Monday, November 30, 2009

Bonek Naik Umum di Jakarta

Ada yang berbeda dengan kunjunganku ke Jakarta kali ini. Biasanya aku selalu ditemani supir sewaan, supir kantor, atau diantar kakak keliling Jakarta. Kali ini aku menghabiskan banyak waktuku dengan angkutan umum di Jakarta.

Karena cuaca hujan, pesawat yang kutumpangi delay. Seharusnya aku tiba saat hari masih sore, tapi akhirnya aku tiba di Jakarta pada saat jam menunjukkan waktu 9 malam. Untung saat itu, ada seorang teman yang menjemputku dan mengantarku ke daerah Kelapa Gading. Tol macet sekali, membuat badanku tambah penat dan kepala pening, apalagi aku langsung ke bandara dari kantor. Setelah 1,5 jam akhirnya sampai juga di Kelapa Gading. Pfftt...lalu lintas di Jakarta emang luar binasa!

Keesokan harinya sesuai jadwal, aku harus ke Ancol. Untuk pertama kalinya aku naik ojek. Katanya orang yang merekomendasikan ojek langganannya, si tukang ojek tuh orang Yogya. Aku merasa tenang saja karena orang Jawa Tengah yang aku kenal kebanyakan kalem-kalem...eh, ternyata dia nyetir seperti kesetanan...hahahaha sialan, pagi-pagi diajak kebut-kebutan! Seru, adrenalin dipacu pagi-pagi! Sampai tidak sempat menikmati pemandangan Danau Sunter yang kami lewati. Hanya butuh 10 menit dari Kelapa Gading ke Ancol...asoy geboy!

Setelah menghabiskan waktu sampai sore di Ancol, aku harus mengunjungi keluarga di Duren Sawit. Akhirnya aku naik busway untuk yang pertama kalinya. Aku suka naik busway karena kemungkinan untuk tersesat minim, relatif lebih aman dan nyaman...emh...murah pula. Penumpang busway sebelum pukul 8 pagi dikenakan tarif Rp 2.000/orang. Bila sudah melebihi pukul 8 pagi dikenai tarif Rp 3.500/orang. Cuma untuk naik busway, harus tahu rute yang harus diambil karena ada kemungkinan untuk transit bus. Kuncinya, berani bertanya dan jangan bertanya pada sembarang orang untuk mencegah terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan. Bertanya pada petugas berseragam akan jauh lebih aman dan tepat.

Setelah naik busway, aku naik metromini. Aku awalnya tidak tahu apa yang dimaksud metromini. Ternyata itu adalah mini bus berwarna oranye. Jauh berbeda dengan busway, metromini terkesan sangat tua, kotor, dan tidak terawat. Seluruh metromini di Jakarta berwarna oranye, yang membedakan adalah nomor lambung masing-masing metromini. Tarif yang dikenakan juga lebih murah dibanding busway, hanya Rp 2.000/orang. Hanya saja jika menaiki metromini selepas tengah malam akan dikenai tarif dobel, uang lembur begitu alasannya. Yang berkesan bagiku sewaktu naik metromini adalah supirnya. Wah, canggih abis nyetirnya! bisa berhenti 5 cm dari kendaraan di depannya. Buset, sport jantung rasanya duduk di depan! Serasa akan menabrak saja hehehehe (^_*)

Hari berikutnya aku mulai pede untuk menjelajah Jakarta dengan kendaraan umum, sudah mulai menjangkau daerah-daerah yang lebih jauh. Sudah mulai bisa membaca rute dan jenis angkutan yang harus diambil. Lumayanlah untuk pendatang baru yang nota bene cewe dan single fighter (^_^) Y

Saturday, November 21, 2009

Warung Sate H. Abud

Bagi para penggemar sate dan gule, ada tempat makan baru, nih! Namanya Warung Sate H Abud. Berlokasi di Jalan Gubernur Suryo 1B-C Surabaya (terletak di depan Plaza Tunjungan, diapit oleh Hotel Majapahit dan Hotel Natour Simpang). Tempat yang sangat strategis di tengah kota Surabaya.

Nama Abud sendiri diambil dari singkatan pemilik rumah makan ini. Sedangkan "H" adalah singkatan dari halal, hygine, dan haujek (halal, bersih, dan enak) ^_^

Untuk sebuah new comer (soft opening pada Sabtu, 21 November 2009), warung ini cukup berani menetapkan jam operasional, tidak tanggung-tanggung, rumah makan ini buka mulai pukul 11 siang sampai dengan pukul 4 pagi! Akhirnya ada rujukan tempat makan baru, nih, buatku yang sering merasa lapar di tengah malam...tidak perlu lagi mengandalkan 14045 hehehehe

Range menu yang ditawarkan tentu saja aneka macam sate (sate ayam, sate kambing), gulai kambing, rendang kambing, dll. Sedangkan untuk pilihan minuman tersedia beraneka juice.

Untuk yang ingin berhemat, ada kabar baik....selama November 2009 seluruh menu makanan diberi diskon 20%. Ayo buruan ke Sate H. Abud!



