Tidak peduli orang lain menganggap lauk yang satu ini sebagai lauk orang kere, namun bagiku ikan asin adalah menu yang sangat nikmat dan layak untuk disantap. Apalagi jika menyantapnya dengan nasi yang masih hangat dan ditemani sambal (yiay....akhirnya aku mulai bisa makan pedas). Suer, bisa lahap banget makanku!
Ada banyak variasi olahan ikan asin...ada yang dibumbu balado, ada menjadikannya sebagai campuran nasi goreng, ada juga yang menjadikannya campuran dalam tumisan tumis tauge dll. Itu semakin menambah kenikmatan untuk menikmati menu favoritku. Hmm...nulis begini saja sambil membayangkan hasil olahan ikan asin sudah mampu membangkitkan selera makanku.
Tapi eits.....ternyata sekarang banyak suplier yang nakal dalam memproduksi ikan asin. Ada oknum yang mengolahnya dengan formalin, ada pula yang mencampurnya dengan tawas supaya ikan asin terlihat putih bersih, ada pula yang membuatnya dari ikan yang tidak segar. Jadi ketelitian pada saat memilih dan membeli ikan asin sangat diperlukan. Jangan sampai tubuh kita dimasuki zat kimia berbahaya yang bisa merusak kesehatan kita.
Jadi bagaimana cara memilih ikan asin yang bermutu baik, berikut tipsnya:
- Saat memilih, tekanlah daging ikan. Jika masih kenyal dan tidak lembek atau rusak berarti ikan masih bagus. Jika mudah hancur, bisa jadi terbuat dari ikan yang tidak segar.
- Aromanya juga segar atau tidak busuk. Sedangkan yang dibuat dari ikan kurang segar akan beraroma busuk.
- Hindari memilih ikan asin yang warnanya putih, kaku karena biasanya diberi bahan pemutih. Usahakan membeli ikan dengan warna yang wajar, walau kadangkala berwarna hitam atau coklat, malah ikan seperti itu yang lebih baik dan bebas dari zat berbahaya.
- Waspadai ikan yang tidak dihinggapi lalat karena kemungkinan mengandung zat pemutih.
- Ikan yang mengandung zat hidrogen peroksida dan tawas, biasanya tidak gampang patah dan agak keras, oleh karena itu jika kita membeli ikan coba dipatahkan, jika agak susah maka mengandung zat tersebut.
- Cuci ikan sebelum digoreng.








Rugi ke Medan kalau melewatkan makan BPK Tesalonika (bagi yang non Muslim). Depot BPK Tesalonika di Jalan .... terkesan biasa sekali, tapi jangan ditanya yang mampir untuk menikmati menu pilihan di depot tersebut. Menu khas suku Batak ditawarkan oleh depot ini, mulai BPK, saksang, arsik ikan mas, dll...hebatnya lagi menu tidak dijual per porsi tetapi minimal 1/4 kilo! Menyantap sepiring nasi dilengkapi sayur singkong, babi panggang kering, sambal hijau, dan teh botol sosro dingin....wuih, mantap!!!
Tidak seperti soto ayam pada umumnya, soto ayam Semarang disajikan dengan hidangan pendamping: perkedel kentang, tempe goreng, sate telur puyuh, sate jerohan, dan sate ayam. Khusus untuk berbagai jenis sate tersebut, diolah bukan dengan dibakar di atas bara, melainkan dibumbu seperti kuah kecap..jpg)
-001.jpg)




Begitu melihat kapurung yang disajikan dalam mangkok kaca besar di atas meja, selera makanku langsung bangkit. Hmmm....tapi begitu aku akan menyendok masakan itu, orang-orang cabang langsung mengatakan kalau biasanya orang dari luar Makassar tidak menyukai menu ini karena rasanya yang kecut karena dan sagu (berbentuk seperti kolang-kaling pipih bening dan kenyal) yang memberikan sensasi aneh di mulut...ah, masa sih? Tanyaku dalam hati....dibilang begitu supaya aku tidak makan atau emang separah itu rasanya? Kubulatkan hati untuk menyuap kapurung ke dalam mulutku....slurp....wah, enak!!! Gini kok dibilang aneh sih? Apalagi sewaktu dipadu dengan Ikan Parede....wuih, mantap abis!!!
Setelah menghabiskan sepiring besar kapurung dan ikan parede, menu lain disajikan: barobbo. Barobbo sepintas tampak seperti bubur manado, hanya saja bahan utamanya adalah jagung, labu, bayam...sebagai teman menikmati barobbo, disajikan pula ikan asin goreng, irisan jeruk nipis, kemangi, dan sambal. Benar-benar nikmat! Aku langsung jadi fans barobbo.

Walaupun namanya mie kering, sebenarnya menu yang satu ini termasuk dalam kategori masakan berkuah. Bentuknya tidak terlalu berbeda jauh dengan Tamie Goreng Cap Jay, hanya bedanya yang disajikan dalam adonan kuah kental hanya sawi hijau dan irisan ayam. Dan tidak ketinggalan potongan jeruk nipis...rasanya orang Makassar mania jeruk nipis deh...tiap menu masakan di sana sebagian besar disajikan dengan irisan jeruk nipis. Aku menikmati mie kering Anto di Jalan Bali yang sangat terkenal di Makassar, sehingga tidak heran jika banyak yang mengantri untuk makan di tempat ini. Tempat ini buka hingga pukul 4 pagi setiap harinya. Sebenarnya ada tempat makan lain yang juga menyajikan menu yang sama di Jalan Irian, hanya saja tempatnya lebih kecil dan yang mengantri juga banyak, jadi aku lebih memilih Mie Kering Anto di Jalan Bali.
Ini adalah pilihan hidangan pencuci mulut setelah menikmati Sup Saudara. Masih di daerah Pantai Losari, tepatnya di RM Hawaii. Pisang raja dibalut dengan adonan berwarna hijau, disajikan dengan bubur tepung beras, es serut, dan sirup plus susu kental manis. Slurp... nikmat sekali diminum pada saat siang hari yang terik. Perpaduan rasa manis dari sirup dan rasa gurih dari bubur tepung beras+santan menjadikan menu ini salah satu favoritku.

