Monday, November 29, 2010

Foot Note: Maros - Makassar (again)

It was my third time visited Makassar and I never got bored! I think I felt in love with Makassar and its surroundings which full of beautiful natures.

The flight I took landed smoothly in Hassanudin international airport on 8.35 am. I intensionally took the earliest flight so I could spend my time maximally. That day my friend and I planned to explore Maros (Bantimurung waterfall and Leang-Leang) until day time then returned to Makassar until late at night, then we would continue our trip to Tana Toraja.

After landed, I directly stepped to KFC counter. I was so starving. By the time I finished my breakfast, my friend picked me up at the airport. We rented a Toyota Avansa+driver (450,000/day incld. Driver+fuel) based on my friend who worked as Reuter's photographer.

Bantimurung Waterfall

We directly headed to Maros. Bantimurung waterfall was our first destination. I've visited this spot before (http://mycoratcoretz.blogspot.com/2010/03/foot-note-bantimurung.html). This time Bantimurung waterfall looked furious, strong stream. The water color was no longer green like my first visit a few months ago but brown for it brought muds.

Leang-Leang

Finally I could visit ancient men caves called Leang-Leang. I was really excited to visit this site, I felt like Indiana Jones. The word "leang" itself meant cave, so Leang-Leang means caves. There were 54 sites in Leang-Leang e.q. Leang Burung, Leang Pettae, Leang Pettakere, etc.

When we showed up on Leang-Leang gates, we found that it was locked. Then suddenly a man showed up to opened the gate for us. After paid IDR 5,000/person for retribution we walked through the path with a guide.

The view in here was remarkable! It was suprising to know that ancient people really smart in finding their shelter: lime hills covered with green forest. So beautiful!


The first cave we visited was Leang Pettae. We had to stepped on iron ladders and walked through locked gate to come inside the cave.

Our Guide pointed at hand palm and boar paintings on the cave ceiling. It was rather difficult to find the right angle to take the picture as it's slipery and the land I stood on was cracked.


Boar painting

Hand Palm Painting

Between those hand palms painting there was a hand palm with only 4 fingers. Our guide explained that it meant to show one's grief. So if one of their family member was passed away, they cut their own finger.

The second cave we visited was Leang Pettakere. There were also hand palm and boar paintings in this cave, but the specialty of this cave was fossiled kitchen trash (shells).





To avoid damage, the location was fenced

I was wondering how come these shells could be here as I know the nearest coast was about 60 kilometers from there. How could be there were lots of shells in front of the cave? Then our guide told me that there were 2 theories. First, that place was close to the sea. Second, ancient people were fishermen and they brought their catch to their cave.

After walked around, we walked back to the gate. Our guide invited us to visit the museum which had so many cave pictures, stones, ancient people tools and jewelry, giant shell, etc.


Leang Leang Museum

Then we left Leang-Leang. We chose different way. This time we took a route which leaded us to marble factory and Bosowa cement factory and finally headed to Poros Maros.



View ala Guilin - RRC in Maros

Tadius, our driver really familiar to this place. He even recommended some places to stop by just to satisfy our photography intension. Perhaps it was because he sometimes worked with Reuters photographer thus he knew great places to be framed. Once we passed a really exotic site: curved lime hills and river splited. Indeed Indonesia was beautiful!

Somba Opu Fortress

It was my second time visiting Somba Opu. There was a little difference in entry road headed to this fortress. On my first visit (http://mycoratcoretz.blogspot.com/2010/06/foot-note-benteng-somba-opu-makassar.html) I took east way (turned left after crossed the bridge), but since there was restoration on this sites, we had to take west way (turn right after crossed the bridge). We passed civil houses before reached the fortress.

Traditional Harbour: Paotere


Adzan Maghrib was sounded when we entered Paotere traditional harbour. Sea aroma gasped into my scent when I walked out from the car. My friend and I intensionally wanted to frame golden moment for photography lover (sunset).

Unlike the beaches in Surabaya and Jakarta, Paotere was neat and clean. Pinishi boats were line up on my right. The water was so clear invited people to jump and swim on the coast line. It was really tempting, but unfortunately I had to bury it as I had to go to Tana Toraja that evening.