Friday, November 20, 2009

Kissing the Frog

Mungkin sebagian besar dari kita pernah mendengar dongeng tentang Pangeran Katak. Di dalam cerita itu, sang pangeran mendapat sebuah kutukan menjadi seekor katak. Kutukan itu baru akan berakhir dan ia akan kembali menjelma menjadi seorang pangeran bilamana si katak mendapat ciuman dari seorang puteri.

Pernah mencium katak?
Aku belum...membayangkannya saja sudah membuatku begidik, aku membayangkan permukaan yang dingin dan berlendir. Tapi kali ini aku ingin mengajak para pembaca blog-ku untuk mencium katak, bukan secara harafiah tentunya hehehe...

Begini...umpamakan kamu dikelilingi oleh orang-orang yang jiwa/hatinya terluka. Bisa jadi orang itu adalah orang yang merasa rendah diri, orang yang terus menerus menyalahkan dirinya atas sesuatu, atau bisa juga orang yang merasa tersisih/keberadaannya tidak diinginkan oleh lingkungan sekitarnya. Bayangkan seseorang itu sebagai "katak".

Sebenarnya rasa rendah diri, tersisih, tertolak, atau merasa bersalah adalah suatu frame atau gambaran yang salah yang diciptakan oleh orang-orang yang berada di kehidupan "si katak".
Seseorang yang rendah diri biasanya berawal dari hinaan demi hinaan yang dia terima, yang kemudian terpatri dalam hatinya, dan parahnya lagi dia mempercayai hinaan itu. Misalnya, si A terus menerus dihina bodoh, akhirnya dia percaya kalau dia itu bodoh. Padahal seharusnya dia mendapatkan motivasi untuk belajar dan keluar dari "zona kebodohannya".

Sebuah pribadi adalah layaknya sebuah benih tanaman. Jika benih mendapat asupan zat gizi yang baik dari tanah, mendapat hangatnya sinar matahari, maka benih tersebut akan tumbuh dan pada saatnya mekar. Tapi jika benih itu berada di dalam tanah yang terlapisi salju, maka dia tidak dapat berkembang. Sama seperti itu, jika suatu pribadi berada di dalam suatu kondisi yang membuat dia merasa tertekan, maka pribadi itu tidak akan berkembang.

Peranmu adalah sebagai "sang puteri yang mencium katak sehingga katak menjelma menjadi sang pangeran". Menerima dan memberi kasihmu kepada orang-orang itu sehingga mereka dapat keluar dari zona mereka dan merespon kasih yang mereka terima. Bukan pekerjaan yang mudah memang, tapi bukan berarti tidak bisa dilakukan. Gbu :)

Thursday, November 19, 2009

Aku Bangga Sebagai Perempuan


Jadi perempuan ribet...

Apalagi kalau berperan ganda: Istri, ibu, & wanita karier

Harus cerdas, berani, tangguh, dan cekatan

Tapi pada saat yang sama tampil cantik

Harus lembut dan penuh kasih

Harus menjadi panutan

Harus bisa membagi perhatian dan waktu

Harus hormat, tunduk, dan patuh

Walau menjadi tulang punggung

Harus bisa jadi penyemangat

Semua dilakukan sekaligus

Hebat!

Aku bangga diciptakan sebagai seorang perempuan :D

Wednesday, November 18, 2009

Perfecto!


Akhir-akhir ini aku mendapat tawaran bertubi-tubi untuk beberapa jenis produk pemutih kulit sekaligus. Mulai dari yang berbentuk lotion, masker, garam mandi, sabun mandi, sampai suplemen pemutih kulit. Seakan-akan para sales dan produsen produk tersebut sudah mengadakan perjanjian untuk barengan menawarkan produk pemutih kulit kepadaku. Tawaran yang menarik memang. Ada yang berani menjamin dalam 1 bulan dapat memutihkan kulit menjadi 5 tingkat lebih terang dari kulitku sekarang.

Hmmm....

Aku berpikir apa ada yang salah dengan warna kulitku? Kulitku tidak hitam, tapi juga tidak putih. Banyak orang mengatakan aku seperti orang India, tak jarang juga orang mengatakan aku seperti latina. I'm trully Indonesia and I'm proud of it. Berbeda dengan sebagian besar wanita Indonesia yang menginginkan dan menyukai kulit berwarna putih, aku sangat menyukai warna kulitku. Menurutku sangat eksotis...narsis.com deh. Aku tidak ingin mengubah warna kulitku. Orang-orang di belahan dunia barat berlomba-lomba untuk bisa memiliki warna kulit seperti kulitku, mengapa aku harus mengubahnya?

Sebut saja Michael Jackson yang warna kulitnya berubah menjadi putih (terlepas dari pengakuannya mengidap Vitiligo atau memang disengaja), aku lebih suka sewaktu dia masih berkulit gelap. Dia manis sekali dengan senyumnya. Begitu dia menjalani operasi plastik untuk hidung, tulang pipi, dan dagunya-yang dia anggap bisa membuatnya tampil lebih menarik...emh...menurutku dia justru tampak lebih mengerikan.

