Monday, June 6, 2011

Apakah Aku Kejam Kalau Begitu?

Lebih jahat mana:

Membiarkan dan menutup mulut terhadap suatu kesalahan atas nama tidak tega atau dengan tegas menyatakan kebenaran?

Haruskah aku membiarkan nuraniku tercabik karena tahu suatu kesalahan secara berulang-ulang terjadi padahal aku tahu aku bisa menghentikannya atas dasar kasihan pada sang pelaku?


Adakah orang tua membiarkan anaknya melakukan kesalahan yang sama tanpa menegurnya?

Adakah sahabat sejati membiarkan sahabatnya berbuat kesalahan tanpa menegurnya?

Apakah bisa disebut orang tua yang baik jika membiarkan anaknya bermain dengan binatang buas?

Apakah bisa disebut sahabat yang baik jika membiarkan sahabatnya terjerumus dalam kenistaan?

Apa jawabmu?

TIDAK?

Oh, benarkah?

Jadi mengapa ada stempel "TEGA & KEJAM" di dahiku hanya karena aku menyuarakan kebenaran?

Apakah tidak lebih kejam jika aku membiarkan sahabatku berbuat salah?

Apakah tidak lebih kejam jika aku tidak menuntun sahabatku ke jalan yang benar?

Jadi mengapa aku dicap "KEJAM"?

Tidakkah kamu sadari dibutuhkan keberanian dan keteguhan hati untuk menyatakan kebenaran?

Atau tidakkah kamu sadari dibutuhkan kelapangan dada untuk siap menerima tatapan sakit hati, makian, atau suara memelas?

Apakah aku kejam kalau begitu?

Lebih jahat mana:

Membiarkan dan menutup mulut terhadap suatu kesalahan atas nama tidak tega atau dengan tegas menyatakan kebenaran?

Saturday, June 4, 2011

Suramadu by Night Cruise - An Incredible Evening


Pemandangan Jembatan Suramadu Kala Petang



Enjoying Suramadu Bridge view from Kenjeran beach is common, enjoying Suramadu Bridge view from the boat is really stunning!

Biasanya aku hanya menikmati pemandangan Jembatan Suramadu dari tepian Pantai Kenjeran, tapi kali ini aku bisa menikmati kecantikan dan kemegahan Jembatan Suramadu dari dekat. Bukan berarti kala itu aku melintasi Jembatan Suramadu, melainkan berada di atas kapal wisata Wicitra Dharma yang disewa oleh IABC.

Adalah sebuah kesempatan langka untuk bertemu orang-orang penting di bidang diplomatik, Duta Besar Australia untuk Indonesia dan Konsulat Jendral Amerika adalah 2 dari 174 undangan yang hadir kala itu.


Dubes Australia dan Margie Dancers

Pada saat langit berwarna merah keemasan, kapal meninggalkan Dermaga 1 Ujung Surabaya seraya acara dibuka dengan suguhan tarian Madura oleh 6 murid sekolah Margie. Di penghujung tarian masing-masing penari mengajak para undangan yang mayoritas adalah WNA untuk ikut menari. Aku tergelak melihat semangat para undangan bule untuk menari walaupun gerakan mereka kagok dan sangat lucu.

Acara dilanjutkan dengan sambutan dari perwakilan IABC Jatim dan Duta Besar Australia. Sungguh luar biasa, dia memberikan pembukaan dalam bahasa Indonesia! Tak ayal audience memberikan sambutan applause.
Selepas 1 jam, acara formalitas berakhir dan para undangan dipersilahkan untuk menikmati hidangan yang tersaji di dek depan dan belakang kapal. Sementara para undangan menyerbu hidangan, aku sengaja mengambil kesempatan untuk berpose bersama Konsulat Jenderal USA.



Berpose bersama Konsulat Jenderal USA di Surabaya




Narsis dengan latar belakang Jembatan Suramadu

Langit di luar telah menjadi gelap seiring terbenamnya sang surya. Lampu di sepanjang Jembatan Suramadu telah dinyalakan...cantik sekali! Aku sengaja menunda makan malam demi bisa mengabadikan moment langka itu. Kapan lagi bisa berpose dengan latar belakang Jembatan Suramadu dari jarak dekat?