Showing posts with label Renungan. Show all posts
Showing posts with label Renungan. Show all posts

Monday, June 20, 2016

Jadilah Barbie Bagi Dirimu Sendiri

Aku rasa tidak ada yang tidak mengenal boneka barbie, mainan andalan keluaran Matell yang benar-benar digandrungi hingga saat ini. Parasnya yang cantik, rambut pirangnya yang terurai panjang, tubuhnya yang sangat proporsional, dan penampilannya yang selalu modis. 

Kecantikan boneka barbie yang pertama kali diciptakan pada 1959 ini membuat banyak wanita iri dan berusaha untuk menjadi seperti barbie. Barbie menjadi trendsetter! Banyak wanita rela mengeluarkan uang yang tidak sedikit nominalnya hanya untuk menjadi sempurna seperti Barbie.

Valeria Lukynova dan Olga Oleynik adalah dua dari banyak wanita yang rela mempermak tubuhnya untuk memiliki penampilan seperti layaknya boneka Barbie. Tidak hanya menjalani serangkaian operasi plastik, bahkan Olga Oleynik rela memotong tulang rusuknya agar penampilannya menjadi benar-benar mirip Barbie.

Untukku pribadi, ada beberapa hikmah yang dapat aku ambil dari kisah hidup mereka...

1. Bersyukur dan Mencintai Diri Sendiri = Penting
Menurutku Tuhan adalah seniman yang sangat luar biasa. Tidak ada ciptaannya yang tidak memiliki keunikan. Bersyukur terhadap hasil ciptaan Tuhan adalah kata kunci yang sangat penting. Jika tidak, maka rasa bahagia tidak ada di dalam diri dan tidak akan berhenti membandingkan diri dengan yang lain. Rasa syukur itu mendorong tumbuhnya rasa cinta akan diri sendiri. Cinta akan diri sendiri di sini maksudnya bukan bersikap egois melainkan menjaga dan merawat ciptaan Tuhan, memaksimalkan hal-hal positif yang dimiliki.

2. No Pain No Gain
Obsesi untuk menjadi seperti Barbie, mengantar Valeria dan Olga untuk menjalani serangkaian operasi plastik dengan biaya yang tidak murah. Belum lagi perawatan setelah menjalani operasi plastik dan pernik-pernik yang harus dimiliki untuk menunjang penampilan menjadi Barbie. Intinya untuk meraih suatu ambisi, tentu ada pengorbanan atau harga yang harus dibayar.

3. Cantik = Bahagia?
Setiap orang memiliki tolak ukur masing-masing dalam mencapai kata bahagia. Ada yang mengatakan akan merasa bahagia bila memiliki nominal uang yang besar, ada yang bahagia bila memiliki suatu barang, atau memiliki penampilan yang sempurna, dll. Bagiku penampilan (dalam hal ini menjadi seorang yang cantik atau tampan sempurna) adalah sesuatu yang semu karena tidak akan bertahan seumur hidup.

4. Be your own Barbie
Jadilah Barbie bagi dirimu sendiri. Pereloklah budi pekertimu juga tutur katamu dan perkayalah wawasanmu, niscaya orang-orang di sekitarmu akan mencintaimu bahkan pada saat fisikmu sudah tidak lagi menarik.

Friday, August 26, 2011

TENANGLAH JIWAKU

Be still...calm down...tenang...akhir-akhir ini sering sekali aku mendengar kata-kata itu.
Tidak dipungkiri pergolakan, permasalahan, cobaan yang terjadi akhir-akhir ini membuatku merasa gelisah. Mengapa Tuhan tidak menjawab doa-doaku? Mengapa Tuhan seakan lepas tangan dan berdiam diri melihat aku seperti ini?

Tak ayal memang pada saat masalah menghimpit dan seakan Tuhan tidak campur tangan, hati menjadi gelisah dan pikiran berputar begitu keras untuk mencari jalan keluar dari permasalahan yang ada.