Aku bersyukur dengan apa yang ada padaku. Menurutku ini sudah yang paling pas denganku. Belum tentu kalau kulitku putih, aku memiliki nilai kepuasan yang sama seperti sekarang. Aku yakin dan percaya bahwa Tuhan adalah artis yang agung dan luar biasa, karya-karyaNya selalu unik dan menarik. Penilaian cantik, tampan, jelek adalah cap yang diberikan oleh manusia...tapi sesungguhnya masing-masing ciptaan adalah baik adanya, sempurna di mata Sang Artis Agung. Perfecto!

Monday, November 16, 2009

Piring Suroboyo

Akhirnya aku menemukan tempat kabur baru di dekat kantor jika aku merasa bosan atau kurang cocok dengan menu catering harianku. Tempatnya hanya berjarak 5 menit dari kantor bila ditempuh dengan kendaraan, jadi tidak memakan waktu banyak untuk pergi-pulang ke sana. Cocok dengan durasi jam makan siang yang hanya 1 jam. Piring Suroboyo, itu namanya. Depot ini berada satu lokasi dengan Giant Hypermarket di Jalan Rajawali - Surabaya. Tempat ini pertama kali diperkenalkan oleh 2 orang sahabat baikku: Starlight dan Nit2x.

Yang aku suka dari depot ini adalah nuansa hijau yang sangat dominan....hehehehe maklumlah aku kan pecinta warna hijau. Mulai dari dinding, wall paper, sofa, name tag, daftar menu, piranti makan, bahkan tissue...semuanya berwarna hijau. Aku langsung sreg, selain lay out ruang yang rapi dan kebersihan yang terjaga. Tempat yang cozy dengan musik yang mengalun lembut. Sungguh awal yang baik.

Sebagaimana layaknya sebuah pujasera spesialisasi makanan Indonesia, pilihan menu di Piring Suroboyo cukup variatif, mulai dari Tahu Campur Kalasan sampai Bakso Pak Kus Petra.
Berhubung Tahu Campur yang kuinginkan sudah habis, Starlight dan aku memilih menu Lontong Mie dan tentu saja tidak ketinggalan minuman favoritku Teh Botol Sosro :D
Sedangkan Nit2x memilih menu nasi kikil.

Setelah menu kami selesai menyantap menu yang kami pesan, kami bertiga beranjak menuju kasir. Ternyata harganya bersahabat. Bertambah satu lagi alasan untuk kembali ke tempat ini.

Sambil melangkahkan kaki beranjak dari Piring Suroboyo, para waiter dan waitress mengiringi dengan senyum dan ucapan terima kasih, sama ramahnya pada saat kedatangan kami. Nice :)

I'll surely be back to Piring Suroboyo.

Hari Hari Terakhir

Apa yang akan kamu lakukan seandainya kamu tahu kapan kamu akan mati?

Seandainya pertanyaan itu ditujukan kepadaku, maka aku akan menjawab kalau aku akan menjalani sisa hidup yang ada dengan sebaik-baiknya, menikmati setiap detik yang ada dengan orang-orang yang kukasihi.

Sayangnya, tidak ada satupun manusia yang tahu kapan dia akan mati. Sekalipun peramal yang paling hebat. Itu adalah rahasia yang Tuhan pegang.

Pertanyaan tadi membuatku selalu berpikir ulang dalam mengisi hidupku. Apakah aku sudah melakukan yang terbaik hari ini? Apakah aku sudah menyenangkan orang-orang di sekitarku atau malah sebaliknya? Apakah aku terpuruk dalam kesedihan, kepahitan, dan kebencian? Atau aku membagi kebahagiaan, kedamaian, dan kasih?

Tiap detik adalah anugerah. Aku bisa saja mati sedetik mendatang. Kematian bukan sesuatu momok, tapi bukan juga sebuah alasan untuk merengkuh kesenangan dunia tanpa mengingat mata Tuhan tertuju padaku. Aku coba lakukan yang terbaik yang aku bisa.

Aku tidak tahu kapan aku mati. Biarlah hidupku yang tersisa dan nafas yang masih dipercayakan kepadaku dapat aku pertanggungjawabkan nantinya. Hingga pada saatnya nanti Tuhan memanggilku, Dia menyambutku dengan senyuman dan rengkuhan hangat sambil berkata,"marilah anakku yang Kukasihi, mari tinggal bersamaKu."

Saturday, November 14, 2009

Tetes Darahku Untukmu


Salah satu kegiatan sosial yang rutin aku ikuti adalah donor darah. Mulai turut berpartisipasi dalam kegiatan ini sejak April 2007. Sebelumnya tidak pernah terlintas di kepalaku untuk menjadi seorang pendonor darah rutin seperti adanya aku sekarang. Tapi suatu kejadian mengubah opiniku akan hal itu.

