajah dan melawan hawa dingin di Tana Toraja.

Monday, November 8, 2010

Icip Icip Kuliner Medan

Walau hanya 3 hari berada di Medan, bukan berarti aku melewatkan wisata kuliner selama di sana. Aku sengaja skip menu-menu hotel, kecuali pada saat sarapan dan lebih memilih menu khas kota Medan...lebih sip lagi karena ditraktir kepala kantor cabang hehehehe

Mie Ayam Kumango

Ini adalah menu yang pertama kali diperkenalkan oleh kepala kantor cabang Medan. Begitu pesawat yang aku tumpangi landing, kepala cabang langsung mengajakku menu sarapan pagi di depot mie Kumango. Konon Depot Mie ini sangat terkenal di Medan. Rasa penasaranku timbul, apalagi menu favoritku adalah mie.

Berbeda dengan mie ayam yang sering kali kujumpai, mie ayam kumango disajikan dengan pelengkap sayur kecambah dan sawi hijau, daging ayam juga disajikan dalam bentuk suwiran (tidak dalam potongan dadu seperti yang biasanya aku nikmati di Surabaya). Sang pramusaji kemudian menawarkan minuman spesial: juice terong belanda dan juice markisa.

Menurutku pribadi sih....mie ayam kumango tidak selezat yang digembor-gemborkan oleh kepala cabang Medan. Menurutku malah jauh lebih enak mie ayam di Surabaya. Tapi suasana depotnya yang sangat bersih dan nyaman membuat para penikmat mie ayam dan menu-menu pilihan selalu kembali ke Depot Mie Ayam Kumango.

Udang Gala dan Steam Bawal RM Bintang (Jalan Taruna)







Ini adalah menu makan siangku pada hari pertama berada di Medan. Sebenarnya managerku sudah meminta menu ini sejak sarapan, namun karena RM Bintang belum buka, akhirnya dialihkan ke jam makan siang.

Tak kusangka ikan bawal bisa dimasak seenak ini!
Ikan Bawal disteam dalam kuah asam dan irisan jahe. Ampun deh enaknya. Daging ikan terasa begitu lembut dan bumbunya begitu meresap. Aroma amis ikan pun tidak ada sama sekali. Aku benar-benar merekomendasikan menu ini untuk dicoba!

Tidak puas hanya dengan menu ikan, aku menambah menu udang gala dalam pilihan makan siangku kali itu. Udang ukuran besar digoreng kering dengan menggunakan mentega. Tidak perlu dijabarkan lagi nikmatnya ^_^

BPK (Babi Panggang Kering) Tesalonika

Rugi ke Medan kalau melewatkan makan BPK Tesalonika (bagi yang non Muslim). Depot BPK Tesalonika di Jalan .... terkesan biasa sekali, tapi jangan ditanya yang mampir untuk menikmati menu pilihan di depot tersebut. Menu khas suku Batak ditawarkan oleh depot ini, mulai BPK, saksang, arsik ikan mas, dll...hebatnya lagi menu tidak dijual per porsi tetapi minimal 1/4 kilo! Menyantap sepiring nasi dilengkapi sayur singkong, babi panggang kering, sambal hijau, dan teh botol sosro dingin....wuih, mantap!!!

Selain itu, jangan lupa beli oleh-oleh khas Medan:
1. Bolu gulung Meranti
2. Bika Ambon
3. Pepaya Medan

Tuesday, June 1, 2010

Wisata Kuliner di Semarang

Kota Semarang memang terkenal sebagai salah satu kota yang kaya akan tempat-tempat wisata kuliner. Sebut saja lumpia, soto bangkong, kue moachi, bandeng presto, sate kempleng, tahu baxo, serabi, dll yang sudah begitu terkenal. Jadi begitu salah seorang teman kantor mengajakku untuk mengunjungi kampung halamannya, aku langsung mengiyakan sambil membayangkan menyantap nasi ayam di gang pinggir yang lezat atau nasi goreng babat atau soto daging ... hmmm yummy!