Monday, November 15, 2010

Foot Note: Pesona Danau Toba

Beruntung sekali bisa mencuri kesempatan untuk berkunjung ke Danau Toba pada saat perjalanan Dinas ke Medan awal November 2010 yang lalu.

Bis Semesta melaju dari Terminal Ampelas meninggalkan kota Medan pada pukul 07.15 Wib. Kondisi bis tanpa AC dan kursi tegak, maklumlah harga tiket bis hanya Rp 22.000. Jadi bisa dibayangkan 5 jam perjalanan yang aku tempuh menuju Parapat adalah perjalanan yang melelahkan dan membosankan karena pemandangan sepanjang perjalanan yang didominasi perumahan penduduk dan kebun kelapa sawit. Tapi itu sama sekali tidak menyurutkan semangatku untuk pergi seorang diri ke Danau Toba.

Pukul 11.30 Wib aku memasuki kawasan Danau Toba. Aku melangkah turun dari bis yang terus melaju ke arah ... bersama beberapa penumpang yang lain. Menghirup oksigen sebanyak-banyaknya sambil menatap pesona Danau Toba. Ya, Tuhan...cantik sekali! Terhapus sudah rasa penat di badanku dan kedongkolanku karena harus menghirup asap rokok selama perjalanan ke Parapat.

Karena waktu kaburku hanya sebentar, aku melangkah cepat ke tempat kapal penyebrangan. Cukup jauh rupanya. Akhirnya aku memutuskan untuk naik angkutan umum yang kebetulan melintas. Sang pengemudi mengantarku sampai ke tempat penyebrangan walau itu bukan rutenya.

Aku menaiki kapal penumpang menuju Tomok dengan merogoh kocek Rp 5.000,- Kapal yang kutumpangi melintasi Danau Toba selama kurang lebih 45 menit. Aku mengisi waktu dengan memotret keindahan danau dan membiarkan semilir angin sejuk menerpa kulitku. Aku sengaja memilih tempat duduk di bagian luar yang tak beratap. Selama perjalanan aku berkenalan dengan 3 orang turis Belanda dan lalu kami memutuskan untuk berkeliling di Tomok bersama.

Sigale-Gale

Begitu kapal bersandar, kami langsung melangkahkan kaki menuju Kampung Adat Sigale-Gale (melewati jalan kecil yang kanan kirinya dipenuhi oleh pedagang kaki lima yang menjajakan aneka macam suvenir khas Danau Toba). Tak sampai 10 menit kamipun tiba di Kampung Adat Sigale-Gale. Kebetulan di tempat itu sedang berlangsung tarian Tor-Tor dengan iringan musik khas suku Batak yang penuh semangat. Boneka kayu yang berada di depan rumah adat menari-nari...bergerak-gerak sendiri tanpa ditarik-tarik oleh seutas tali apapun.

Makam Kuno Raja Sidabutar



Dari situ kami kemudian melangkah memasuki kuburan tua Raja Sidabutar. Sebelum masuk, kami harus mengenakan ulos. Aku sempat mengajukan pertanyaan pribadi kepada juru kunci makam sambil berbisik...aku takut tidak diperbolehkan masuk ke situs makam karena sedang berhalangan. Untunglah ternyata hal itu tidak diperhitungkan, jadi aku bisa melenggang masuk.




Di dalam makam batu inilah Raja Sidabutar dan istri pertamanya disemayamkan


Makam batu calon istri kedua Raja Sidabutar yang kemudian urung dilaksanakan pernikahannya

Juru kunci makam menjelaskan mengenai sejarah Raja Sidabutar dan beberapa simbol. Dua di antaranya adalah cicak dan 4 buah payudara. Cicak menyimbolkan kemampuan orang suku Batak untuk beradaptasi dan berbaur, sama halnya seperti cicak yang bisa dijumpai di segala tempat. Sedangkan 4 buah payudara melambangkan kesucian, kesuburan, harmoni, dan kemakmuran.