Tapi sebenarnya Tuhan tidak pernah lepas tangan. Segala permasalahan atau cobaan diijinkan untuk:


  1. Membuat kita semakin bersandar padaNya.

  2. Menyatakan kebesaranNya sekaligus untuk menyadarkan manusia bahwa tanpa Tuhan, manusia bukan apa-apa. Tidak patut manusia menyombongkan diri atas kemampuan otak, kemampuan finansial, dll.

  3. Membentuk karakter kita agar menjadi semakin indah di mata Tuhan.
Jadi karena Tuhan kita adalah Tuhan yang akbar, Tuhan pencipta semesta alam, mengapakah harus gelisah pada saat menghadapi masalah? Serahkanlah semua itu kepada Tuhan dan minta hikmat Tuhan untuk menyelesaikan setiap permasalahan yang ada. Tenang karena tahu pasti kita berada di tangan yang benar.


Pada saat kita berdoa dan Tuhan segera menjawab,

Saat itu kita percaya Tuhan menyelesaikan

Pada saat kita berdoa dan Tuhan berdiam diri,

Saat itu Tuhan percaya kita mampu menyelesaikan

Tuesday, August 16, 2011

Maaf, Tuhan....Aku Sudah Kecewa

Merenung...merasa Tuhan tidak bersikap adil padaku. Mengapa semua yang sudah kurancang sedemikian rupa, yang aku anggap paling baik dan sempurna bisa dimentahkan begitu saja? Jujur, aku kecewa.

Aku merasa Tuhan menghalangi aku untuk mencapai tujuan yang aku anggap baik. Aku merasa dianaktirikan.

Tapi benarkah demikian?
Ternyata tidak!

Tuhan merancangkan sesuatu yang lebih baik bagiku. Ternyata rancanganku tidak sempurna, jauh jika dibandingkan dengan rancangan Tuhan yang penuh perhitungan dan mempertimbangkan segala aspek.

Sungguh bodoh merasa mampu mengatasi hikmat Tuhan dan mendikte Tuhan untuk bekerja sesuai dengan versi hikmatku! Tidak ada makhluk ciptaan yang lebih pintar daripada penciptanya. Demikian juga aku. Hikmat, akal, akhlakku tidak akan mampu melampaui hikmat Tuhan yang tiada terbatas ruang dan waktu.

Jadi jalan terbaik adalah memohon hikmat Tuhan untuk mengerti akam kehendakNya dan dengan tulus menjalankan hidup agar genap rancanganNya di dalam aku. Agar orang lain juga dapat melihat buah kerja Tuhan di dalam aku dan memuliakan Bapa di Sorga. Karena itu, ya, Bapa, mampukanlah aku yang serba terbatas ini untuk mengikuti rancanganMu yang luar biasa dan ampunilah karena aku sudah kecewa.

Friday, August 5, 2011

Perintah Yang Tidak Diinginkan

Pernah membayangkan mendapatkan hadiah ulang tahun yang tidak sesuai harapan? Pernah mendapatkan perintah yang tidak diinginkan untuk dilakukan? Apa yang kemudian terjadi? Tetap menerima / menjalankan atau justru menolaknya?

Aku mengambil 3 contoh tokoh dalam Alkitab yang menerima perintah yang tidak menyenangkan. Pertama adalah Musa yang nota bene adalah seorang pangeran Mesir, ditunjuk Tuhan untuk membawa Bangsa Israel keluar dari Mesir. Kedua adalah perawan Maria yang ditunjuk Tuhan untuk mengandung Yesus. Ketiga adalah Tuhan Yesus sendiri yang harus disalib untuk menebus dosa seluruh umat manusia.
Bisa dibayangkan betapa tidak menyenangkannya perintah yang harus mereka jalani.