Tapi rupanya waktu yang ada sebagian besar terserap untuk mengunjungi tempat-tempat wisata yang ada di Ambarawa dan Semarang, sehingga kali ini aku kurang bisa melakukan salah satu hobbyku, yaitu wisata kuliner.

Es Kelapa Muda

Tidak seperti kebanyakan es kelapa muda yang aku ketahui, di mana air dan serutan daging kelapa muda disajikan dengan es batu dan sirup cocopandan atau karamel (gula pasir yang dilelehkan bersama air dengan komposisi 50:50), es kelapa muda di Semarang disajikan dengan gula jawa. Ternyata rasanya sangat menyegarkan, apalagi waktu itu aku menikmatinya pada saat matahari sedang bersinar dengan sangat terik!
Versi lidahku seperti minum es dawet namun tanpa cendol dan mutiara hehehehe

Soto Ayam

Pada hari kedua aku berada di Semarang, oleh sang tuan rumah aku bersama teman-temanku diajak sarapan pagi soto ayam di Raya Ngaliyan - Semarang. Kalau menilik dari tempat / warung soto ayam yang hanya berukuran 2 meter x 4 meter serta geber spanduk nama warung soto tersebut yang sudah memudar, kesannya kok kurang meyakinkan.

Pak Saeful - pemilik warung berpose narsis

Tapi jika dilihat dari deretan kendaraan yang parkir di depan warung plus bangku-bangku panjang di dalam warung yang penuh diduduki orang-orang yang sedang menikmati hidangan soto, aku menjadi yakin sekali kalau menu ini sangat layak untuk dicoba.

Coba lihat sajian soto ayam khas Semarang....hmmm begitu mengundang selera kan?

Soto ayam khas Semarang disajikan tanpa koya, kuahnya cenderung bening seperti kuah sup. Tak heran jika soto ayam terkadang juga disebut sup. Walau bening, bukan berarti tidak mantap, justru sebaliknya. Perpaduan bumbu yang pas, didominasi dengan aroma bawang goreng dan bawang putih goreng serta perasan jeruk nipis semakin menyempurnakan rasa.

Soto ayam khas Semarang disajikan dalam porsi kecil (seporsi = semangkuk sup hidangan prasmanan). Iseng-iseng bertanya kenapa disajikan dalam mangkuk sekecil itu, dijawab memang porsi makan orang Jawa Tengah rata-rata sedikit, tidak seperti orang Jawa Timur...hahahaha buset deh, aku kan orang Jawa Timur!

Tidak seperti soto ayam pada umumnya, soto ayam Semarang disajikan dengan hidangan pendamping: perkedel kentang, tempe goreng, sate telur puyuh, sate jerohan, dan sate ayam. Khusus untuk berbagai jenis sate tersebut, diolah bukan dengan dibakar di atas bara, melainkan dibumbu seperti kuah kecap.

Selain enak di lidah, ternyata menu ini ramah di kantong. Sewaktu aku menikmati soto ayam khas Semarang ini, aku ditemani oleh 3 orang teman plus 1 orang driver, dan ternyata hanya perlu merogoh kocek Rp 30.000,- padahal itu sudah termasuk minum dan berbagai macam hidangan pendamping....murah meriah! ^_^

Friday, April 16, 2010

RM Bandeng Pak Elan 1

Hari ini aku diminta 3 orang teman kantor untuk menemaninya survey 2 lokasi perumahan di kota Gresik. Kami berangkat ke lokasi sebelum jam makan siang melewati jalur tol.

Setelah beberapa saat memutari 2 lokasi perumahan yang saling berdekatan untuk mengecek fasilitas yang sudah tersedia sekaligus nilai strategis dan mutu bangunan, perut kami sudah tidak bisa diajak kompromi. Jadi, mulailah kami hunting tempat makan yang ada di kota Gresik. Kami menginginkan menu khas daerah, sehingga pilihan yang tersedia adalah nasi krawu atau bandeng olahan. Setelah berunding, akhirnya pilihan jatuh pada Rumah Makan yang terkenal dengan olahan ikan bandengnya, yaitu RM Bandeng Pak Elan.