Aku kembali bertanya mengenai selendang yang menghiasi masing-masing makam, ternyata ada maknanya. Warna putih melambangkan surga, warna merah melambangkan dunia fana, dan warna hitam melambangkan dunia bawah tanah.


Museum Batak

Dari Makam Tua Raja Sidabutar, kami berjalan menuju Museum Batak. Di halaman samping depan museum terdapat kumpulan batu yang susun menyerupai meja dan kursi melingkar, terdapat pula beberapa buah patung.


Museum ini cukup unik karena menggunakan konsep rumah panggung. Untuk memasuki museum harus menaiki beberapa buah anak tangga yang terbuat dari kayu. Begitu memasuki bangunan utama, kami langsung disuguhi beraneka ragam perabot dan perangkat rumah tangga, kain tenun, alat musik, patung-patung kayu yang unik, dll. Tidak ada patokan pasti mengenai harga masuk museum, hanya terdapat kotak kayu kecil di samping pintu masuk yang bisa diisi sesuai kesediaan pengunjung. Biaya tersebut nantinya akan dipakai untuk perawatan benda-benda yang ada di dalam museum tersebut.


Museum Batak



Para-para


Sale-Salehan (tungku dan gantungan ikan yang akan diasapkan)

Setelah puas menjelajah musem dan mencecar guide dengan berbagai macam pertanyaan, kami melangkah ke sisi kiri bangunan museum. Di situ terdapat kantin kecil yang menyediakan aneka minuman dingin. Kami duduk di sana beberapa saat sambil bercerita, bertukar informasi, dan bercanda.

Tak terasa jam di tanganku sudah menunjukkan pukul 3 sore...aku harus segera menyebrang dan mengejar bis agar tidak terlalu malam tiba di kota Medan. Belum puas rasanya, aku harus kembali lagi ke Danau Toba. It's a promise!

Foot Note: Wisata Kota Medan

Wajib hukumnya untukku menjelajahi daerah yang baru aku kunjungi, paling tidak untuk mencicipi makanan khas daerah tersebut atau mengunjungi tempat-tempat wisatanya. Jadi walaupun dalam rangka tugas kantor, aku harus bisa menyempatkan diri untuk menjalankan hukum wajibku.

Salah satu impianku adalah menginjakkan kaki di Sumatera. Pucuk dicinta ulampun tiba pada saat aku ditugaskan ke Medan dalam rangka seminar. Aku langsung menjelajah dunia maya untuk mencari informasi mengenai informasi tempat-tempat wisata di dalam kota yang bisa kukunjungi dalam waktu yang singkat mengingat aku terikat jadwal kerja yang padat selama di sana.

Istana Maimun

Istana Maimun terletak di tengah kota, berdekatan dengan masjid agung. Ini adalah tempat wisata pertama yang kukunjungi di kota Medan. Raja yang menghuni istana ini masih sangat muda, baru berusia 10 tahun!

Tampak dari depan bangunan ini sangat megah dengan warna dominasi kuning dan putih. Di bagian samping depan halaman dimanfaatkan oleh para pedagang tanaman hias sehingga tampak asri.

Tepat di bagian depan tangga menuju gerbang utama istana terdapat beberapa pedagang kaki lima yang menjajakan kaos bersablon khas kota Medan.

Kesalahanku adalah mengunjungi istana Maimun sewaktu shollat Jumat jadi hanya diperkenankan mengitari bagian luar dan halaman istana saja. Pengunjung boleh masuk ke bagian dalam istana seusai shollat Jumat atau pada pukul 2 siang. Karena waktu itu masih menunjukkan pukul 11.30, aku memutuskan untuk mengunjungi tempat wisata lain di kota Medan.

Tjong A Fie's Mansion

Tjong A Fie alias Tjong Fung Nam adalah legenda mayor keturunan Tionghua di Medan. Ia pertama kali menjejakkan kaki di Sumatera pada 1877. Pada masa pemerintahan Hindia Belanda ia ditunjuk menjadi mayor karena kesuksesannya berbisnis, hal ini dimaksudkan untuk mengurus komunitas Tionghua di Medan. Bahkan oleh kekaisaran Cina (Dinasti Ching) ia ditunjuk menjadi "Honorary Officer for Far East".