  1. Musa harus meninggalkan kehidupan mewahnya di istana di mana ia selalu dilayani, bergelimang harta benda dan kekuasaan, tiba-tiba harus memimpin ribuan orang Israel yang bawel untuk keluar dari Mesir tanpa fasilitas apapun. Musa sempat berujar mengapa bukan Harun - kakaknya yang ditunjuk untuk menjalankan itu semua.

  2. Maria yang saat itu telah bertunangan dengan Yusuf, harus mengandung di luar nikah. Memang keren boleh diijinkan mengandung keIlahian, tapi konsekuensi yang ditanggung juga sangat besar. Jika di zaman sekarang hamil di luar nikah dianggap aib, apalagi di zaman Maria. Pelaku perzinahan harus siap untuk dirajam batu hingga mati. Kalaupun semisal hal itu tidak terjadi, Maria pasti menjadi bahan gosip dan terlebih dari itu, putus hubungan dengan tunangannya.

  3. Lalu Yesus, menanggalkan keilahiannya untuk menjadi sama dengan manusia. Merasakan lapar, haus, ditolak, dihina, dan mati disalibkan oleh mahluk ciptaanNya sendiri. Pada malam sebelum Ia disalib, Yesus sempat berujar kepada Bapa di Surga: biarlah cawan ini lalu daripadaKu.

Pergumulan yang sama sekali tidak ringan. Mereka harus rela melepas zona nyaman mereka untuk menjalankan perintah Tuhan. Aku yakin mereka bisa menjawab "tidak" untuk perintah Tuhan, tetapi mengapa mereka kemudian menyanggupi perintah yang mereka tahu akan membuat mereka tersiksa?


Dua hal yang sangat aku yakini, yaitu pertama bahwa Tuhan tidak asal menunjuk orang untuk menjalankan titahNya. Dia tahu bahwa orang yang Dia tunjuk adalah orang yang akan menyelesaikan tugas yang diberikan kepadanya hingga selesai. Kedua, bahwa si penerima perintah/tugas menyerahkan diri secara total kepada Tuhan. Yakin dan percaya bahwa Tuhan tidak lepas tangan. Tuhan akan ikut campur untuk memampukan mereka menyelesaikan tugas. Lihat saja bagaimana Tuhan menurunkan 10 tulah dan membelah lautan untuk meloloskan bangsa Israel dari cengkraman bangsa Mesir. Bisa dilihat juga dari campur tangan Tuhan menyelamatkan status sosial Maria.

Jadi pada saat kita bertanya-tanya mengapa kita harus menjalani sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginan kita, ingatlah bahwa Tuhan selalu ikut serta merancangkan segala sesuatu yang mendatangkan kebaikan bagi kita dan bahwa Dia akan memampukan kita untuk menyelesaikan tugas. Jbu.

Friday, May 14, 2010

Pohon Ara Yang Dikutuk

Markus 11 : 12 - 14, 20-24

Pada zaman dahulu, buah ara adalah salah satu sumber makanan di Timur Tengah selain buah anggur dan zaitun. Pohon ara dapat tumbuh di daerah subur, maupun di daerah berbatu. Ketinggian pohon ini bisa mencapai belasan meter.

Mengapa Yesus mengutuk pohon Ara yang tidak berbuah padahal saat itu bukan musim buah Ara? Apakah Yesus kurang kerjaan dan menjadi iseng karenanya?

Lebih lanjut kita mencoba mengenal pohon Ara. Terdapat berbagai macam pohon Ara (Ficus Arica), diperkirakan ada 30 jenis pohon Ara. Nah, pohon Ara yang pada saat itu dikutuk Yesus, adalah jenis pohon Ara Kapri. Pohon Ara Kapri berbuah 3 kali dalam setahun, yaitu pada musim semi, musim panas, dan musim dingin. Jadi sebatang pohon Ara Kapri sehat bisa berbuah selama 10 bulan dalam setahun.

Pada musim semi (profichi) buah Ara yang dihasilkan adalah buah Ara Sulung / Bikurah / Ara Hijau yang bentuknya kecil seperti biji almond dan jumlahnya tidak terlalu banyak.