RM Bandeng Pak Elan 1 terletak di Jalan Veteran 69 Gresik. Lokasi yang sangat strategis karena terletak di jalan arteri kota Gresik. Segera setelah melangkah masuk ke dalam RM Bandeng Pak Elan 1, kami memesan menu 1 ekor bandeng goreng tanpa duri, 2 mangkuk sayur asem, 2 porsi tahu goreng, 10 tusuk sate kerang, serta nasi putih yang disajikan dalam bakul anyaman bambu.

Hmmm...benar-benar nyamleng!
Bandeng digoreng kering dan gurih, hingga bagian kepala bisa dilahap habis...tidak perlu repot memisahkan duri-duri halus yang biasanya menyebabkan sebagian besar orang enggan menyantap ikan bandeng. Tahu gorengnya juga sangat nikmat, begitu juga dengan sate kerang, dan sayur asemnya. Wow! Tidak mengherankan jika RM Bandeng Pak Elan menjadi salah satu ikon terkenal di kota Gresik.

Kota Gresik terkenal juga dengan minuman khas daerahnya, yaitu Legen. Di RM Bandeng Pak Elan, Legen secara unik disajikan dalam bumbung bambu dan diberi sendok kuah yang terbuat dari batok kelapa gading. Sajian minuman khas Legen ini disebut Legen Bumbung. Legen Bumbung bisa diperoleh di RM Bandeng Pak Elan seharga Rp 25.000,-
Di siang seterik hari ini, segar sekali mereguk Legen ^_^

Wednesday, March 24, 2010

Depot Gudeg Bu Toegijo

Maaf para pembaca blogku karena akhir-akhir ini selera makanku lagi menggila, jadinya entry blogku sebulan ini kebanyakan mengenai makanan....

Emh, tempat makan yang kali ini akan aku referensikan adalah Depot Gudeg Bu Toegijo. Sebenarnya Gudeg merupakan makanan khas Yogyakarta, tapi berhubung aku berdomisili di Surabaya dan Gudeg adalah salah satu menu favoritku, aku jadi hunting di beberapa depot atau warung tenda kaki lima yang menjajakan menu Gudeg. Nah, salah satu penjaja gudeg versi paling oke di lidahku di Surabaya selain Gudeg Ibu Har (Jalan Sulung Surabaya) adalah Depot Gudeg Bu Toegijo.

Adalah Sutaaraito yang pertama kali mengenalkan aku pada Depot Gudeg Bu Toegijo. Dia mengatakan kalau dia sendiri tahu mengenai depot ini dari bosnya yang mengambil kuliah S2 di Unair. Nah, bosnya sendiri tahu dari teman kuliahnya. Jadi sangat jelas di sini, kalau Depot Gudeg Bu Toegijo dikenal melalui berita mulut ke mulut.

Bu Toegijo sudah memulai usahanya sejak 1970. Dia menjadikan teras dan ruang tamu rumahnya yang terletak di kawasan Kertajaya VI A / 46 Surabaya menjadi tempat usaha. Depot Gudeg Bu Toegijo buka mulai Senin - Sabtu (pukul 6 pagi - 6 sore), sedangkan pada hari Minggu buka mulai pukul 6 pagi sampai 1 siang.

Menu favoritku setiap berkunjung ke Depot Gudeg Ibu Toegijo adalah nasi gudeg + cecek + kare / opor ayam + tahu bacem berukuran raksasa (uenak pol)...mantap sekali rasanya, apalagi ditemani segelas jumbo es teh manis beraroma melati atau es jeruk manis yang mengalir segar di tenggorokan...hmmmm, bisa ga peduli deh mertua lewat hahahaha ^_^

Selain menu Nasi Gudeg, Depot Gudeg Bu Toegijo juga menyediakan Nasi Rawon, Nasi Campur, dan Lontong Cap Go Meh yang tak kalah lezatnya. Harga bervariatif sesuai dengan menu tambahan yang dipilih.