Rumah unik ini terletak di kawasan niaga kota Medan, tepatnya di Jalan Ahmad Yani 105. Mudah sekali menemukan kediaman keluarga Tjong A Fie. Tampilannya yang kuno tampak mencolok di antara bangunan-bangunan modern ataupun bangunan yang telah diremajakan di kanan kiri depannya. Bangunan ini memadukan arsitektur cina, melayu, dan eropa.



Gerbang Tjong A Fie Mansion


Tjong A Fie mansion terbagi menjadi 3 bangunan utama, yaitu gedung bagian kiri, tengah, dan kanan. Gedung bagian kanan dan tengah terbuka bagi pengunjung, sedangkan gedung bagian kiri tertutup bagi wisatawan mengingat gedung ini masih dihuni oleh keluarga dan kerabat Tjong A Fie. Setelah membayar tiket masuk sebesar Rp 35.000/orang, aku melangkah masuk. Seorang guide menuntunku melalui gedung bagian kanan. Ruangan terasa sejuk karena tinggi plafond yang mencapai 6 meter dan ukuran jendela yang besar-besar. Di gedung bagian kanan terdapat banyak sekali foto keluarga besar Tjong A Fie.




Potret Tjong A Fie Bersama Istri, 7 Anak, dan Keponakannya


Kami kemudian memasuki gedung bagian tengah atau gedung utama. Gedung ini begitu besarnya, bayangkan saja terdapat 4 ruang tamu dengan gaya arsitektur yang berbeda-beda: ruang tamu bergaya oriental untuk menerima tamu dari dataran cina, ruang tamu bergaya melayu untuk menerima tamu lokal (kerabat Sultan Deli konon selalu diterima dalam ruangan ini), ruang tamu bergaya Eropa lengkap dengan ballroom untuk acara dansa, dan ruang tamu umum. Belum lagi 3 altar yang ada di dalam rumah ini. Di dalam rumah ini ada 35 ruang lho! Besar banget, kan...


Altar Leluhur (motret sampe ndlosor demi angle yang ok)

Sayangnya ada beberapa ruangan yang atas permintaan keluarga, tidak diperkenankan bagi pengunjung untuk dipotret, yaitu ruang foto dan kamar tidur pribadi Tjong A Fie. Sehingga dalam dua ruangan tersebut aku sengaja berlama-lama, terutama di kamar tidur pribadi Tjong A Fie. Di dalam kamar itu tersimpan dengan sangat apik barang-barang pribadi Tjong A Fie beserta istrinya, bahkan pakaian yang tersimpan di dalam lemari adalah pakaian yang biasa dipakai oleh Tjong A Fie. Aku bahkan sempat membaca sebuah buku berbahasa Belanda yang terletak di meja belajar Tjong A Fie. Ternyata Tjong A Fie gemar membaca. Hal ini bisa dilihat dari berbagai macam buku berbahasa Cina, Belanda, dan Indonesia di rak buku dan meja belajarnya.

Velangkanni Catolic Church

Ini dia gereja Katolik yang cantik dan tak tampak seperti gereja, melainkan tampak seperti sebuah kuil di India. Tak mengherankan karena Pastor di gereja ini adalah orang India. Gereja cantik nan unik ini terletak di pinggiran kota Medan, tepatnya di kawasan Tanjung Selamat.



Kecantikan gereja ini mengundang banyaknya pengunjung untuk berziarah ke tempat ini. Aku melangkah masuk dan menjumpai beberapa jemaat yang sedang berdoa di ruang ibadah. Aku mencuri-curi kesempatan untuk mengabadikan keelokan dan kemegahan interior dan arsitekturnya. Benar-benar cantik! Pada saat melangkah keluar ruang ibadah, baru aku sadari ternyata ada papan larangan untuk memotret.....oops :p

Bagian Dalam Gereja Katolik Maria Velangkanni

Dari Kaki Patung Bunda Maria Inilah Terpancar Mata Air Suci

Gereja ini pernah mengalami kebakaran yang hebat, namun sebuah keajaiban terjadi di mana hanya alkitab dan kas gereja yang tidak hangus sehingga gereja dapat didirikan kembali.