Pada musim panas (mammoni) buah Ara yang dihasilkan sangat banyak dan enak rasanya. Buahnya disebut bungaran. Biasanya oleh pemilik pohon Ara, buah bungaran dipergunakan selain untuk disantap, juga untuk mendapatkan penghasilan ekonomi. Saat inilah yang disebut musim buah Ara.



Sedangkan pada musim dingin (mamme), buah Ara yang dihasilkan kecil-kecil. Buah ini disebut buah pag. Buah pag, diperuntukkan khusus untuk Kaum Lewi dan orang-orang miskin.

Memproduksi Buah Roh
Jika Yesus disalib pada pertengahan April, maka diperkirakan kejadian Yesus mengutuk pohon Ara adalah pada awal April (musim dingin). Sehingga, bisa jadi yang dicari Yesus pada saat itu adalah bukan buah Ara bungaran, melainkan buah pag. Sehingga pada saat Ia tidak mendapati satu buah pag-pun pada pohon Ara itu untuk menghilangkan rasa laparNya, Yesus menjadi kecewa ketika Ia hanya menjumpai daun saja.

Yesus tidak mencari sesuatu dari orang yang tidak mengenalNya. Allah menilik sampai ke dalam hati orang. Memang daun tampak hijau menyegarkan dan dapat menutup "ketelanjangan" kita dari mata manusia, tetapi tidak dari mata Bapa. Janganlah mengkamuflase dengan keaktifan kita dalam berbagai pelayanan dan kepengurusan, namun keimanan kosong. Tidak ada buah yang dihasilkan.

Jikalau kita disebut orang Kristen dan membawa nama Kristus, maka Tuhan mencari buah-buah kehidupan dari kita. Sebuah pohon dikenali dari buah yang dihasilkannya. Orang Kristen yang percaya pada Yesus dikenal dari buah roh yang ada di dalam dirinya.

Ada 9 buah roh, bukan 9 buah-buah roh...artinya 9 buah roh (seperti yang tercantum dalam Galatia 5) secara utuh dan menyeluruh harus kita hasilkan. Kita tidak dapat memilih 4 dari 9 ataupun 6 dari 9, melainkan keseluruhan. Itu bukan pilihan, melainkan keharusan.

Pengikut Kristus harus memproduksi buah roh. Kegagalan mengakibatkan dicampakkan ke lautan api (Matius 24 : 14 - 30)

Penatalayanan Yang Baik
Mengapa buah pada musim buah pag sudah habis?

Ada 2 alasan yang mungkin terjadi. Pertama, pemiliknya mengabaikan aturan yang mengharuskan buah pada tahap ketiga ini untuk orang Lewi dan orang berkekurangan. Mereka memanennya untuk diri sendiri. Sifat manusia cenderung tergoda untuk memuaskan keinginannya sendiri, memperkaya diri sendiri dengan mengambil yang bukan menjadi haknya.
Bangsa Israel mempunyai aturan yang unik tentang sebuah keseimbangan. Dari kedua belas suku Israel, suku Lewi tidak mempunyai hak atas milik pusaka tanah perjanjian dan mengusahakan untuk penghidupannya. Mereka mempunyai tanggung jawab khusus sebagai pengurus rumah Tuhan dan hal-hal yang berhubungan dengan kerohanian umat Israel. Sebagai gantinya, Tuhan menetapkan bahwa mereka berhak mendapatkan penghidupan dari perpuluhan kesebelas suku Israel lainnya (Bilangan 18:21). Aturan ini berlaku juga untuk kasus yang sedang kita bicarakan.