Pada awal bulan ini, aku beberapa kali memesan menu Gudeg dari Depot Gudeg Bu Toegijo untuk keperluan training sales seluruh cabang perusahaan. Aku sangat senang karena tidak ada keluhan apapun dari para peserta training mengenai menu yang disajikan, padahal biasanya cabang Makassar dan Medan paling cerewet mengenai menu makanan, begitu juga para jajaran Direksi. Itu artinya menu yang disajikan sesuai dengan lidah seluruh jajaran Direksi perusahaan dan para peserta training.

Seiring perjalanan waktu, saat ini Depot Gudeg Bu Toegijo telah memiliki 3 cabang yang menyebar di Raya Ngagel, Food Court GOCI, dan Pujasera Pring Ijo di Jalan Jemur Sari.

Tuesday, March 23, 2010

Nasi Goreng Jawa RM Soto Pak Djayus

Seperti namanya RM Soto Pak Djayus sebenarnya lebih terkenal karena menu soto ayam kampung, namun setiap kali berkunjung ke salah satu cabang RM Soto Pak Djayus yang terletak di dekat rumahku (Raya Tenggilis Mejoyo Surabaya), aku lebih memilih untuk menikmati menu Nasi Goreng Jawa Pak Djayus.

Yang istimewa dari Nasi Goreng Pak Djayus adalah bumbunya. Sang koki tidak menggunakan saos tomat untuk memberikan warna pada nasi melainkan hasil giling tomat, cabe merah, bawang putih, dan bawang merah....benar-benar nyata bedanya jika dibandingkan dengan nasi goreng jawa yang menggunakan saos tomat sebagai salah satu bumbu penyedap. Dan semakin nikmat dengan irisan daging ayam kampung serta telur rebus. Hmmm...aku suka banget! Padahal biasanya aku paling anti dengan menu masakan nasi goreng, tapi kali ini aku dibuat bertekuk lutut.

Selain menu soto ayam, RM Soto Pak Djayus juga memiliki beberapa alternatif menu pilihan seperti Mie Goreng Jawa dan Mie Kuah Jawa. Pilihan minuman juga bervariatif, mulai dari soft drink, es campur, es teler, serta aneka juice.

Hampir setiap hari Minggu pagi aku beserta keluarga singgah di tempat ini. Aku suka dengan suasana tempat makan yang bersih dan terkesan lapang karena terdapat banyak jendela yang "mencuri" pemandangan taman di sekeliling RM Soto Pak Djayus. Banyaknya bukaan, juga menghadirkan sirkulasi udara yang sehat. Hal lain yang membuat aku betah bersantap di sini adalah nuansa natural yang dihadirkan dengan dekorasi batu alam pada bagian lantai. Suasana Jawa semakin kental dengan hadirnya beberapa ornamen cermin berukuran raksasa dengan kayu berukir sebagai bingkainya dan para pegawai yang selalu mengenakan busana batik. Sungguh, menciptakan iklim bersantap yang santai dan nyaman.

Saturday, March 20, 2010

Warung Soto Cak To

Sebenarnya aku tahu tempat makan ini secara tidak sengaja. Waktu itu aku sedang dalam perjalanan pulang dari membezuk salah satu kerabat di sebuah rumah sakit swasta di Jalan Undaan Wetan - Surabaya. Saat itu aku melintasi sebuah kedai tenda berwarna hijau di pojokan jalan Ngemplak Gang I (sebelah pos satpam) yang didatangi begitu banyak pengunjung, bahkan beberapa dari mereka rela makan sambil berdiri di luar tenda padahal saat itu matahari sedang bersinar dengan begitu teriknya. Rasa penasaranku timbul, menjajakan makanan apa? Mengapa sebegitu ramai pengunjung di tempat itu dan tidak jarang dari para pengunjung adalah pengendara mobil-mobil mewah. Tapi segera aku redam rasa penasaranku karena aku harus segera menuju suatu tempat.

Pada jam makan siang beberapa hari kemudian, tiba-tiba salah satu atasanku mengajak beberapa orang anak buahnya makan siang bersama. "Aku mau menunjukkan ke kalian salah satu tempat favoritku untuk makan siang, kalian suka makan soto ayam kan?" begitu katanya.

Singkat cerita, ternyata dia membawa kami ke kedai tenda yang aku lewati beberapa hari sebelumnya. Jadi, di sini jual soto rupanya....kataku dalam hati. Warung Soto Cak To begitu nama kedai itu.