Keajaiban kedua yang terjadi di gereja ini adalah munculnya sumber mata air dari kaki patung Bunda Maria. Awalnya air yang mengalir itu dikira adalah kebocoran pada pipa air, namun setelah seluruh pipa diperiksa, tidak ditemukan kebocoran apapun. Air ini sempat diujicoba untuk mengetahui kelayakannya dan air ini dinyatakan layak untuk dikonsumsi tanpa harus dimasak sekalipun! Akupun mengambil kesempatan untuk mereguk kesegaran air ini. Hanya memberikan kontribusi sesuai kerelaan hati untuk mengganti ongkos pembuatan botol plastik berukuran 500 ml.

Monday, November 8, 2010

Icip Icip Kuliner Medan

Walau hanya 3 hari berada di Medan, bukan berarti aku melewatkan wisata kuliner selama di sana. Aku sengaja skip menu-menu hotel, kecuali pada saat sarapan dan lebih memilih menu khas kota Medan...lebih sip lagi karena ditraktir kepala kantor cabang hehehehe

Mie Ayam Kumango

Ini adalah menu yang pertama kali diperkenalkan oleh kepala kantor cabang Medan. Begitu pesawat yang aku tumpangi landing, kepala cabang langsung mengajakku menu sarapan pagi di depot mie Kumango. Konon Depot Mie ini sangat terkenal di Medan. Rasa penasaranku timbul, apalagi menu favoritku adalah mie.

Berbeda dengan mie ayam yang sering kali kujumpai, mie ayam kumango disajikan dengan pelengkap sayur kecambah dan sawi hijau, daging ayam juga disajikan dalam bentuk suwiran (tidak dalam potongan dadu seperti yang biasanya aku nikmati di Surabaya). Sang pramusaji kemudian menawarkan minuman spesial: juice terong belanda dan juice markisa.

Menurutku pribadi sih....mie ayam kumango tidak selezat yang digembor-gemborkan oleh kepala cabang Medan. Menurutku malah jauh lebih enak mie ayam di Surabaya. Tapi suasana depotnya yang sangat bersih dan nyaman membuat para penikmat mie ayam dan menu-menu pilihan selalu kembali ke Depot Mie Ayam Kumango.

Udang Gala dan Steam Bawal RM Bintang (Jalan Taruna)







Ini adalah menu makan siangku pada hari pertama berada di Medan. Sebenarnya managerku sudah meminta menu ini sejak sarapan, namun karena RM Bintang belum buka, akhirnya dialihkan ke jam makan siang.

Tak kusangka ikan bawal bisa dimasak seenak ini!
Ikan Bawal disteam dalam kuah asam dan irisan jahe. Ampun deh enaknya. Daging ikan terasa begitu lembut dan bumbunya begitu meresap. Aroma amis ikan pun tidak ada sama sekali. Aku benar-benar merekomendasikan menu ini untuk dicoba!

Tidak puas hanya dengan menu ikan, aku menambah menu udang gala dalam pilihan makan siangku kali itu. Udang ukuran besar digoreng kering dengan menggunakan mentega. Tidak perlu dijabarkan lagi nikmatnya ^_^

BPK (Babi Panggang Kering) Tesalonika

Rugi ke Medan kalau melewatkan makan BPK Tesalonika (bagi yang non Muslim). Depot BPK Tesalonika di Jalan .... terkesan biasa sekali, tapi jangan ditanya yang mampir untuk menikmati menu pilihan di depot tersebut. Menu khas suku Batak ditawarkan oleh depot ini, mulai BPK, saksang, arsik ikan mas, dll...hebatnya lagi menu tidak dijual per porsi tetapi minimal 1/4 kilo! Menyantap sepiring nasi dilengkapi sayur singkong, babi panggang kering, sambal hijau, dan teh botol sosro dingin....wuih, mantap!!!

Selain itu, jangan lupa beli oleh-oleh khas Medan:
1. Bolu gulung Meranti
2. Bika Ambon
3. Pepaya Medan