Hmmm...kejadiannya bermula pada saat salah seorang teman mama menelepon ke rumah. Saat itu masih pagi-pagi buta. Dia minta tolong jika ada orang di rumahku yang memiliki golongan darah yang sama dengan anaknya. Anaknya menderita Leukimia dan harus selalu menjalani transfusi darah karena belum ada sum-sum tulang belakang yang cocok untuk anaknya. Golongan darah anak ini tergolong langka di Indonesia: AB- sedangkan kebanyakan golongan darah di AB di Indonesia adalah AB+
Golongan darah AB- akan lebih mudah ditemukan di belahan dunia bagian barat.

Melihat kejadian itu, membuatku sadar bahwa aku bisa saja menolong orang yang kebetulan membutuhkan darah. Bisa jadi orang itu adalah teman, keluarga, atau bahkan seseorang yang tidak aku kenal sama sekali. Itu bukan hal yang penting bagiku. Yang penting adalah, aku bisa melalukan sesuatu untuk menolong dari apa yang aku punya, dalam hal ini adalah darahku.

Pertama kali menjalani proses donor, sempat merasa ketakutan melihat peralatan jarum, kantung darah, dsb. Tapi ternyata prosesnya tidak semengerikan yang aku bayangkan. Semuanya berjalan dengan smooth dan aku tetap dapat menjalankan aktivitasku seperti biasanya.

Memang sebelum mendonorkan darah, harus ada beberapa persiapan yang dilakukan. Pertama dan so pasti adalah persiapan mental. Kedua adalah persiapan fisik. Tekanan darah rendah, HB rendah, kondisi sakit, wanita yang sedang haid/hamil/menyusui dilarang keras mendonorkan darahnya. Juga jangan melakukan kegiatan yang menguras tenaga sebelum mendonorkan darah.

Biasanya seminggu sebelum mendonorkan darah, aku rutin mengkonsumsi vitamin & mineral penambah darah juga makan makanan sehat. Ini penting supaya kondisi tubuh tetap fit.

Buat teman-teman yang masih takut untuk mendonorkan darah...ayo, ga sakit, kok. Dan lebih lagi kita bisa menolong orang lain, dapat pahala, lho :)

Thursday, November 12, 2009

Wanita Tangguh

Jujur, aku kurang menyukai kegiatan menjenguk orang sakit serius atau parah, entah itu di kediamannya terlebih lagi di rumah sakit karena aku sering merasa sedih melihat semangat mereka yang memudar seiring dengan penyakit yang mereka derita. Penyakit mengalahkan mental sehingga kondisi semakin memburuk.

Tapi Inong sungguh berbeda. Dia adalah salah satu wanita yang aku kagumi karena ketangguhannya. Dia sudah menjanda sejak anak-anaknya masih berumur 9, 5, dan 4 tahun. Inong harus membesarkan ketiga anaknya seorang diri. Suaminya meninggal karena serangan jantung tepat pada tahun baru.

Wanita paruh baya ini divonis kanker paru stadium 4 pada Agustus 2008 dan dokter memprediksikan hidupnya tidak akan lebih dari 3 minggu lagi. Hasil foto menunjukkan paru-paru kirinya sudah berwarna putih, artinya dipenuhi sel kanker dan sel itu mulai menggerogoti paru-paru bagian kanan bawah. Padahal sebelumnya dia rutin mengontrol kesehatannya, terlebih setelah dia beberapa kali mengalami kesulitan untuk bernafas. Diagnosa dokter pada saat itu adalah Inong menderita sakit jantung.

Begitu mendengar bahwa Inong menderita kanker paru, anak Inong yang berdomisili di Jakarta mengajaknya untuk berobat di sana. Maka Inong mulai menjalani proses kemoterapi dan radioterapi. Rambutnya menjadi rontok...gundul dan kulitnya mengalami iritasi. Belum lagi rasa sakit yang diderita Inong setiap menjalani kemoterapi. Inong bercerita padaku bahwa kemoterapi membuatnya merasa nyeri yang amat sangat dan mual. Belum lagi berbagai macam suntikan dan selang oksigen juga infus yang terpasang di tubuhnya. Hatiku miris setiap melihat foto-foto yang ditunjukkan oleh anaknya.

Satu hal yang selalu ditunjukkan Inong walaupun rasa sakit mendera tubuhnya: dia tidak patah semangat. Inong selalu berkata: hidup mati bukan di tangan dokter, tapi di tangan Tuhan. Jika Tuhan masih memberikannya nafas, pantang baginya untuk jadi patah arang. Dia harus tetap berkarya, menghargai setiap hari baru yang diberi Tuhan walaupun mungkin terbatas oleh tenaga. Dia juga selalu berpesan agar selalu menyerahkan diri sepenuhnya kepada Tuhan karena Dia yang memegang hidup.
Oleh rumah sakit tempat Inong dirawat, dia dijadikan motivator bagi pasien lain.

Sekarang, November 2009...Inong masih hidup dan berkarya. Tuhan memberikan Inong perpanjangan hidup, bahkan memberikan kesempatan baginya untuk menantikan kelahiran cucunya yang ke-7 :)

Pay It Forward


Kebaikan yang kamu perbuat akan selalu kembali kepadamu...ini adalah suatu quote yang benar adanya.