Aroma soto langsung menyambut dari luar kedai. Para pelayan berseragam kaos polo dengan logo salah satu merk minuman dingin menyapa kami dengan ramah dan mempersilahkan kami duduk seraya menanyakan pesanan kami. Sambil menanti pesanan kami tiba, aku memperhatikan para pelayan dengan ramah mengajak para pelanggan mereka berbicara. Kelihatan sekali kalau mereka adalah para pelanggan setia karena para pelayan sudah mengetahui kesukaan mereka masing-masing dan bercanda mengenai apa saja.

Akhirnya semangkuk soto ayam disajikan. Hmmm aromanya benar-benar membangkitkan selera makan. Kuahnya pas, tidak terlalu kental dan tidak terlalu bening. Paduan bumbu soto dan bubuk koya yang sempurna. Maknyus!!! Apalagi bila ditemani dengan segelas es kelapa muda atau es jeruk manis (tersedia juga es teh dan teh botol). Pantaslah tempat ini begitu ramai pengunjung. Rasa nikmat soto dipadu dengan keramahan para pelayan serta harga yang terjangkau menjadi magnet.

Seiring dengan semakin membludaknya pelanggan, akhirnya warung soto cak To menjadikan rumah tinggal sang pemilik di Jalan Ngemplak Gang I sebagai cabang. Aku sudah beberapa kali makan di cabang yang hanya beberapa langkah dari warung pusat, tempatnya jauh lebih nyaman dan bersih (karena berupa bangunan permanen, bukan warung tenda)...namun tetap saja aku harus ke Warung Soto Ayam Cak To sebelum jam makan supaya bisa kebagian tempat duduk.

Monday, March 8, 2010

Wisata Kuliner di Makassar

Berhubung baru berkunjung ke Makassar, aku mo share nih beberapa menu icip-icip selama kunjunganku ke sana....

Kapurung + Ikan Parede + Barobbo
Ini adalah menu khas pertama yang aku cicip setiba di Makassar. Beberapa rekan kantor cabang membawaku ke RM Aroma Luwu yang berlokasi di Jalan Rajawali.





Begitu melihat kapurung yang disajikan dalam mangkok kaca besar di atas meja, selera makanku langsung bangkit. Hmmm....tapi begitu aku akan menyendok masakan itu, orang-orang cabang langsung mengatakan kalau biasanya orang dari luar Makassar tidak menyukai menu ini karena rasanya yang kecut karena dan sagu (berbentuk seperti kolang-kaling pipih bening dan kenyal) yang memberikan sensasi aneh di mulut...ah, masa sih? Tanyaku dalam hati....dibilang begitu supaya aku tidak makan atau emang separah itu rasanya? Kubulatkan hati untuk menyuap kapurung ke dalam mulutku....slurp....wah, enak!!! Gini kok dibilang aneh sih? Apalagi sewaktu dipadu dengan Ikan Parede....wuih, mantap abis!!!

Setelah menghabiskan sepiring besar kapurung dan ikan parede, menu lain disajikan: barobbo. Barobbo sepintas tampak seperti bubur manado, hanya saja bahan utamanya adalah jagung, labu, bayam...sebagai teman menikmati barobbo, disajikan pula ikan asin goreng, irisan jeruk nipis, kemangi, dan sambal. Benar-benar nikmat! Aku langsung jadi fans barobbo.
Sup Konro

Walaupun sebenarnya menu ini tersedia di Surabaya, aku sama sekali tidak pernah memakannya. Gambaran yang ada di kepalaku mengenai menu yang satu ini begitu mengerikan dan tidak membangkitkan selera. Eh, ternyata di Makassar aku malah diajak makan malam dengan menu Sup Konro di Jalan Gng Bawakaraeng (sisi kanan jalan persis sebelum perempatan lampu lalu lintas Jalan Bandang dan Jalan Veteran). Demi menghormati yang sudah mengajak makan malam, aku mengiyakan. Sepiring nasi hangat disajikan...aku berdebar-debar menantikan sup konro disajikan di depanku....ngeri harus membayangkan menggerogoti tulang iga sapi. Benar saja, tak lama kemudian pelayan membawa piring berisi 6 potong iga sapi berukuran besar bertabur irisan daun bawang dan bawang merah goreng. Begitu menu itu disajikan di depanku dan hidungku menghirup aroma lezatnya, buyar langsung kengerianku. Jadi dengan pede aku menambah air jeruk nipis ke dalam kuah sup. Hmmmm lekker! Ga terasa aku sampai habis 2 porsi sup konro hehehehe