Yesus tampaknya ingin mengatakan kepada kita bahwa orang-orang yang sudah dipercayai untuk menjadi pemilik dan pengelola pohon ara, atau pekerjaan apapun juga, harus melaksanakan tanggung jawabnya menjaga keseimbangan. Di sini Yesus menonjolkan tentang prinsip penatalayanan. Kita bisa membandingkan tindakan Yesus mengutuk pohon ara ini dengan perumpamaan tentang talenta. Ketika seseorang dipercayakan talenta kepadanya, ia harus mengelolanya untuk tuannya, bukan untuk diri sendiri. Itu adalah prinsip penatalayanan, menata apa yang sudah dipercayakan kepadanya dengan sikap hati sebagai penatalayan Tuhan.

Belajar Mencukupkan Diri Dengan Apa Yang Ada
Kemungkinan kedua mengapa buah ara itu habis adalah ada oknum orang Lewi atau orang berkekurangan yang memanfaatkan kesempatan dengan mengambil secara berlebihan. Merasa itu adalah haknya, golongan inipun merusak keseimbangan dengan melupakan bahwa yang berhak bukan hanya dia sendiri.

Buah ara segar hanya dapat bertahan sebentar. Menurut informasi, saat ini sekalipun ada alat pendingin, buah ara yang didinginkan hanya bisa bertahan 2-3 hari saja. Dengan demikian orang-orang yang memerlukannya saat lapar dalam perjalanan, cukup mengambil untuk dirinya pada hari itu.

Demikian juga orang-orang berkekurangan harus belajar untuk tidak memanfaatkan kesempatan dari kebaikan hati orang yang mampu melaksanakan tanggung jawab penatalayanan yang baik. Menjadi orang berkekurangan secara ekonomi, pengetahuan, dll, bukan berarti tidak mempunyai sesuatu yang dapat diberikan untuk mencukupkan orang lain lagi.

Jadi kalau Yesus mengutuk pohon ara hingga mati, siapakah yang akan merugi?
Pertama, pemiliknya. Kedua, orang-orang Lewi dan orang-orang berkekurangan.

Jadi apakah Tuhan kejam?
TIDAK!

Karena Dialah yang memberikan hidup dan pertumbuhan kepada pohon ara itu, Dia pula yang berhak mengambil kehidupan itu kapan pun jika tidak lagi berguna sebagaimana tujuan semestinya. Tuhan ingin mengingatkan kita supaya kita melaksanakan apa yang menjadi tanggung jawab kita dengan baik!

Jbu ^_^

Monday, November 16, 2009

Hari Hari Terakhir

Apa yang akan kamu lakukan seandainya kamu tahu kapan kamu akan mati?

Seandainya pertanyaan itu ditujukan kepadaku, maka aku akan menjawab kalau aku akan menjalani sisa hidup yang ada dengan sebaik-baiknya, menikmati setiap detik yang ada dengan orang-orang yang kukasihi.

Sayangnya, tidak ada satupun manusia yang tahu kapan dia akan mati. Sekalipun peramal yang paling hebat. Itu adalah rahasia yang Tuhan pegang.

Pertanyaan tadi membuatku selalu berpikir ulang dalam mengisi hidupku. Apakah aku sudah melakukan yang terbaik hari ini? Apakah aku sudah menyenangkan orang-orang di sekitarku atau malah sebaliknya? Apakah aku terpuruk dalam kesedihan, kepahitan, dan kebencian? Atau aku membagi kebahagiaan, kedamaian, dan kasih?

Tiap detik adalah anugerah. Aku bisa saja mati sedetik mendatang. Kematian bukan sesuatu momok, tapi bukan juga sebuah alasan untuk merengkuh kesenangan dunia tanpa mengingat mata Tuhan tertuju padaku. Aku coba lakukan yang terbaik yang aku bisa.

Aku tidak tahu kapan aku mati. Biarlah hidupku yang tersisa dan nafas yang masih dipercayakan kepadaku dapat aku pertanggungjawabkan nantinya. Hingga pada saatnya nanti Tuhan memanggilku, Dia menyambutku dengan senyuman dan rengkuhan hangat sambil berkata,"marilah anakku yang Kukasihi, mari tinggal bersamaKu."