Pada suatu hari aku naik bemo menuju kantor. Bemo itu melaju lambat, udara di dalam bemo semakin terasa panas karena tidak ada angin yang berhembus. Salah satu kebiasaanku bila berada di dalam kendaraan umum, entah itu bis, bemo, KA, atau pesawat sekalipun adalah memperhatikan orang-orang yang berada di sekitarku.

Waktu itu ada seorang gadis duduk di berhadapan denganku. Dia terlihat bingung. Sesekali dia menoleh ke kanan dan kiri, sambil tangannya memilin-milin kertas yang ada di genggaman tangannya. Entah kertas apa itu, aku tidak bisa melihat dengan jelas. Orang-orang lain hanya cuek saja. Ada yang menatap keluar jendela kendaraan, ada yang menghisap rokok, ada yang pura-pura menunduk, dan sebagainya.

Akhirnya pandangan kami bertemu. Masih terlihat bingung dan ragu, tapi akhirnya dia bertanya padaku,"Mbak, ada pecahan 20rban 2 lembar dan 10rban 1 lembar? Tolong tukar, mbak."

Oh, jadi itu yang membuatnya bingung...dia hendak membayar bemo tapi uang yang dia punya 50rban. Pasti kena damprat, tuh, dari supir bemo. Lha, setiap penumpang hanya harus membayar Rp 3.000,-

Aku ingat di dompetku tidak ada uang pecahan yang dia minta.

"Aku ga ada, mbak. Ga sampai segitu yang ada di dompet. Gini aja, mbak aku bayari saja."

"Wah, jangan. Aku pake uang ini aja," katanya sambil menunjukkan uang yang ada di genggamannya.

"Gapapa, mbak. Entar mbak malah dimarahi ama supir bemo karena dianggap ga niat mbayar."

Singkat cerita, bemo itu melintas di depan kantorku dan aku meminta supir untuk menepikan kendaraan.

"Pak, ini sekalian sama mbak yang baju biru itu," kataku pada supir bemo.

"Terima kasih, mbak." kata gadis itu dari dalam bemo.

Hari demi hari berlalu. Aku sudah kembali dalam rutinitas keseharianku.

Kira-kira seminggu setelah kejadian itu, aku kembali berdiri di pinggir jalan menanti bemo menuju kantor. Kendaraan berlalu lalang melintas di depanku. Bemo yang aku tunggu tidak kunjung lewat. Aku bolak-balik melirik jam tanganku. Aku tidak suka datang terlambat, kecuali ada sesuatu yang lebih penting untuk aku kerjakan. Tiba-tiba seorang gadis berkendara sepeda motor berhenti di depanku. Aku sadar gadis itu tadi sudah melintas di depanku tapi lalu memutar haluan dan berhenti di depanku.

"Ayo, mbak, bareng saya," ajak gadis itu.

Siapa orang ini tanyaku dalam hati? Apa dia ga salah kenal orang?

"Ayo, mbak, dulu kan mbak sudah tolong aku."

"Tolong apa ya?"

"Itu lho, mbak...mbak sudah tolong bayarkan bemo."

Oh, ya ampun...aku sudah lupa kejadian itu. Aku bahkan sudah tidak ingat wajah gadis itu. Tapi ternyata gadis itu masih ingat. Dan akhirnya dia mengantarku ke kantor. Bonus untukku: mendapat seorang teman baru :D

Kadang kita tidak sadar bahwa perbuatan kita kepada orang lain meninggalkan bekas yang mendalam bagi orang itu. Kehidupan selalu berputar, ada saatnya kita jadi penolong dan ada saatnya kita yang membutuhkan pertolongan. Lakukan yang terbaik, who knows it will return to you someday.

Saturday, November 7, 2009

Kisah Koper

Tidak seperti kebanyakan perempuan yang selalu membawa koper raksasa berisi banyak perkakas pada saat berpergian, aku lebih suka berpergian dengan ransel. Tidak perlu bagasi, tidak perlu ditarik-tarik...just plain simple and compact.

Aku ingat sewaktu bersama beberapa teman berwisata ke Singapura...kami berangkat bertujuh, 5 perempuan dan dua laki-laki. Kami berkumpul di bandara Juanda. Rumahku hanya 15 menit dari bandara, tapi justru aku yang paling lambat datang. Teman-teman kaget melihatku datang hanya dengan membawa ransel. Aku sendiri shock melihat barang bawaan mereka yang seperti pindah rumah...sampai over limit bagasi...isi apa tuh koper yach? Pakaian 1 lemari? Buset bujubuneng! Padahal kami berencana di Singapura hanya selama 4 hari. Benar-benar ga habis pikir.

Pernah sih, aku mencoba pergi dengan membawa koper. Koper yang kupunya berukuran kecil, tapi yang terisi hanya setengahnya. Maklum, memang sudah dari sononya suka yang praktis pada saat berpergian. Supaya kelihatan keren, iseng-iseng aku coba menitipkan koperku di bagasi pesawat.