Pallu Basa

Ini dia menu makan siang hari kedua di Makassar. Ada banyak tempat yang menjual menu khas ini di Makassar, tapi yang terkenal enak adalah di Jalan Onta Lama. Tempatnya hanya berupa warung tenda, tapi jangan ditanya yang mengantri untuk makan di sana....


Pallu Basa disajikan dalam mangkuk kecil yang berisi potongan dadu daging sapi yang dipadu dengan kuah berwarna coklat kental yang kaya akan rempah-rempah dan diberi air perasan jeruk nipis / jeruk purut. Uenak tenan!


Mie Kering

Walaupun namanya mie kering, sebenarnya menu yang satu ini termasuk dalam kategori masakan berkuah. Bentuknya tidak terlalu berbeda jauh dengan Tamie Goreng Cap Jay, hanya bedanya yang disajikan dalam adonan kuah kental hanya sawi hijau dan irisan ayam. Dan tidak ketinggalan potongan jeruk nipis...rasanya orang Makassar mania jeruk nipis deh...tiap menu masakan di sana sebagian besar disajikan dengan irisan jeruk nipis. Aku menikmati mie kering Anto di Jalan Bali yang sangat terkenal di Makassar, sehingga tidak heran jika banyak yang mengantri untuk makan di tempat ini. Tempat ini buka hingga pukul 4 pagi setiap harinya. Sebenarnya ada tempat makan lain yang juga menyajikan menu yang sama di Jalan Irian, hanya saja tempatnya lebih kecil dan yang mengantri juga banyak, jadi aku lebih memilih Mie Kering Anto di Jalan Bali.

Pisang Epe


Masih di hari kedua...setelah makan mie kering, aku meluncur ke lokasi Pantai Losari...aku penasaran dengan yang namanya Pisang Epe. Ternyata pisang epe adalah pisang kepok yang mengkal, dipipihkan, lalu dibakar di atas arang, kemudian disajikan dalam piring kecil dengan dilengkapi saus yang terbuat dari gula jawa yang dicairkan. Istimewanya gula jawa cair ini diberi durian....ckckck sempurna enaknya, apalagi makannya sambil menikmati view pantai di malam hari, MANTAPH!!


Sup Saudara

Hari terakhir kunjungan ke Makassar, aku diajak makan siang dengan menu Sup Saudara. Tidak berbeda jauh dengan menu Sup Konro, hanya saja daging serta jerohan disajikan dalam bentuk potongan dadu, lengkap dengan irisan daun bawang dan tentu saja jeruk nipis. Enyak...enyak...enyak!

Sorry, khusus yang ini ga ada fotonya karena pas lagi low bat.



Pisang Ijo

Ini adalah pilihan hidangan pencuci mulut setelah menikmati Sup Saudara. Masih di daerah Pantai Losari, tepatnya di RM Hawaii. Pisang raja dibalut dengan adonan berwarna hijau, disajikan dengan bubur tepung beras, es serut, dan sirup plus susu kental manis. Slurp... nikmat sekali diminum pada saat siang hari yang terik. Perpaduan rasa manis dari sirup dan rasa gurih dari bubur tepung beras+santan menjadikan menu ini salah satu favoritku.