Begitu turun dari pesawat, berjalanlah aku untuk mengambil koperku. Aku lihat wajah-wajah orang yang sepesawat denganku sudah mulai mengambil koper mereka masing-masing.
Kok, koperku belum nongol-nongol yach?
Jumlah koper yang berputar di reel sudah semakin sedikit. Aku mulai bete...apa koperku hilang? Great....baru sekali bawa koper, hilang pula.
Teman-teman seperjalananku mulai mendekatiku dan menanyakan keberadaan koperku. Aku mulai melirik ke counter "Lost and Found", tapi masih coba bersabar menanti munculnya koperku.

Sudah 30 menit menanti. Hanya ada 4 barang yang melintas di reel: 1 dos mie instan yang diikat dengan tali rafia, 2 koper warna hitam, dan 1 koper penyok warna biru donker. Apa tidak ada koper lain yang akan dikeluarkan dari bagasi?
Koperku benernya warna apa sih? Aku hanya ingat warna gembok yang kupasang di koper.
Andai aku bawa ransel saja tadi, pikirku.
"Coba cek labelmu," kata teman seperjalananku.
Oh iya, kenapa ga kepikiran dari tadi ya?
Segera aku memeriksa labelku dan mencocokkan dengan koper-koper yang melintas di depanku.
Ooohhh ternyata koperku yang penyok itu.
Dasar katrok!
Koper sendiri ga tau...lain kali pake ransel saja lagi atau beli koper yang warnyanya norak, biar mudah dikenali, janjiku dalam hati.

Friday, November 6, 2009

Getaran Lucu

Ada pertanyaan yang akhir-akhir ini terus berkecamuk di kepalaku. Aku nggak ngerti kenapa tiba-tiba pertanyaan ini terus menggema dalam kepalaku. Rasanya ga masuk akal aja.
Aku heran kenapa pada saat PDKT kita dapat merasakan getaran-getaran lucu dan menggemaskan di pipi dan perut kita jika kita mendapatkan respon dari orang yang kita sukai. Tapi pada saat orang yang kita incar telah menjadi milik kita...dalam hal ini menjadi pacar atau bahkan menjadi pasangan hidup...kenapa justru getaran lucu itu hilang? Apa yang terjadi?

Terus terang, aku suka merasakan getaran lucu itu. Aku suka merasakan rasa hangat menjalar di pipiku. Pada saat yang sama seakan ada puluhan kupu-kupu terbang di dalam perutku. Aku sangat menyukai getaran lucu itu...getaran yang juga muncul misalnya pada saat orang yang aku sukai menatap mataku atau kami secara tidak sengaja bersentuhan...rasanya heboh sekali, begitu....begitu...WOW!

Getaran lucu itu membawa efek lain...mata menjadi bercahaya dan bibir mengulas senyum.
Aku ingin getaran itu tetap ada, pada masa pacaran, pada masa menikah...
Apa karena getaran lucu itu hilang, maka terjadi kejemuan dalam menjalin hubungan sehingga terjadi perselingkuhan? Kemana getaran lucu itu pergi?
Jangan pergi, aku ingin kamu selalu ada...

Dasar Lidah Indo! (2)


Lanjut artikel sebelumnya...

Begitu melihat Genting Highlands, aku langsung menyimpulkan kalau aku dan teman-teman akan betah berada di tempat ini. Udaranya sejuk dan hotel yang mempunyai konsep yang sangat berbeda. Jika hampir seluruh hotel di Indonesia selalu berkonsep bisnis, natural, atau modern...hotel tempat kami menginap penuh dengan wahana indoor yang sangat menarik. Mulai dari mengarungi perahu ala di Venesia, Museum Ripley's, aneka macam merchant, games, dan resto, juga tempat berjudi.Keren abis! Jadi menyesal hanya menghabiskan semalam di sana. Belum puas untuk mencoba seluruh permainan yang ada di sana.

Walaupun begitu terkagum-kagum dengan suasana hotel yang ala pasar malam, tetap saja aku terbentur kendala perut. Tidak ada depot masakan Indonesia di tempat ini! Jadi aku berusaha melupakan laparku dengan berpusing-pusing (berkeliling).
Ah....ada American Grill, aku selamat!
Maka antrilah kami memesan makanan untuk kami makan di kamar.

Singkat cerita, akhirnya kami bertiga kembali ke kamar. Kamipun mulai makan dengan view Genting Highlands di waktu malam dari kaca jendala kamar kami yang mengembun. Cuaca dingin membuatku semakin lapar. Segera aku suap mulutku dengan paket nasi American Grill. Huex...s**t! Arrggghhh...ternyata nasinya sama saja. Kenapa sih ga ada nasi putih plain di sini? Akhirnya aku tidur dengan hanya dengan sepotong ayam mengganjal di perut hiks hiks...
Terbayang di kepala enaknya makan nasi putih mengepul dengan lauk gorengan plus sayur...
Pengen cepat pulang ke Indonesia...makanan di sini bikin bete!

Thursday, November 5, 2009

Dasar Lidah Indo!


Walaupun hobby travelling, aku selalu dihadapkan pada satu kendala: makanan. Susah memang punya perut yang sensitif dan lidah yang terlalu cinta masakan Indonesia.