Coto Makassar


Belum bisa dibilang ke Makassar kalau belum mencicipi Coto Makassar. Biasanya begitu mendengar kata soto, yang ada dalam pikiranku adalah irisan ayam atau daging dalam kuah kaldu berwarna kuning yang disajikan dengan taburan bawang goreng dan irisan daun seledri. Tapi kuah Coto Makassar tidaklah berwarna kuning kunyit, melainkan kecoklatan...mirip dengan kuah Pallu Basa. Uniknya Coto Makassar disantap dengan ketupat, bukan nasi atau lontong. Aku menyantap Coto Makassar bersama beberapa orang kantor cabang Makassar di sebuah depot yang berlokasi di Jalan A.P. Pettarani.

Gila...bener-bener puas berwisata kuliner di sana!

Sukses menaikkan berat badan, YES!

Mau balik lagi ah ke Makassar....

Saturday, November 21, 2009

Warung Sate H. Abud

Bagi para penggemar sate dan gule, ada tempat makan baru, nih! Namanya Warung Sate H Abud. Berlokasi di Jalan Gubernur Suryo 1B-C Surabaya (terletak di depan Plaza Tunjungan, diapit oleh Hotel Majapahit dan Hotel Natour Simpang). Tempat yang sangat strategis di tengah kota Surabaya.

Nama Abud sendiri diambil dari singkatan pemilik rumah makan ini. Sedangkan "H" adalah singkatan dari halal, hygine, dan haujek (halal, bersih, dan enak) ^_^

Untuk sebuah new comer (soft opening pada Sabtu, 21 November 2009), warung ini cukup berani menetapkan jam operasional, tidak tanggung-tanggung, rumah makan ini buka mulai pukul 11 siang sampai dengan pukul 4 pagi! Akhirnya ada rujukan tempat makan baru, nih, buatku yang sering merasa lapar di tengah malam...tidak perlu lagi mengandalkan 14045 hehehehe

Range menu yang ditawarkan tentu saja aneka macam sate (sate ayam, sate kambing), gulai kambing, rendang kambing, dll. Sedangkan untuk pilihan minuman tersedia beraneka juice.

Untuk yang ingin berhemat, ada kabar baik....selama November 2009 seluruh menu makanan diberi diskon 20%. Ayo buruan ke Sate H. Abud!



Monday, November 16, 2009

Piring Suroboyo

Akhirnya aku menemukan tempat kabur baru di dekat kantor jika aku merasa bosan atau kurang cocok dengan menu catering harianku. Tempatnya hanya berjarak 5 menit dari kantor bila ditempuh dengan kendaraan, jadi tidak memakan waktu banyak untuk pergi-pulang ke sana. Cocok dengan durasi jam makan siang yang hanya 1 jam. Piring Suroboyo, itu namanya. Depot ini berada satu lokasi dengan Giant Hypermarket di Jalan Rajawali - Surabaya. Tempat ini pertama kali diperkenalkan oleh 2 orang sahabat baikku: Starlight dan Nit2x.

Yang aku suka dari depot ini adalah nuansa hijau yang sangat dominan....hehehehe maklumlah aku kan pecinta warna hijau. Mulai dari dinding, wall paper, sofa, name tag, daftar menu, piranti makan, bahkan tissue...semuanya berwarna hijau. Aku langsung sreg, selain lay out ruang yang rapi dan kebersihan yang terjaga. Tempat yang cozy dengan musik yang mengalun lembut. Sungguh awal yang baik.

Sebagaimana layaknya sebuah pujasera spesialisasi makanan Indonesia, pilihan menu di Piring Suroboyo cukup variatif, mulai dari Tahu Campur Kalasan sampai Bakso Pak Kus Petra.
Berhubung Tahu Campur yang kuinginkan sudah habis, Starlight dan aku memilih menu Lontong Mie dan tentu saja tidak ketinggalan minuman favoritku Teh Botol Sosro :D
Sedangkan Nit2x memilih menu nasi kikil.

Setelah menu kami selesai menyantap menu yang kami pesan, kami bertiga beranjak menuju kasir. Ternyata harganya bersahabat. Bertambah satu lagi alasan untuk kembali ke tempat ini.

Sambil melangkahkan kaki beranjak dari Piring Suroboyo, para waiter dan waitress mengiringi dengan senyum dan ucapan terima kasih, sama ramahnya pada saat kedatangan kami. Nice :)

I'll surely be back to Piring Suroboyo.