Pertama kali aku ke luar negeri adalah ke Malaysia. Kali pertama menginjakkan kaki di KL Central-Malaysia, aku langsung mencari food court. Perutku sudah tidak bisa diajak kompromi setelah 3 jam duduk manis di dalam pesawat. Mataku berbinar-binar melihat food court...rasanya tempat itu bersinar terang menyambutku...extrimnya begitu karena perutku lapar sekali hehehe...
Kupercepat langkah kakiku menuju "surga", perutku ikut bernyanyi riang, kerongkonganku sudah bisa merasakan makanan yang aku bayangkan. Begitu memasuki gerbang food court, beraneka ragam aroma makanan menyambutku.

Berbeda dengan di Indonesia, penjaja food court di sini aktif menghampiri dan menawarkan menu-menu spesial mereka. Masakan India, Dim Sum, Cina, Nasi Lemak, dll...tidak ada yang familiar, pikirku sedih.

Naga di perutku sudah semakin marah, cakarnya menggaruk-garuk lambungku. Aku masih celingak-celinguk menetapkan menu yang akan kupilih, sementara kedua temanku sudah mulai menikmati Dim Sum dan Nasi Lemak.

Yippie!!! Ada stand Nasi Padang :D
Dengan riang gembira aku memesan menu lalu bergabung dengan kedua temanku.
Mereka hanya cengir-cengir melihat pilihanku.

"Kamu itu sudah jauh-jauh ke negeri orang, kok makannya nasi padang."
"Lha ga ada yang cocok," kataku sambil menyuap nasi ke dalam mulutku.
Sontak raut mukaku berubah.
Huex...apa ini? Nasi kok rasa jamu?
Kupandangi lagi nasi padang yang aku beli tadi. Kuhirup aromanya. Iya, bener, aroma jamu. Ternyata nasi putih di Malaysia diberi bumbu ala India, entah apa namanya, aku tidak ingin tahu....rasanya seperti perpaduan antara pahit dan asin. Sungguh tidak enak. Selera makanku seketika itu juga berantakan, nagaku ngambek.
Tidak kusangka, aku jauh-jauh ke Malaysia hanya untuk kelaparan...

Aku Mau Cinta Seperti Itu...


Aku punya kebiasaan baru. Aku suka nongkrong di depan gang menuju rumahku. Tempat ini sepi, tidak ada kendaraan yang bisa lewat karena terhalang portal. Aku suka duduk di atas portal tiap akhir pekan. Memperhatikan orang-orang yang lalu lalang di jalan raya. Sebenarnya aku hanya menunggu 2 orang spesial untuk lewat di depanku. Aku tidak kenal mereka dan mereka juga tidak mengenalku, tapi aku suka memperhatikan mereka. Mereka pasangan manula yang rutin jalan pagi. Langkah mereka lambat, mungkin karena faktor usia, mungkin juga karena mereka menikmati kebersamaan mereka. Mereka selalu berjalan pagi bersama, bergandengan tangan…sambil bercerita dan berkomentar mengenai keadaan sekitar atau mengenai cucu mereka. Aku menyebut mereka “opa oma mesra” hehehe….julukan yang agak aneh sih untuk usia mereka yang aku kira sudah dikisaran 70 tahun ke atas. Aku sangat menikmati kebersamaan mereka, cara mereka bergandengan tangan, cara mereka menatap pasangan mereka dengan cinta…bahkan aku yang tidak mengenal mereka saja bisa dengan jelas melihat itu. Aku suka melihat si oma mesra kadang-kadang menyeka keringat opa mesra, lalu opa mesra menatap dengan cinta dan terima kasih. Wuih, indah sekali cinta mereka. Aku mau cinta seperti itu. Aku mau cinta yang tetap bertahan melalui waktu dan usia. Di tengah zaman yang banyak sekali perceraian seperti sekarang…sungguh indah bisa melihat cinta yang bisa tetap bertahan seperti cinta opa oma mesra itu. Cinta mereka selalu membuatku tersenyum, hatiku jadi hangat…sungguh indah.

Wednesday, November 4, 2009

Arti seorang sahabat


Teman-teman kuliah dan rekan kerja kantor beberapa kali bertanya kenapa aku bisa mendapatkan sahabat dari dunia maya yang baik padaku. Sebut saja salah satu sahabat dunia mayaku bernama Santosh. Kami sudah berteman selama kurang lebih 2 tahun. Dia adalah seorang warga negara India yang mengadu nasib di Dubai, UEA.

Aku balik bertanya kepada teman-temanku kenapa mereka bisa mengatakan kalau Santosh adalah orang yang baik. Mereka menjawab dengan entengnya," ya... karena dia sudah mengirimkan kamu kain sari yang sangat indah."

Omg, apa karena seorang teman dari dunia maya memberikan suatu hadiah, lalu mereka dicap sebagai seorang teman yang baik?

Aku ingat pada saat kiriman paket kain sari itu aku terima...aku ga percaya kalau Santosh ternyata benar-benar mengirimkan kain sari untukku. Sebuah hadiah yang sangat indah. Tanganku sampai gemetar waktu menyentuh halusnya kain itu. Indah sekali dengan rajutan warna merah dan emas yang sangat rapi. Melebihi bayanganku indahnya kain itu. Teman-temanku sampai ikut berdecak kagum dan mereka semua bertanya sihir apa yang aku pakai sampai bisa mendapatkan orang sebaik Santosh.

Karena begitu indahnya kain itu, aku jadi berhati-hati memilih penjahit. Setelah mendapatkan referensi yang aku anggap tepat, berangkatlah aku ke penjahit itu. Begitu aku menunjukkan kain yang ingin kujadikan gaun, penjahit itu bersorak kagum. Buset, aku sendiri sampai kaget! Dia bilang kalau kain itu mahal sekali harganya. Iseng-iseng aku bertanya nominal kain itu dan dia menyebutkan harga yang fantastis. Aku jadi bengong. Kain itu bisa beli 1 sepeda motor, lebih malah...aku urungkan niatku untuk menjahit kain itu menjadi sebuah gaun.

Sontak langsung aku menghubungi Santosh.
"Are you out of your mind, Santosh? This is such an luxury cloth," kalimat itu meluncur dariku.
"No, dear...this is how I value our friendship," jawab Santosh.
"But I never expect this."
"True...but your kindness, attention, care, love, the way you talk to me, your understanding, courage, acceptance...dear, you should have more than that cloth. You're my friend, my indeed friend although we never met."

Aku bukannya ingin mengclaim diriku sendiri sebagai seorang sahabat yang baik hanya karena Santosh mengatakan itu padaku. Aku hanya ingin menekankanarti seorang sahabat. Seorang sahabat yang baik bukan karena dia telah memberikan kita sesuatu yang mahal, indah...tapi lebih dari itu. Seorang sahabat adalah orang yang hadir, menerima, mengerti akan sahabatnya. Itu lebih mahal dari hadiah apapun. Bisa saja orang memiliki seluruh harta di dunia, tapi pada saat yang sama dia merasa kesepian. Alangkah indahnya kalau hidup kita kaya akan sahabat yang mau hadir, menerima kita apa adanya, mengerti, mencintai kita. Jika Anda dikelilingi oleh sahabat-sahabat sejati, sadarilah betapa kayanya Anda.

Pemberi Semangat

Vertigo, sudah sejak di bangku SMP aku mengenal penyakit yang satu ini. Pada saat penyakit ini menyapa, dunia di sekitarku terasa berputar-putar...aku seperti berdiri di atas jelly. Begitu menyiksanya sampai-sampai aku tidak berani menggerakkan kepalaku, bahkan untuk menggerakkan bola mataku...hanya bisa terbaring lemah dan mengandalkan bantuan orang lain. Biasanya penyakit ini hanya datang 2-3 kali dalam setahun, itupun kalau aku terlalu lelah beraktivitas atau terlalu lama memandangi layar komputer atau televisi.

Tapi sebulan lalu penyakit ini menghantamku 3 kali dalam seminggu. Sesuatu yang extrim menurutku. Jadi aku memutuskan untuk memeriksakan diri ke dokter saraf sepulang dari kerja. Waktu diperiksa, aku disuruh melakukan beberapa gerakan untuk menguji keseimbangan tubuhku...hampir saja aku terjatuh. Setelah melakukan gerakan-gerakan sederhana, akhirnya aku disuruh berbaring sambil ditanyai 1001 pertanyaan yang menurutku sepele tapi ternyata malah mengantarkan si dokter ke 2 kesimpulan penyakit yang mungkin menyebabkan vertigoku kambuh begitu seringnya. Pertama, karena ada saraf ke otak yang menciut. Kemungkinan kedua, ada tumor di otakku. Walau belum pasti adanya, seperti disambar petir sewaktu mendengar diagnosa itu.

Meskipun nampak kuat, tenang, tegar...di dalam rasanya berkecamuk macam-macam. Pengen curhat, tapi tidak tahu pada siapa. Aku masih muda, masih 31 tahun...masih banyak yang ingin aku lakukan dan aku raih...sempat tidak terima diclaim seperti itu, tapi juga belum bisa cerita ke siapapun karena aku tidak ingin dikasihani. Akhirnya aku pendam aja, rahasia untuk aku sendiri.

Suatu saat, vertigo itu datang lagi. Menghantamku 2x dalam seminggu, padahal aku masih dalam masa pengobatan. Jadi teringat kata-kata dokter itu lagi. Aku sedang tidak ingin sendiri. Aku putuskan untuk ngomong pada seorang yang aku kenal dari suatu wadah persahabatan maya. "Tetap semangat jalani hidup" hanya kalimat singkat dan sederhana itu yang dia tuliskan (via YM), tapi anehnya kalimat itu benar-benar membuatku bangkit dari keterpurukanku. Aku jadi tegar. Jadi sadar dan melihat hidup dari sisi yang berbeda. Sakit bukan halangan bagi seseorang untuk berkarya dan meraih cita-cita....semua kembali ke motivasi diri. Semangat hidup.

Terima kasih, akang :)

Kudedikasikan untuk: Akang Yudistira (Nagashima-Jepang)